Jejak Perkembangan Campursari, Genre Musik Paling Populer Saat Ini

Bayu Ardi Isnanto - detikJateng
Kamis, 20 Jan 2022 12:31 WIB
Didi Kempot di Banyuwangi
Didi Kempot, penyanyi campursari dan pop Jawa saat konser di Banyuwangi. (Foto: Ardian Fanani)
Solo -

Masih ingat begitu dahsyatnya mendiang Didi Kempot menarik perhatian banyak pecinta musik Indonesia melalui campursari? Ini menjadi bukti bahwa campursari menjadi salah satu genre atau aliran musik paling populer saat ini.

Campursari yang selama ini dikenal sebetulnya telah mengalami evolusi panjang sejak sekitar 1950-an. Ketika musik karawitan dan langgam Jawa masih populer, saat itu muncul kreasi-kreasi musik yang memadukan unsur gamelan dengan alat musik barat.

Dosen karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Danis Sugiyanto, menyebut ada peran Radio Republik Indonesia (RRI) Semarang dalam perkembangan campursari. RRI Semarang memiliki kelompok musik yang menggabungkan gamelan dengan biola dan flute.

"Meskipun dulu belum disebut campursari, sajian campursari sudah ada sejak dulu, seperti RRI Semarang punya kelompok musik menggabungkan gamelan, biola, flute, akustik, tapi tetap Jawa," kata Danis saat dihubungi detikJateng, Sabtu (11/12/2021).

Selain itu, ada pula Unit Moril (Uril) yang merupakan lembaga dinas tentara yang bertugas menghibur pasukan. Kelompok ini pun bereksperimen membuat musik-musik serupa campursari.

"Di Uril itu ada seksi musik dan tradisi, sering membuat eksperimen musik seperti itu," ujarnya.

Dalam jurnal berjudul Jejak Campursari (The History of Campursari) yang diterbitkan Universitas Negeri Semarang (Unnes), disebutkan bahwa RRI Semarang selalu menyiarkan acara campursari setiap Rabu malam di pekan pertama dan ketiga.

Penulisnya, Joko Wiyoso yang merupakan staf pengajar jurusan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni Unnes, menyebut kelompok musik RRI bahkan sudah melakukan proses rekaman di Ira Record mulai tahun 1978 hingga menghasilkan sembilan album rekaman.

"Biarpun musik campursari RRI Semarang mampu menembus dapur rekaman, akan tetapi musik campursari RRI Semarang pada waktu itu, tahun 1970-an, keberadaannya masih belum dikenal secara luas oleh masyarakat. Di Jawa Tengah saja, pada kurun waktu yang sama masih kalah populer dengan irama langgam keroncong dan gending-gending kreasi Ki Nartosabdo," tulis Joko.

Karno KD kenalkan musik Sragenan

Sekitar tahun 1980, muncul aliran Sragenan yang bisa dibilang sebagai jenis musik baru pada saat itu. Tak hanya memadukan nada diatonik dan pentatonik, gaya Sragenan juga mengenalkan cara baru menikmati seni musik karawitan.

Musik karawitan sebelumnya banyak didengarkan untuk nglaras. Namun jenis musik yang dipopulerkan oleh Muhamad Karno Kusumo Darmoko alias Karno KD ini justru memiliki suasana gayeng sehingga enak digunakan untuk berjoget ria.

Dosen Etnomusikologi ISI Solo, Aris Setiawan, menilai gaya Sragenan ini bisa juga dikategorikan sebagai campursari. Menurutnya campursari bisa didefinisikan secara luas selama masih menggabungkan gamelan dengan alat musik barat.

"Sragenan bisa saja disebut campursari. Karena campursari tidak ada batasan sampai mana, beda dengan karawitan yang baku, makanya disebut adiluhung. Tapi campursari adalah musik pop rakyat yang bisa berkembang, ada campursari gaya Sragenan, gaya Banyuwangi, dan lain-lain," ujar Aris.

Gaya musik seperti yang dibawakan Karno KD ini oleh sebagian kelompok dianggap merusak tradisi karena sudah tidak menggunakan pakem karawitan lagi. Namun sebagian orang menganggap musik tersebut justru menjaga gamelan tetap hidup di tengah maraknya musik barat.

Populer lewat Manthous-Didi Kempot

Menuju tahun 1990-an, seniman asal Gunungkidul, Yogyakarta, Manthous berhasil membuat campursari populer, terutama di kalangan masyarakat Jawa. Pria bernama asli Anto Sugiartono itu membawakan campursari lebih modern dengan menggunakan keyboard dan alat musik lainnya.

Aris menilai era Manthous ialah titik di mana campursari berkembang pesat dan diterima publik secara luas. Dia memasuki dapur rekaman dan menyelesaikan sejumlah album.

"Sebelum Manthous, mungkin campursari sudah ada, tapi secara aklamasi, Manthous adalah yang pertama mempopulerkan campursari," ujar Aris.

Setelah Manthous populer, artis-artis campursari pun bermunculan, salah satunya Didi Kempot di akhir 1990-an lewat album Stasiun Balapan. Didi Kempot pun membawa campursari dengan gaya yang berbeda.

Lagu-lagu Manthous masih menggunakan syair Jawa halus dan puitis dengan iringan musik yang cenderung halus pula, seperti Nyidam Sari hingga Yen Ing Tawang Ono Lintang. Berbeda dengan Didi Kempot yang banyak menggunakan syair bahasa Jawa ngoko dan musik yang lebih pop.

Era campursari sempat meredup dengan kemunculan musik dangdut koplo yang bisa mengakomodasi semua lagu. Banyak lagu yang awalnya tak dikenal malah bisa populer setelah dibawakan dengan musik koplo.

Bahkan ketika moncer untuk kedua kalinya, Didi Kempot pun memasukkan unsur koplo ke dalam musiknya. Begitu pula artis-artis campursari masa kini. Selain memasukkan unsur koplo, mereka juga kerap mencampur syair Jawa dengan bahasa Indonesia.

"Sejak Didi Kempot booming lagi, campursari berubah arah ke nuansa koplo Jawa, sekarang Denny Caknan dan lain-lain itu juga berubah lagi, mengakomodasi pasar yang disukai generasi masa kini," kata dia.



Simak Video "Melihat Isi Museum Mini Didi Kempot, Pengobat Rindu Sobat Ambyar"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/aku)