Haul Ki Ageng Perwito di Desa Ngreden, Kecamatan Wonosari, Klaten, berlangsung meriah. Gunungan hasil bumi, makanan legondo dan intip goreng ludes diserbu ratusan warga.
Prosesi dimulai dari kantor desa setempat sekitar pukul 13.00 WIB. Gunungan dikirab dari kantor desa dibawa keliling kampung menuju makam Ki Ageng Perwito.
Sesampainya di samping masjid Syifaul Qulub utara kompleks makam, gunungan disambut warga yang menyemut. Setelah dilakukan penyerahan simbolis, gunungan dibawa ke panggung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun sebelum sampai di panggung, massa mulai merangsek berebut gunungan. Dalam sekejap, tiga gunungan tersebut ludes diserbu warga, terutama ibu-ibu.
"Saya ke sini untuk nyadran, ziarah ke Ki Ageng Perwito. Nunggu kirab tadi kena muka (lemparan sayuran)," ungkap Tri Wahyuni (67) peziarah asal Cilacap kepada awak media di lokasi, Minggu (1/2/2026) sore.
Haul Ki Ageng Perwito di Klaten, Minggu (1/2/2026). Foto: Achmad Husein Syauqi/detikJateng |
Dijelaskan Tri Wahyuni, Ki Ageng merupakan ulama sehingga dirinya datang bersama dua keluarganya berziarah. Dia merasa senang bisa berziarah.
"Ya senang sekali dapat sayur nanti mau saya masak. Semoga berkah, " lanjut Tri Wahyuni.
Warga lainnya, Wiwin, mengatakan setiap tahun ikut rebutan legondo dan intip. Legondo merupakan makanan khas desanya yang lestari sampai sekarang.
"Legondo itu ketan dibungkus daun kelapa, asli sini dan rasanya enak. Setiap tahun ada rebutan Gunungan," kata Wiwin kepada detikJateng.
Ketua panitia, Sucipto, menjelaskan kirab tersebut merupakan bagian dari acara haul ke-315 Ki Ageng Perwito. Selain kirab ada acara lainnya.
"Ini tanggal 13 Syaban merupakan haul Ki Ageng Perwito, kita kemas dengan acara khotmil Qur'an di masjid sampai kirab budaya gunungan. Gunungan ada tiga, yaitu Legondo dan intip yang merupakan ciri khas makanan asli sini, gunungan hasil bumi dan jajanan anak untuk memeriahkan," papar Sucipto.
"Kita juga melestarikan budaya, legondo ini makanan asli sini, tempat lain namanya lepet tapi di sini Legondo. Selain mengingat, mendoakan leluhur juga diharapkan meningkatkan income masyarakat dengan jualan," tutup Sucipto.

