Basah-basahan Sambut Ramadan di Gebyuran Bustaman Semarang

Basah-basahan Sambut Ramadan di Gebyuran Bustaman Semarang

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Minggu, 15 Feb 2026 18:05 WIB
Puluhan warga memeriahkan tradisi Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman, Kota Semarang, Minggu (15/2/2026), untuk menyambut Ramadan.
Tradisi Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan, Kota Semarang, Minggu (15/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Acara Gebyuran Bustaman kembali digelar di Kampung Bustaman, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Puluhan warga ikut memeriahkan tradisi yang digelar untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Pantauan detikJateng, puluhan orang sudah bersiap di Kampung Bustaman sejak pukul 15.00 WIB tadi. Acara Gebyuran Bustaman diawali dengan Tari Kreasi Bustaman.

Warga setempat sudah menyiapkan plastik berisi air warna-warni di depan rumah. Wajah mereka juga dicoret-coret menggunakan cat air.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tradisi Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan, Kota Semarang, Minggu (15/2/2026).Tradisi Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan, Kota Semarang, Minggu (15/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Gebyuran baru dimulai sekitar pukul 16.40 WIB. Usai air dalam kendi diguyur, warga langsung antusias saling melempar plastik berisi air warna-warni di gang sempit di perkampungan Bustaman.

"Saya kaget kok tiba-tiba dicoret, ternyata itu memiliki filosofi seperti dosa, kita itu memiliki dosa dan gebyuran itu membersihkan dosa," kata salah satu warga, Ronggo (26) kepada detikJateng di lokasi, Minggu (15/2/2026).

ADVERTISEMENT

Warga asli Tamabakrejo itu pun sudah bersiap dengan mengenakan sandal dan membawa plastik untuk mengamankan ponselnya. Ini kali ketiga Ronggo mengikuti Gebyuran Bustaman.

Tradisi Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan, Kota Semarang, Minggu (15/2/2026).Tradisi Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan, Kota Semarang, Minggu (15/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

"Ini kali ketiga saya ikut Gebyuran Bustaman. Menurut saya ini sangat meriah apalagi awalnya anak-anak dimandikan terus kita tawuran air, seru banget," jelasnya.

Ia memaknai Gebyuran Bustaman sebagai bentuk penyucian diri sebelum memasuki bulan Ramadan. Ronggo berharap tradisi itu bisa digelar lebih meriah dengan mengadakan kirab sebelum acara gebyuran.

"Kalau kiai-kiai bilang kan bergembiralah kamu dalam menyambut puasa, nanti akan dapat pahala. Nah, saya bergembira menyambut puasa," ucap dia.

Warga asal Banyumanik yang ikut Gebyuran Bustaman, Salma (21) mengaku mengetahui tradisi itu dari dosennya di kampus. Tertarik dengan tradisi itu, Salma pun ikut memeriahkan Gebyuran Bustaman sekaligus mengulik sejarahnya.

"Emang tertarik banget, soalnya ini kayak festival yang di Thailand. Jadi kayak sesuatu yang baru buat saya, kayak terasa di luar negeri," ucapnya.

Gebyuran Bustaman ini juga diikuti Aulia (21) warga asal Ungaran, Kabupaten Semarang. Ia menyebut sudah bersiap ke Kampung Bustaman sejak sore tadi dan bersiap membawa jas hujan agar tak kebasahan.

"Baru ikut Gebyuran tahun ini, tapi ternyata udah dari lama tradisinya. Katanya memang ini tradisinya Kampung Bustaman dan nggak expect (menyangka) ternyata di sini ramai sekali," jelasnya.

Plt Lurah Purwodinatan, Bagas Yuwono Ario Negoro menjelaskan Gebyuran Bustaman ini sudah digelar untuk yang ke-13 kali. Kegiatan ini disebut menyimpan sejarah yang selalu dirawat oleh masyarakat setempat.

"Ini dari Kiai Bustaman. Beliau dulu adalah leluhur di Kampung Bustaman. Kebudayaan di Kampung Bustaman ini setiap mau puasa kita mengadakan Gebyuran Bustaman yaitu dengan cara air dilempar, identik dengan Gule Bustaman juga," jelasnya.

Ia menyebut, tradisi ini bukan hanya untuk warga Bustaman saja, tetapi untuk seluruh Kota Semarang. Ia berharap, dengan nguri-uri budaya ini kebudayaan di Kota Semarang bisa terus dilestarikan.

"Ini kita nguri-nguri budaya Jawa, kita Jawa tapi ora njawani. Lah itu kadang-kadang kota Semarang kalah dengan kota-kota lain seperti Solo, Semarang harusnya lebih njawani menurut saya," tuturnya.




(dil/dil)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads