Jangan Ambil Apapun di Hutan Jati Donoloyo Wonogiri, Ini Akibatnya

Muhammad Aris Munandar - detikJateng
Selasa, 03 Mei 2022 21:21 WIB
Cagar alam hutan jati Donoloyo di Kecamatan Slogohimo.
Cagar alam hutan jati Donoloyo di Kecamatan Slogohimo, Wonogiri. Foto: Muhammad Aris Munandar/detikJateng
Wonogiri -

Selain dilindungi peraturan dan undang undang, cagar alam Donoloyo di Kabupaten Wonogiri juga 'dijaga' oleh banyaknya kisah misteri. Berkat kesetiaan masyarakat dalam merawat kepercayaan akan keramatnya hutan jati Donoloyo, kawasan konservasi yang ditetapkan sejak 1961 ini tetap lestari.

Hutan Donoloyo berada di wilayah Desa Watusomo, Kecamatan Slogohimo. Di hutan yang berjarak sekitar 40 kilometer di timur pusat kota Wonogiri ini terdapat ratusan pohon jati berukuran besar dan diyakini sudah berusia hingga ratusan tahun.

Konon, hutan itu merupakan peninggalan Eyang Donosari atau Ki Ageng Donoloyo, salah satu tokoh di Kerajaan Majapahit. Di hutan itu ada punden atau tempat keramat yang dihormati. Di punden itu terdapat tunggak jati yang diyakini ditanam oleh Ki Ageng Donoloyo.

Tunggak atau sisa batang dan akar yang tertinggal setelah pohon ditebang itu masih terjaga. Sedangkan batang kayu jatinya disebut-sebut untuk soko guru Masjid Agung Demak pada masa Kerajaan Demak di bawah kepemimpinan Raden Fatah.

Juru Kunci Hutan Donoloyo, Sunarto (55), membenarkan selama ini ada beberapa kejadian tak wajar yang bersifat mistis di Donoloyo. Kisah mistis atau kejadian aneh itu biasanya dialami oleh orang-orang yang dinilai tidak sopan atau kurang mengindahkan tata krama saat berkunjung ke Hutan Donoloyo.

Sunarto menceritakan, sekitar dua tahun lalu ada orang Solo yang berkunjung ke Donoloyo. Saat perjalanan pulang dari Donoloyo, mulai dari perbatasan Wonogiri-Sukoharjo, orang itu diikuti angin kencang. Setelah sampai di rumah teras rumahnya, orang itu didatangi angin puting beliung. Padahal, rumah di sekitarnya hanya diguyur hujan biasa.

"Saat berkujung ke sini orang itu kan membuat status di Whatsapp. Kemudian ada orang yang tahu kalau tempat yang dia kujungi itu bukan tempat biasa. Kemudian orang Solo itubalik ke Hutan Donoloyo dan menemui saya," kata Sunarto kepada detikJateng belum lama ini.

Orang itu lantas meminta petunjuk Sunarto atas kejadian yang dialaminya. Kepada Sunarto, orang itu mengaku tidak mengambil barang apapun di Hutan Donoloyo. Namun, dia mengakui telah berkata kasar dan terkesan marah. Kemudian, orang tersebut diantar ke punden untuk meminta maaf.

"Itu baru maido (mencela karena tidak percaya), belum mengambil apa-apa, sudah mengalami kejadian seperti itu. Itu menunjukkan kalau kita bertamu harus beretika. Buatlah orang yang mempunyai rumah bisa menerima kehadiran kita," terang Sunarto.

Sunarto mengungkapkan dirinya sudah beberapa kali menjumpai kejadian hal serupa. Menurut dia, orang yang mengambil barang apapun dari hutan jati Donoloyo atau berkata kotor akan mengalami kesakitan hingga dipersulit pekerjaannya.

"Intinya jangan mengambil sesuatu atau barang di sini tanpa sepengetahuan kami, meski itu hanya selembar daun jati yang jatuh. Biasanya ada yang ke sini dapat petunjuk agar mengambil kayu atau apa, ya saya ambilkan. Itu kan perintah Eyang Donoloyo, sehingga orang itu tidak mengalami kejadian aneh," ujar dia.

Cagar alam hutan jati Donoloyo di Kecamatan Slogohimo.Cagar alam hutan jati Donoloyo di Kecamatan Slogohimo. Foto: Muhammad Aris Munandar/detikJateng

Menurut Sunarto, pada dasarnya tidak ada tempat angker. Angker atau tidaknya suatu tempat tergantung dari sikap orang yang mengunjunginya. Jika tidak sopan dan tidak menjaga tata krama, maka akan berdampak negatif terhadap orang itu sendiri.

"Yang salah itu orangnya. Eyang Ratu Kidul itu menyuruh orang salat. Tapi kenapa orang mencari pesugihan di laut selatan? Eyang Ratu Kidul juga tidak suka seperti itu. Kenapa orang kok serakah sampai minta pesugihan," kata dia.

Bagi Sunarto, seluruh kawasan hutan Donoloyo beraura positif. Setiap bagian ada penjaga masing-masing. Dia mengibaratkan seperti rumah sakit, ada ruang bedah, ruang bayi, sampai ruang obat. Setiap ruang itu ada yang menjaga secara berlapis.

"Ada kejadian tak wajar atau aneh itu karena orang tak menjaga sopan santun," ujar dia.

Sunarto menambahkan, Eyang Donoloyo diperkirakan tiba di Hutan Donoloyo sekitar tahun 1300, sebelum Kerajaan Majapahit runtuh atau sebelum Kerajaan Demak berdiri. Donoloyo itu mempunyai makna tersendiri.

"Donoloyo, dono iku weweh (memberi), loyo iku pati (mati). Diartikan hidup dan kematian itu dipasrahkan kepada Pangeran sang pencipta. Pasrah terhadap yang Kuasa, semakin banyak mengingat Tuhan semakin kita dikasih tempat baik," kata Sunarto.

Saat ini ada 425 jati seumuran di Hutan Donoloyo yang sudah berusia ratusan tahun. Adapun luas Hutan Donoloyo sekitar 9,2 hektare.

"Biasanya di sini ramai dikunjungi saat malam Selasa dan Jumat Kliwon. Kalau Bulan Suro hampir setiap malam ramai. Biasanya ke sini untuk berdoa agar diberi keselamatan, sehat, lancar pekerjaan, dan berkah," kata Sunarto.

Cagar alam hutan jati Donoloyo di Kecamatan Slogohimo.Cagar alam hutan jati Donoloyo di Kecamatan Slogohimo. Foto: Muhammad Aris Munandar/detikJateng


Simak Video "Selain Serangga, Tarsius juga Memangsa Burung dan Ular, Cagar Alam Tangkoko"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/dil)