Mengunjungi Situs Perahu Kuno Rembang, Jejak Kejayaan Maritim Abad ke-7

Mengunjungi Situs Perahu Kuno Rembang, Jejak Kejayaan Maritim Abad ke-7

Mukhammad Fadlil - detikJateng
Minggu, 27 Nov 2022 16:10 WIB
Rembang -

Pemerintah saat ini telah menjadikan lokasi penemuan perahu kuno di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, sebagai salah satu Situs Cagar Budaya Nasional Kategori Situs oleh

Situs tersebut menjadi salah satu bukti sejarah kejayaan maritim di Nusantara pada masa lampau. Apalagi, perahu kuno yang ditemukan di situs itu terhitung masih lengkap dan utuh.

Pantauan detikJateng di Lokasi Situs Perahu Kuno Rembang, pada Selasa (22/11/2022) sore, benda bersejarah itu berada di bangunan semi terbuka. Situs itu dilindungi oleh atap. Sedangkan bagian pinggirnya dikelilingi pagar.


Sekretaris Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang Ubaidillah mengungkapkan Situs Perahu Kuno Rembang ditemukan pada 2008 silam.

Dia bercerita saat itu salah satu warga desa setempat bermaksud hendak membikin tanah miliknya menjadi lahan tambak. Namun pada saat salah satu kuli cangkul mendapati bongkahan kayu.

Setelah digali lebih dalam, bongkahan kayu itu ternyata merupakan rangka bekas sebuah perahu.

"Setelah satu setengah meter menggali secara manual menggunakan cangkul itu ditemukan bongkahan kayu. Ketika digali lagi ternyata sebuah perahu," ungkap Ubaidillah saat ditemui detikJateng di Lokasi Situs Perahu Kuno, Selasa (22/11/2022) sore.

Situs cagar budaya perahu kuno di Rembang. Foto diambil Selasa (22/11/2022).Situs cagar budaya perahu kuno di Rembang. Foto diambil Selasa (22/11/2022). Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng

Menurut Ubaidillah penemuan Perahu Kuno di desanya menjadi penting, karena dari hasil penelitian yang pernah dilakukan ternyata diketahui perahu itu diperkirakan dibuat pada abad ke-7. Sampel penelitian diambil dari karbon pada tali ijuk yang ada di dalam perahu.

"Penemuan ini penting bagi kami karena setelah diteliti oleh peneliti dari Balai Arkeologi Jogja, di situ juga ada peneliti dari Perancis Profesor Pierre Y Manguin. Dari ijuknya yang untuk mengikat itu diteliti dari uji karbon, itu ternyata bahwa kira-kira perahu ini dibuat pada abad ke-7, lebih tua dari Candi Borobudur, kalau Candi Borobudur sekitar abad ke-8," imbuh Ubaidillah.

Dikutip dari laman resmi Kemdikbud, keseluruhan bagian perahu kuno itu terbuat dari kayu ulin. Kondisinya memang sudah keropos. Namun, bagian-bagian perahu itu masih terhitung lengkap dan utuh.

Perahu kuno itu memiliki ukuran panjang 15 meter dan lebar 5 meter. pembuatannya menggunakan teknologi penyambungan antar papan, teknik papan ikat dan kupingan pengikat.

Diduga, pada masa lalu perahu itu digunakan sebagai moda transportasi perdagangan.

(ahr/sip)