Arti Sederet Istilah dalam Kalender Jawa dan Cara Menghitungnya

Arti Sederet Istilah dalam Kalender Jawa dan Cara Menghitungnya

Angling Adhitya Purbaya - detikJateng
Rabu, 09 Nov 2022 10:30 WIB
kalender
Arti Sederet Istilah dalam Kalender Jawa dan Cara Menghitungnya. Ilustrasi kalender. Foto: thinkstock
Solo -

Sistem kalender Jawa masih dipakai hingga hari ini. Dalam kalender Jawa, ada sistem hitungan yang dipercaya untuk menentukan hari baik. Berikut beberapa istilah yang perlu dikenal dalam kalender Jawa.

Ahli penanggalan Jawa dari Museum Radya Pustaka Solo, Ki Totok Yasmiran, menjelaskan ada sejumlah istilah yang kerap ditemukan dalam penanggalan Jawa dan perhitungannya. Yang pertama soal sistem hitungan, yaitu Pasaran atau lima harian, Paringkelan atau enam harian, dan Padian atau tujuh harian.

"Kombinasi ketiganya menghasilkan hitungan Wuku yang bersiklus 210 hari," kata Totok. Berikut beberapa istilah lainnya:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Weton dan Neptu

Weton adalah istilah yang berasal dari kata wetu "keluar" mendapat akhiran -an sehingga menjadi wetuan. Fonim u dan a tersebut mengalami persandian atau luluh lalu menjadi weton yang berarti kelahiran. Jadi weton merupakan penanda hari kelahiran seseorang.

Neptu adalah nilai angka tertentu yang melekat pada hari maupun pasaran. Jadi gabungan hari dan pasaran tersebut disebut neptu weton atau neton. Neptu hari, Ahad: 5, Senen: 4, Slasa: 3, Rebo: 7, Kemis : 8, Jumungah : 6, dan Sabtu : 9. Adapun neptu pasaran yaitu Legi : 5, Pahing : 9, Pon : 7, Wage : 4, dan Kliwon : 8

ADVERTISEMENT

"Dari weton tersebut mengandung makna perwatakannya. Hal ini tidak terlepas dengan istilah Pangarasan atau paarasan dan Pancasuda," jelas Totok.

Pangarasan

Pangarasan atau paarasan adalah pengelompokan sifat manusia yang didasarkan pada saptawara (hari yang berjumlah tujuh) dan pancawara (pasaran).

Siklus paarasan tidak menurut pada siklus wuku, tetapi diambil dari nêptu hari dan pasaran, jika ketemu: 7 lakuning bumi, 8 lakuning gêni, 9 lakuning angin , 10 aras pêpêt, 11 aras tuding, 12 aras kêmbang,13 lakuning lintang, 14 lakuning rêmbulan, 15 lakuning srêngenge, 16 lakuning banyu, 17 lakuning bumi, 18 lakuning gêni.

Artinya angka yang paling kecil 7 = 3.4 = Selasa Wage, dan angka terbesar yaitu 18 = 9.9 = Sabtu Pahing, demikian pula untuk yang lainnya.

10 Makna Pangarasan

Lebih jelasnya tentang makna pangarasan dapat dirinci sebagai berikut:

1. Aras Tuding

Sifatnya telunjuk jari (Sering ditunjuk dalam hal apa pun).

2. Aras Kembang

Sifatnya bunga (Memesona memikat lawan jenisnya).

3. Lakuning Lintang

Sifatnya bintang (Lemah hati, kesepian dan sengsara, kecenderungan tidak menetap (dalam hal pekerjaan, tempat tinggal, dll).

Mengenai Pancasuda dan Paringkelan ada di halaman selanjutnya...

4. Lakuning Rembulan

Sifatnya bulan (Simpatik, penuh daya tarik, serba menyenangkan).

5. Lakuning Srengenge

Sifatnya matahari (Terang dan berwibawa, mencerahkan).

6. Lakuning Banyu

Sifatnya air (Tenang, selalu mengalir ke tempat yang rendah, karena tahu persis di mana akan mendapatkan rejekinya, memiliki perencanaan yang matang).

7. Lakuning Bumi

Sifatnya bumi (Pemurah, pengampun dan pelindung).

8. Lakuning Geni

Sifatnya api (Temperamental, emosional, mudah marah dan naik pitam, pemberani).

9. Lakuning Angin

Sifatnya angin (Pandai mengambil hati orang tetapi menakutkan jika sedang marah).

10. Aras Pepet / Lakuning Pandhita Sakti

Sifatnya tertutup / pertapa sakti (Sering prihatin, hidup menderita dan serba kekurangan, yang diinginkan sulit tercapai).

Pancasuda

Pancasuda adalah penggolongan watak manusia yang dihitung dari angka-angka khusus yang diberikan kepada saptawara dan pancawara.

Păncasuda adalah nêptu hari pasaran dikumpulkan menjadi satu, dibuang tujuh atau tujuh-tujuh, tetapi neptu hari yang lima berubah, ada yang dikurangi, ada yang ditambah, karena yang berubah lima maka dinamakan păncasuda. Hal ini juga digunakan untuk perhitungan orang bepergian maupun punya kerja.

  • Ngahad nêptu 5 ditambah 1 menjadi 6.
  • Sênèn nêptu 4 tetap 4.
  • Slasa nêptu 3 tetap 3.
  • Rêbo nêptu 7 dikurangi 1 tinggal 6.
  • Kêmis nêptu 8 dikurangi 3 tinggal 5.
  • Jumungah nêptu 6 ditambah 1 menjadi 7.
  • Sêtu nêptu 9 dikurangi 1 tinggal 8.

Untuk Pasaran : Kaliwon nêptu 8, Lêgi nêptu 5, Paing nêptu 9, Pon nêptu 7, Wage nêptu 4 tetap tidak berubah. Apabila tinggal:

1 = Wasesa segara = Pemurah, pemaaf, berwibawa dan bertanggung jawab.
2 = Tunggak semi = Penghasilannya selalu terjamin, rezeki selalu ada.
3 = Satrya wibawa = Dihormati orang karena kemuliaan dan keluhurannya.
4 = Sumur sinaba = Dicari orang karena petuah dan nasihatnya, serta banyak pengetahuannya.
5 = Bumi kapetak = Suka bekerja, kuat menahan kecewa dan penderitaan, rapi dan bersih hidupnya akan tetapi pendendam. Sarana penolaknya: Menanam/mengubur tanah.
6 = Satrya wirang = Luhur budinya tetapi selalu dipermalukan orang, tidak berwibawa. Sarana penolaknya: mengeluarkan darah (menyembelih ayam atau kambing).
7 = Lebu ketiyup angin = Serba kekurangan hidupnya, jauh dari keberuntungan dan sulit mendapat kemajuan dalam pekerjaan dan usahanya. Sarana penolaknya: dengan menyebarkan debu.

Paringkelan

Paringkelan adalah istilah hitungan enam harian, yaitu:

  • Tungle = ringkêl godhong, tidak boleh menanam tanaman yang dimanfaatkan daunnya.
  • Aryang = ringkêl jalma, kesialan manusia.
  • Warukung = ringkêl sato, binatang pada apês.
  • Paningron = ringkêl mina, ikan lagi apês.
  • Uwas = ringkêl pêksi, burung-burung pada apês.
  • Mawulu = ringkêl wiji, jika menyemai biji tidak tumbuh.

Jadi kombinasi dari hari yang berjumlah 7, pasaran 5 dan paringkelan 6 terjadilah wuku yang bersiklus 210 hari.

Halaman 2 dari 2
(dil/rih)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads