Mengenal 5 Rangkaian Acara Peringatan Jumenengan Sultan Jogja

Aditya Mardiastuti - detikJateng
Sabtu, 05 Mar 2022 15:40 WIB
Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat menggelar prosesi labuhan alit di Pantai Parangkusumo, Bantul. Acara itu untuk memperingati bertahtanya Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Keraton Yogya Gelar Labuhan Alit Peringati Bertahtanya Sultan HB X (Foto: PIUS ERLANGGA)
Solo -

Tingalan Jumenengan Dalem adalah serangkaian upacara berkaitan peringatan kenaikan takhta Raja Jogja Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X. Ada lima rangkaian upacara yang digelar untuk memohon usia panjang Sultan, kecemerlangan takhta, dan kesejahteraan rakyat Jogja. Apa saja?

Mengutip dari situs kratonjogja.id, Sabtu (5/3/2022), rangkaian acara tersebut akan ditutup dengan prosesi labuhan di beberapa petilasan yang dianggap sakral bagi Keraton Yogyakarta. Selain upaya untuk berdoa memohon keselamatan, upacara labuhan baik di gunung maupun tepi laut juga untuk melaksanakan tugas Sultan untuk selalu menjaga keselarasan alam, Hamemayu Hayuning Bawono.

Berikut 5 rangkaian acara tersebut Tingalan Jumenengan Dalem:

1. Ngebluk (27 Rejeb)

Ngebluk merupaan kegiatan membuat adonan apem di Bangsal Sekar Kedhaton. Kegiatan ini dilakukan dua hari menjelang upacara Hajad Dalem Labuhan.

Ngebluk hanya boleh dilakukan para wanita yang dipimpin Permaisuri dan Putri Raja tertua. Wanita yang dilibatkan saat Ngebluk adalah para kerabat Keraton beserta Abdi Dalem Keparak.

Proses pengadukan adonan menimbulkan suara bluk, sehingga prosesi ini disebut Ngebluk. Setelah menjadi jladren, adonan kemudian dipindahkan ke dalam enceh (gentong berukuran besar), kemudian didiamkan selama satu malam agar adonan mengembang.

Pada waktu bersamaan beberapa Abdi Dalem Keparak memiliki tugas lain untuk mengeluarkan layon sekar (bunga sesaji yang sudah layu atau mengering) dari Gedhong Prabayeksa (gedung penyimpanan Pusaka). Layon sekar yang terkumpul selama satu tahun akan menjadi salah satu ubarampe yang akan dilabuh.

2. Ngapem (28 Rejeb)

Setelah prosesi ngebluk, keesokan harinya dilanjutkan dengan kegiatan ngapem atau membuat apem. Konon asal kata apem berasal dari bahasa Arab 'afwan' artinya maaf atau ampun, yang menyimbolkan permohonan ampun kepada Sang Pencipta.

Apem yang akan dibuat dibedakan menjadi dua ukuran, apem biasa yang berukuran kecil dan apem besar atau disebut Apem Mustaka. Apem Mustaka ini disusun sesuai dengan setinggi badan Sultan.

Apem yang sudah dibuat oleh para puteri dan kerabat Sultan ini nantinya akan dibagikan pada acara Sugengan.

3. Mempersiapkan ubarampe (28 Rejeb)

Pada waktu yang bersamaan dengan prosesi ngapem, para Abdi Dalem Reh Widyabudaya bertugas menyiapkan ubarampe labuhan. Ubarampe utama berupa seperangkat pakaian yang pernah digunakan Sultan, seperangkat pakaian untuk laki-laki dan perempuan, potongan kuku dan potongan rambut Sultan serta layon sekar.

Ubarampe dibawa dari Kawedanan Hageng Punakawan Widya Budaya menuju ke Bangsal Manis untuk diteliti kembali kelengkapannya. Setelah semua lengkap, ubarampe kemudian diinapkan di Gedhong Prabayeksa.

Prosesi labuhan digelar di Pantai Parangkusumo, Bantul. Prosesi adat yang digelar setahun sekali itu merupakan bentuk puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.Prosesi labuhan digelar di Pantai Parangkusumo, Bantul. Prosesi adat yang digelar setahun sekali itu merupakan bentuk puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Foto: Pius Erlangga/Detikcom

4. Sugengan (29 Rejeb)

Tepat pada hari peringatan penobatan Sultan diadakan acara Sugengan, yaitu upacara selamatan yang dihadiri kerabat Keraton beserta Abdi Dalem. Upacara selamatan ini merupakan doa dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk keselamatan Sultan dan Keraton.

Upacara ini diadakan di Bangsal Kencana, seusai upacara kemudian apem dan nasi golong lengkap dibagikan kepada yang hadir. Selain itu, semua ubarampe labuhan dibawa ke Bangsal Srimanganti untuk disemayamkan selama satu malam.

5. Prosesi Upacara Labuhan (30 Rejeb)

Setelah prosesi sugengan, barulah keesokan harinya diselenggarakan upacara labuhan. Seluruh ubarampe yang telah dipersiapkan diarak dari Gedhong Prabayeksa menuju ke Bangsal Srimanganti untuk diberangkatkan ke masing-masing petilasan. Lokasi-lokasi petilasan untuk upacara Labuhan diantaranya Parangkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih Khayangan.



Simak Video "Sri Sultan HB X Keluarkan SE Larangan Otoped di Malioboro"
[Gambas:Video 20detik]
(ams/aku)