Sejarah Gamelan dan Proses Islamisasi Masyarakat Jawa Abad XV

Tim detikNews - detikJateng
Kamis, 07 Jul 2022 05:05 WIB
Gamelan ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, ISI gelar syukuran konser Paramangangsa.
Gamelan ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, ISI gelar syukuran konser Paramangangsa. Foto: dok. ISI Solo
Solo -

Sebagian orang meyakini sejarah gamelan di Jawa sudah ada sebelum datang pengaruh Hindu. Dikutip dari detikNews, pada saat itu orang Jawa sudah mengenal sepuluh keahlian utama. Dua di antaranya ialah kemampuan membuat dan memainkan wayang serta gamelan.

Gamelan adalah ansambel atau perpaduan beberapa alat musik, seperti diantaranya gambang, gendang, dan gong. Sejarah gamelan atau seperangkat instrumen yang dibunyikan secara bersamaan ini, menurut detikNews, diduga sudah ada di Jawa sejak tahun 404 Masehi. Hal itu terlihat dari penggambaran masa lalu dalam relief di Candi Borobudur dan Prambanan.

Gamelan banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, seperti di Bali, Madura, dan Lombok. Namun, sejarah gamelan Jawa dalam artikel ini lebih berfokus pada gamelan di Jawa Tengah dan Jogja.


Di Jawa Tengah, sejarah gamelan digunakan untuk mengiringi pagelaran wayang dan pertunjukan tari. Seiring perkembangan zaman, gamelan Jawa juga bisa berdiri sendiri sebagai seni pertunjukan musik, lengkap dengan sinden atau penyanyi.

Sejarah Gamelan dan Islamisasi Jawa

Menurut sejarawan Heri Priyatmoko dalam jurnalnya, 'Gamelan di Kemlayan: Studi Sejarah Kampung Abdi Dalem Niyaga di Surakarta' (Patrawidya Vol 19 No 2, Agustus 2018), keberadaan para pangrawit atau penabuh gamelan lekat dengan sebuah kekuasaan di Jawa.

Pengrawit selalu dibutuhkan oleh penguasa Keraton Kasunanan. Sebab, istana tersebut sebagai pewaris Kerajaan Mataram Islam yang punya kepentingan politik kultural dan punya tanggung jawab melanjutkan tradisi berkesenian dan politik syiar Islam, terutama perayaan Sekaten.

Sekaten dipercaya sudah ada sejak masa Kasultanan Demak pada abad ke-15. Tradisi membunyikan gamelan Sekaten, yaitu Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Guntur Sari, bertujuan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad.

Menurut catatan seniman asal Kemlayan, R Ng Pradjapangrawit dalam Serat Wedapradangga, Heri Priyatmoko menuliskan, gamelan ditabuh pengrawit tiap tanggal 5-12 bulan Maulud. Rakyat yang mendengar bunyi gamelan itu pun berduyun-duyun ke halaman masjid besar untuk menyaksikannya.

"Orang-orang yang datang tersebut diperbolehkan juga masuk ke dalam serambi masjid, namun harus terlebih dahulu mengucapkan syahadatain, yang di dalam bahasa Jawa disebut sahadatkalimah loro. Di pelataran masjid itu, mereka disuruh pula membasuh tangan, muka dan kaki dengan air kolam luar serambi masjid (Pradjapangrawit, tanpa tahun: 28-30, dalam Patrawidya, 2018:17).

Dalam kurun waktu itu sebagian besar penduduk dikenal masih menganut kepercayaan warisan kakek moyang yang erat pula dengan budaya gamelan. Strategi dakwah dengan memakai gamelan Sekaten yang nyaring dan keras itu diperkirakan menarik dan efektif untuk mengumpulkan massa. Proses Islamisasi masyarakat Jawa sengaja menggunakan pendekatan kultural agar tidak timbul konflik yang frontal dan masyarakat tidak mengalami gegar budaya.



Simak Video "Meriah! Puluhan Pengrawit Turun ke Jalan Hibur Warga di Kulon Progo"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/ams)