Tentang Bukhoren Kajian Hadis Al Bukhari Keraton Jogja, Ada Sejak Sultan HB I

Tim detikJateng - detikJateng
Selasa, 03 Mei 2022 13:14 WIB
Abdi Dalem Pengulon Keraton Jogja, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Zhuban Hadiningrat. Foto diunggah Selasa (3/5/2022).
Abdi Dalem Pengulon Keraton Jogja, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Zhuban Hadiningrat. (Foto: dok Keraton Jogja)
Solo -

Sebagai salah satu Kerajaan Islam Nusantara yang masih lestari hingga saat ini, Keraton Jogja memiliki sejumlah tradisi atau kegiatan religi yang berlangsung sejak dahulu kala hingga saat ini. Salah satunya yakni Bukhoren, kajian hadis Al Bukhari.

Dikutip dari website Keraton Jogja yakni kratonjogja.id, Selasa (3/5/2022), Bukhoren merupakan kajian Kitab Hadis Al Bukhari yang diadakan setiap malam Selasa Kliwon, atau dua lapan sekali misalnya.

"Setiap Selasa Kliwon, dua lapan sekali, (kami) ngaturi (mengundang) alim ulama se-Jogja. Tujuan Bukhoren adalah melanjutkan kajian yang dimulai sejak era Sri Sultan Hamengku Buwono I untuk mempererat hubungan kiai-kiai sepuh dengan keraton," jelas salah seorang Abdi Dalem Pengulon, Kanjeng Raden Tumenggung Zhuban Hadiningrat atau yang bernama asli Drs H Syaifuddin Anwar.

Sebelum pandemi Corona, jumlah kiai yang diundang dalam kegiatan itu bisa mencapai 250 orang. Kanjeng Zhuban menerangkan, setelah membaca kitab hadis Al Bukhari, para kiai akan berdiskusi mengenai tafsir suatu hadis yang dipilih.

"Semua kiai dikasih satu (hadis) dengan judul berbeda lalu nanti (bila) ada salah satu yang punya pendapat yang berbeda atau kurang pas diutarakan dalam forum dan didiskusikan," jelasnya.

Hasil diskusi tersebut kemudian dirumuskan dan disimpulkan. Abdi Dalem Pengulon, khususnya golongan kajian, akan menulis notula yang selanjutnya dikumpulkan dan diterbitkan dalam jurnal Bukhoren dan disebarluaskan ke pengurus-pengurus masjid atau peserta majelis.

Kegiatan lain syiar Islam yang digawangi Abdi Dalem Pengulon yakni ziarah ke makam Kagungan Dalem pada sebelum datangnya bulan Ramadan. Tradisi ini disebut Kuthamara.

Selanjutnya saat memasuki malam ke-21 bulan Ramadan, mereka memimpin jemaah beribadah menyambut lailatulqadar. Inilah yang disebut malam selikuran.

Abdi Dalem Pengulon juga menyusun buletin dakwah sebulan sekali. Kanjeng Zhuban membuatnya bersama tim kajian yang terdiri dari tokoh-tokoh dari UIN dan pondok-pondok pesantren di Jogja.



Simak Video "Mengenal Sejarah Rempah Nusantara Lewat Pameran Penunggang Gelombang"
[Gambas:Video 20detik]
(sip/sip)