Geger Maling Tali Pocong, Pakar Budaya UGM Bicara soal Fenomena Pesugihan

Jauh Hari Wawan S. - detikJateng
Jumat, 11 Feb 2022 18:15 WIB
Seorang wanita di Surabaya mengaku pernah mencuri tali pocong jasad orang yang meninggal malam Jumat Legi. Kepada detikjatim, ia menunjukkan tali pocong hasil curiannya.
Ilustrasi tali pocong. Seorang wanita di Surabaya mengaku pernah mencuri tali pocong jasad orang yang meninggal malam Jumat Legi. Kepada detikjatim, ia menunjukkan tali pocong hasil curiannya. (Foto: Tim detikJatim)
Sleman -

Aksi pencurian tali pocong membuat geger di Sidoarjo, Jawa Timur. Pakar Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebut pencurian tali pocong itu jamak terjadi di masyarakat Jawa.

"Kalau saya melihat fenomena pencurian tali pocong itu kelihatannya hampir terjadi di budaya kita, terutama di budaya Jawa," kata dosen Jurusan Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Abdul Jawat Nur, kepada detikJateng, Jumat (11/2/2022).

Jawat mengatakan tali pocong yang dicuri bisanya digunakan untuk pesugihan. Selain itu, biasanya tali pocong digunakan sebagai salah satu syarat dalam ritual ilmu hitam lainnya.

"Biasanya disamping untuk pesugihan, bisa untuk memperkuat ilmu hitam. Sebagai salah satu syarat dalam ritual untuk mencapai peringkat ilmu," ucapnya.

Lebih lanjut, pengambilan tali pocong juga tak melulu di bagian leher atau kepala. "Kalau untuk kekuatan hanya disyaratkan ambil saja tali pocong, ya mungkin paling gampang di bagian kepala," katanya.

Namun, dalam satu kasus tertentu bukan hanya tali pocong saja yang dicuri. Bahkan ada yang mengambil mayat secara utuh.

"Kalau tidak salah di Kabupaten Semarang yang mengambil mayat secara utuh. Jadi orang meninggal di Selasa Kliwon sudah ditunggu ternyata ada yang menggali lubang dari lokasi makam. Setelah dibongkar mayatnya sudah tidak ada," jelasnya.

Proses pengambilan mayat atau tali pocong itu tergantung pada ilmu orang yang mengambil. Jika ilmunya tinggi, maka tak perlu sampai repot menggali. Ada juga yang dengan cara menggali menggunakan tangan kosong.

"Kalau ilmu tinggi, hanya membaca mantra dan menghentakkan kaki di tanah makam itu mayatnya keluar," paparnya.

Jawat menyebut, fenomena ini masih terjadi di era sekarang dikarenakan orang-orang ingin mendapatkan hal besar tapi dengan cara instan. Misalnya untuk kekayaan.

"Semacam budaya dalam tanda kutip, kalau budaya itu kan susah dihilangkan. Jadi walaupun hidup di zaman milenial pikirannya masih tradisional. Ketika ingin meraih sesuatu ingin cara yang instan dengan mengambil tali pocong orang yang mati di hari-hari tertentu itu," ucapnya.

"Rata-rata orang yang ambisi kuat dan pemahaman agamanya kurang kan bisa juga nekat," imbuhnya.

Meski begitu, Jawat menyebut ada risiko yang harus diterima bagi orang yang mencuri tali pocong.

"Yang saya temukan itu mereka yang mengambil tali pocong itu anaknya sakit-sakitan. Memang dari gurunya itu bisanya memberi tahu kalau mau ini nanti efeknya seperti ini," ucapnya.

Sepengetahuan Jawat, kasus pencurian tali pocong ini hanya terjadi di pulau Jawa. "Jawa Tengah itu paling banyak, di Jawa Timur juga ada, Jawa Barat juga ada," ucapnya.

Jawat mengatakan 'budaya' semacam ini sudah ada sejak zaman dulu. Semuanya terkait dengan ilmu hitam.

"Kalau ditanya bermula sejak kapan, mungkin sejak jaman dulu sudah ada, dan itu terkait dengan ilmu hitam," pungkasnya.



Simak Video "Museum Ini Pamerkan Tali Pocong hingga Keranda Mayat, Berani Mampir?"
[Gambas:Video 20detik]
(sip/ams)