Mengintip Produksi Gamelan yang Ditetapkan Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

Mengintip Produksi Gamelan yang Ditetapkan Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

Agil Trisetiawan Putra - detikJateng
Sabtu, 17 Sep 2022 08:04 WIB
Perajin gamelan di UD Supoyo, Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.
Perajin gamelan di UD Supoyo, Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng
Sukoharjo -

Gamelan telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda UNESCO. Penyerahan simbolis sertifikat gamelan sebagai warisan budaya tak benda UNESCO digelar di Balai Kota Solo, Jumat (16/9) malam.

Dikutip dari KBBI Kemdikbud, gamelan adalah perangkat alat musik Jawa (Sunda, Bali, dan sebagainya) yang terdiri atas saron, bonang, rebab, gendang, gong, dan sebagainya.

Salah satu sentra pembuatan gamelan berada di Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Salah satunya adalah UD Supoyo.


Pemilik UD Supoyo, Feri Agus Dian Kusumawardani (31), mengatakan dalam proses pembuatan gamelan ini dia biasanya menggunakan tiga bahan baku, yakni perunggu, kuningan, dan besi. Perbedaan bahan baku ini mempengaruhi cara pembuatan dan harga.

Gamelan dengan bahan baku perunggu, harus melalui proses peleburan dan ditempa. Jika menggunakan kuningan dan besi, cukup dipotong, dipelat, lalu dilas.

"Harga satu set gamelan Jawa dari perunggu itu paling murah Rp 450 juta. Jika yang kuningan satu setnya Rp 150 juta, kalau besi paling Rp 90 juta," ujarnya.

Perajin gamelan di UD Supoyo, Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.Perajin gamelan di UD Supoyo, Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng

Pasang surut bisnis yang dia jalankan pernah dilalui. Saat pandemi COVID-19, dia sama sekali tidak produksi. Namun kini bisnisnya mulai bergeliat dengan datangnya pesanan dari New York, Amerika Serikat.

Lebih lanjut, sebelum pembuatan gamelan, Agus mengaku ada ritual khusus yang dilakukan. Hal ini dilakukan secara turun-temurun dari kakeknya.

"Kalau produksi yang menggunakan ritual khusus biasanya yang ukuran besar antara 95 sentimeter hingga satu meter lebih. Kayak ritual slametan dan menggunakan tumpengan," kata Agus saat ditemui di galerinya, belum lama ini.

Agus sempat menghilangkan ritual tersebut saat akan melakukan proses produksi. Namun disebutnya proses produksinya selalu gagal.

"Saya sempat nggak percaya dan menghilangkan ritual itu. Tapi kenyataannya, gong dengan diameter besar itu pecah terus," ucapnya.

Perajin gamelan di UD Supoyo, Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.Perajin gamelan di UD Supoyo, Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng

Terkait ditetapkannya gamelan sebagai warisan budaya tak benda UNESCO, Agus mengaku senang. Dia berharap generasi muda turut berperan aktif melestarikan gamelan.

"Saya sangat senang, karena sekarang banyak anak muda yang mencintai alat musik gamelan, dibandingkan dulu sebelum diakui UNESCO," ujarnya.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...



Simak Video "Warga Tamansari Bandung Temukan Batu Gamelan, Begini Suaranya"
[Gambas:Video 20detik]