Protes Harga Pakan, Peternak Solo Raya Bagi-bagi Ayam ke Warga

Protes Harga Pakan, Peternak Solo Raya Bagi-bagi Ayam ke Warga

Tara Wahyu NV - detikJateng
Rabu, 05 Agu 2026 12:46 WIB
Aksi peternak membagikan ayam di Gladak Solo, Rabu (5/8/2026).
Aksi peternak membagikan ayam di Gladak Solo, Rabu (5/8/2026). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng
Solo -

Peternak ayam petelur yang tergabung dalam komunitas peternak rakyat se-Solo Raya menggelar aksi protes atas kenaikan harga pakan di Gladak, Solo. Dalam aksi tersebut, mereka melakukan teatrikal memberi makan ayam menggunakan fotokopi sertifikat tanah dan serta membagikan puluhan ayam hidup.

Penanggung jawab aksi, Kris Handrika Emmanuel Rahardjo, mengungkapkan aksi memberi makan ayam dengan sertifikat tersebut merupakan simbol kondisi riil peternak saat ini. Para peternak terpaksa 'memakan' aset mereka sendiri demi kelangsungan hidup ternak.

"Itu kenyataan yang hari ini terjadi di teman-teman peternak. Ketika ayam sudah tidak cukup diberi makan dengan pakan yang ada, akhirnya subsidi terjadi jual tanah, jual mobil. Itu sebagai perlambangan bahwa kami hari ini sudah melakukan hal itu untuk menjaga kelangsungan peternak rakyat," ujar Kris kepada wartawan di Gladak, Rabu (5/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengaku para peternak mengeluhkan kondisi harga telur yang terus berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah. Apalagi, di saat harga jual telur jatuh, harga pakan justru melonjak tajam dalam enam bulan terakhir.

ADVERTISEMENT

Kris menyebut, harga jagung di tingkat peternak saat ini mencapai Rp 6.800hingga Rp 7.000 per kilogram. Padahal, harga acuan pemerintah hanya berada di
angka Rp 5.500.

"Pemerintah belum bisa membawa harga jagung untuk di angka harga acuan pemerintah. Padahal kalau kita lihat harga jagung internasional hari ini cukup murah. Kalau itu menjadi salah satu solusi (impor), kenapa harus ditutup?" tanyanya.

Pihaknya juga menyoroti kebijakan impor tunggal melalui BUMN Berdikari. Menurut mereka, kebijakan ini justru memicu kenaikan harga yang signifikan, yakni sekitar Rp 2.000 dalam setengah tahun terakhir. Menurutnya, hal tersebut membuat margin peternak semakin tipis, bahkan menyentuh angka minus.

"Kalau ini berlarut-larut, margin yang ada semakin tipis. Kalau hari ini sudah minus, mau ditunggu sampai kapan? Apa mau menunggu peternak kecil mati dulu baru digantikan mesin atau peternak besar?" lanjut Kris.

Aksi dirinya membagikan ayam hidup juga sebagai bentuk protes terhadap pemerintah. Menurutnya, pihaknya mengaku rugi bila memberikan makan ayam.

"Peternak kalau mau jual ayamnya karena udah nggak bisa ngasih makan juga rugi juga. Jadi mau maju kena, mundur kena, makanya dibagikan aja 50 ekor ayam petelur," terangnya.

Meskipun pemerintah telah menyalurkan bantuan melalui program SPHP, para peternak menilai dampaknya belum terasa signifikan dalam mengontrol harga pakan di lapangan. Mereka berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret sebelum lebih banyak peternak rakyat yang gulung tikar.

"Kami memohon belas kasihan supaya komponen peternak rakyat ini tidak segera hilang dari masyarakat Indonesia," pungkasnya.



(apl/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads