Hari Kucing Sedunia, Kisah Anabul Jadi Dewi Ganas di Mesir Kuno

Tim detikJateng - detikJateng
Senin, 08 Agu 2022 14:47 WIB
Beautiful caring lynx mother cleaning her cute lynx cub in the grass a summer day in the forest.
Kucing iberian lynx. Foto: (iStock)
Solo -

Hari ini, Senin (8/8/2022), bertepatan dengan Hari Kucing Sedunia yang ke-20. Dikutip dari The Free Press Journal, Hari Kucing Sedunia pertama kali dirayakan oleh International Fund for Animal Welfare (IFAW) pada 2002. Buat para pecinta kucing, berikut sejarah anabul (anak bulu) sejak zaman Mesir Kuno.

1. Sejarah Kucing pada Zaman Mesir Kuno

Dikutip dari artikel karya Reagan Clark dalam laman resmi StMU Research Scholars Project, stmuscholars, kucing adalah salah satu hewan yang paling dihormati dalam budaya Mesir. Penyebutan kucing paling awal di Mesir yaitu sekitar 4000 SM (Sebelum Masehi). Orang Mesir Kuno menganggap kucing sebagai pelindung tanah dan menggambarkan gagasan tersebut dalam mitologi mereka.

Dalam laman proyek kolaborasi antara fakultas dengan mahasiswa di Universitas St Mary di Texas itu, Reagan Clark menyebutkan bahwa kucing liar paling awal dalam budaya Mesir disebut melindungi penduduk desa dari ular berbisa.


Sebagai ucapan terima kasihnya, masyarakat Mesir pada masa itu kemudian meninggalkan potongan-potongan makanan untuk kucing agar mereka tetap berada di sekitar desa. Hal itulah yang menyebabkan domestikasi kucing di Mesir.

Karena sifat pelindung kucing itulah, orang Mesir kemudian menggambarkan kucing sebagai dewi paling ganas dalam mitologi. Kucing pun dianggap menjadi makhluk suci. Pemujaan terhadap kucing kemudian menjadi hal yang biasa.

Menurut Clark, petunjuk adanya mitologi tentang kucing pada zaman Mesir Kuno itu diketahui dari peninggalan Dinasti Mesir pertama. Dinasti yang didirikan oleh Firaun Narmer itu diperkirakan ada sejak 3150 SM.

Meskipun tidak banyak yang diketahui tentang dinasti tersebut, namun ada salah satu mitologi Mesir yang dikenal luas dari temuan karya seni dan monumennya. Salah satunya ialah Dewi Mafdet.

Dewi Mafdet dijelaskan sebagai dewi kucing yang ganas, makhluk kuat yang melindungi firaun Mesir dan raja para dewa, Rē. Dewi Mafdet adalah lambang kerajaan para firaun dan direpresentasikan sebagai pelindung kerajaan.

2. Lynx, Kucing Paling Terancam Punah di Dunia

Mafdet digambarkan dengan kepala kecil seekor lynx bertumpu pada tubuh dengan kaki ramping dan ekor kecil yang tebal. Dalam Britannica, lynx adalah salah satu dari empat spesies kucing ekor pendek yang ditemukan di hutan Eropa, Asia, dan Amerika Utara.

Lynx Iberia adalah kucing yang paling terancam punah. Pada 2013, diperkirakan tinggal 300 ekor yang tersisa di semak belukar pegunungan di selatan Spanyol.

Selain diingat dengan kepala lynx, Mafdet juga dikenang dengan kepala berbagai jenis kucing lainnya, seperti macan kumbang, singa betina, dan macan tutul. Namun, seiring berjalannya waktu, Mafdet perlahan terhapus dari sejarah dan hampir terlupakan.

Setelah dinasti Mesir runtuh, kucing menjadi hewan yang sangat populer. Masyarakat kelas atas di belahan dunia timur banyak yang mulai memelihara kucing. Sedangkan orang Romawi Kuno memanfaatkan kucing sebagai pengendali hama.

3. Popularitas Kucing pada Abad ke-17

Dilansir detikEdu, setelah abad pertengahan, kucing dianggap sebagai hewan yang menyebarkan penyakit dan berakibat pada banyaknya kucing yang dibunuh pada 1348. Namun, popularitas kucing mulai berkembang lagi pada abad ke-17.

Kini kucing sudah menjadi simbol budaya modern. Terlebih setelah IFAW, salah satu organisasi kesejahteraan hewan terbesar di dunia yang berbasis di Kanada, mengumumkan Hari Kucing Internasional (International Cat Day) pada 8 Agustus 2002.

Sejak 2020, hal ihwal peringatan Hari Kucing Sedunia dilanjutkan oleh International Cat Care, perintis amal kesejahteraan kucing yang berbasis di Inggris sejak 1958.



Simak Video "Mengenal Sejarah Hari Kucing Sedunia"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/rih)