Ki Nartosabdo, Sang Pembaru yang Pertama Sandang Gelar 'Dalang Edan'

Ki Nartosabdo, Sang Pembaru yang Pertama Sandang Gelar 'Dalang Edan'

Tim detikJateng - detikJateng
Rabu, 29 Jun 2022 13:28 WIB
Peresmian Jalan Ki Nartosabdo di Semarang, 29 Juni 2022
Peresmian Jalan Ki Nartosabdo di Semarang, 29 Juni 2022. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikJateng
Solo -

Nama Ki Nartosabdo diabadikan menjadi nama jalan di pusat Kota Semarang, Rabu (29/6/2022). Sebelumnya, penghormatan terhadap dalang legendaris ini juga telah dilakukan Pemkot Semarang, yakni saat meresmikan Monumen Ki Nartosabdo pada 30 Maret 2021. Siapa Ki Nartosabdo?

Dikutip dari esai 'Maha Putra Krangkungan' karya Muchus Budi R (buletin 'Cokekan' No 8, 1998), Ki Nartosabdo adalah sosok yang tidak gampang -untuk menghindari menyebut kata 'tidak akan'- dilupakan oleh para pemerhati, pecinta, dan para pelaku dunia wayang kulit.

Dalam buletin terbitan STSI Press itu, Muchus mengatakan Ki Nartosabdo adalah dalang yang senantiasa melakukan pembaruan dan terobosan dalam upaya 'penyelamatan' wayang kulit dari erosi zaman.


"..Dialah orang yang menyadari untuk menghapus kesalahan-kesalahan yang telah dilazimkan oleh dunia pedalangan, sementara hal tersebut sangat menganggu keutuhan cerita," tulis Muchus (STSI Press, 1998:6).

Hal itu terlihat dari keberanian Ki Nartosabdo menghilangkan blangkonan bila raja yang dihadapinya kurang baik tabiatnya, dan menggantinya dengan penggambaran yang sesuai. Blangkonan adalah narasi di awal jejer keraton yang memaparkan kemakmuran negara dan keutamaan raja.


Ki Nartosabdo adalah bungsu dari tujuh bersaudara yang lahir di Krangkungan, Pandes, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, pada 25 Agustus 1925. Nama kecilnya adalah Sunarto. Dikutip dari dpad.jogjaprov.go.id, Sunarto adalah putra Partotinoyo, seorang perajin sarung keris.

Sejak kecil hingga remaja, Sunarto sudah membantu perekonomian keluarga dengan memanfaatkan bakatnya sebagai pelukis dan pemain biola di sebuah orkes keroncong. Perkenalannya dengan dunia pedalangan diawali pada tahun 1945, yakni saat menimba ilmu kepada pendiri grup Wayang Orang Ngesti Pandowo, yaitu Ki Sastrosabdo.

Berkat kreasinya dalam mengembangkan grup wayang orang tersebut, Sunarto memperoleh gelar tambahan 'Sabdo' di belakang namanya. Gelar itu diterimanya pada 1948. Sejak itu, dia mulai dikenal sebagai Nartosabdo.

Ki Nartosabdo muncul pertama sebagai dalang justru di Jakarta, tepatnya di Gedung PTIK yang disiarkan langsung oleh RRI pada 28 April 1958. Penampilan perdana itu langsung mengangkat namanya.

"Didorong untuk memperkenalkan upaya pembaharuannya serta didukung kejelian pulalah yang mendorong Nartosabdo menggelar pementasan wayang semalam suntuk melalui corong radio," tulis Muchus.

Namun, semangat pembaruan yang melampaui zamannya itu membuat Ki Nartosabdo tak mudah diterima semua kalangan. Dalang mapan dengan gaya konservatif menyebut Nartosabdo 'berdosa' paling besar dalam rusaknya seni pedalangan. Saat itulah muncul istilah dalang edan.

Meski demikian, tidak sedikit pula kalangan yang merespons positif semangat pembaruan Ki Nartosabdo. Tanpa pembaruan, meski masih berpegang pada pakem, karya-karya seni tradisi termasuk wayang rawan tergilas oleh kehidupan modern.

Kata Muchus dalam esainya, "..Masyarakat yang telah dihilangkan ingatan kolektifnya ini akan meninggalkan wayang, meninggalkan leluhur, dan meninggalkan bayangannya sendiri...Selebihnya mereka akan menyuntuki puak-puak kehidupannya dalam dunia komunikasi modern."

Sepanjang karirnya, Ki Nartosabdo dikenal sebagai dalang guru dalang. Banyak dalang-dalang kenamaan selanjutnya adalah murid-murid yang dibimbingnya, di antaranya Ki Manteb Sudharsono, Ki Mujoko Joko Raharjo, Nyi Suharni Sabdowati dan lain-lain.

Ki Nartosabdo juga dikenal luas sebagai dalang kesayangan Bung Karno. Pada masa itu ada tiga dalang kenamaan yang menjadi langganan pentas di istana negara, yakni Ki Pujosumarto dari Klaten, Ki Bei Tarno dari Solo, dan Ki Nartosabdo dari Semarang.

Selain berkarya di dunia pakeliran, Ki Nartosabdo juga berkarya sangat intens menciptakan karya-karya gending dan lagu Jawa. Ratusan karya gendingnya abadi hingga sekarang.

Hingga sejauh ini, Ki Nartosabdo adalah satu-satunya dalang yang mendapat anugerah Bintang Mahaputera Nararya dari Pemerintah Indonesia atas jasa-jasanya yang luar biasa di bidang kebudayaan.

Ki Nartosabdo meninggal di Semarang pada 7 Oktober 1985. Penghormatan yang dilakukan Pemkot Semarang dengan mengabadikan namanya paling tidak bisa sedikit meredam kekhawatiran Muchus Budi R, yang menyadur pendapat Umar Kayam di bagian akhir esai yang ditulisnya 24 tahun silam.

"Kita adalah masyarakat yang bergerak dengan amat cepatnya dan cukup dramatis melepaskan isolasi-isolasi subkulturnya...Tak tahu apakah wayang termasuk salah satu di antaranya."



Simak Video "Menyulap Sampah di Yogyakarta Jadi Wayang Uwuh"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/mbr)