Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) di Kota Semarang mengeluhkan kenaikan harga bahan pokok yang terjadi belakangan. Tak hanya harga bapok yang terus naik, daya beli masyarakat juga menurun sehingga pendapatan mereka semakin berkurang.
Seorang penjual nasi goreng di Semarang, Ida (34), mengaku hampir semua bahan baku yang digunakannya untuk berjualan mengalami kenaikan harga.
"Judek kalau bahas harga bahan pokok. Semua naik, malah emosi sendiri kalau ke pasar. Semua naik, minyak, mi, bumbu," kata Ida saat dihubungi, Minggu (7/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mencontohkan, harga bawang putih yang beberapa hari sebelumnya masih Rp 28 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp 32 ribu. Begitu pula untuk harga bawang merah.
"Bawang merah malah Rp 50 ribu, dulu Rp 38 ribu. Garam dulu aku beli satu bungkus Rp 65 ribu, sekarang Rp 75 ribu," tuturnya.
Tak hanya bahan makanan, harga minyak goreng kemasan dua liter yang sebelumnya Rp 38 ribu kini menjadi Rp 42 ribu. Belum lagi harga plastik yang juga meningkat.
"Plastik kenaikannya bisa Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu per bungkus," ujarnya.
Meski biaya produksi terus meningkat, Ida mengaku tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual karena khawatir pelanggan beralih ke pedagang lain. Kondisi itu membuat keuntungan yang diperoleh semakin tipis.
"Penjualan memang nggak menurun, untungnya mepet banget, yang penting bisa untuk belanja lagi," ungkapnya.
"Apa lagi kalau sudah keduluan MBG, cari micin susah banget, kalau kata sales sudah didrop ke MBG. Brokoli kalau sudah keduluan MBG per kg bisa Rp 30 ribu," lanjutnya.
Keluhan serupa disampaikan penjual rujak keliling, Rusno (56). Pedagang yang sudah berjualan sejak 1998 itu mengatakan kenaikan harga bahan baku dan perlengkapan untuk usahanya mulai terasa memberatkan.
"Semenjak plastik mahal itu, jadi semuanya (harga) barang-barang naik. Yang dulu Rp 5 ribu sekarang jadi Rp 11 ribu," kata Rusno.
Menurutnya, harga berbagai buah yang menjadi bahan utama dagangannya juga ikut naik. Kenaikan berkisar Rp 5-10 ribu per buah.
"Kalau saya jualnya nggak naik, nggak bisa, karena sudah pada langganan, takut nggak beli lagi. Jadi biar sedikit untungnya nggak apa-apa. Tapi yang lain semuanya sudah naik Rp 15 ribu per bungkus, saya Rp 10 ribu," ujarnya.
Rusno juga mengaku, kondisi saat ini merupakan salah satu masa tersulit selama hampir tiga dekade berjualan. Bahkan menurutnya lebih berat dibanding masa pandemi COVID-19 maupun krisis ekonomi 1998.
"Sekarang penjualan rada menurun. Kalau dulu bisa terjual 50 mika ke atas, sekarang hari-hari biasa paling (bisa menjual) 40, 30 mika," ungkapnya.
"Saya jualan dari '98 pas lengsernya Pak Soeharto. Kayaknya parah sekarang, dulu Corona juga nggak parah, harga stabil, kalau ini semua naik. Ekonomi juga lesu banget," lanjutnya.
Ia mengaku, jika dulu dagangannya bisa habis sekitar pukul 15.00 WIB, kini ia kerap baru pulang menjelang magrib karena dagangan belum laku seluruhnya.
Sementara seorang penjual kopi keliling, Dika (21), mengaku mengalami penurunan penjualan belakangan ini. Ia mengatakan, penjualan yang diperolehnya saat ini lebih rendah dibanding saat awal mulai berjualan.
"Kalau dibanding pas awal jualan memang menurun. Dulu bisa sampai 30 sampai 40 cup sehari, sekarang paling mentok 20-25 cup," kata Dika.
Namun, harga kopi yang dijualnya tak naik, masih berkisar Rp 8 ribu hingga Rp 12 ribu per cup. Meski begitu, jumlah pembeli tidak sebanyak beberapa tahun lalu.
"Kalau sekarang ya (penjualan) stabil, tapi kalau dibanding dulu memang turun," ujarnya.
Dika menilai, kondisi ekonomi saat ini ikut memengaruhi daya beli masyarakat. Ia berharap pemerintah lebih serius menjaga stabilitas ekonomi, termasuk nilai tukar rupiah yang belakangan menjadi sorotan.
"Kalau soal mata uang negara harusnya lebih serius, karena itu penting dan berpengaruh besar. Sekarang banyak orang bilang harga-harga naik," katanya.
Penjual kopi keliling lainnya, Fitra (19), juga mengatakan tren penjualan mengalami penurunan cukup signifikan dibanding saat awal membuka usaha pada 2023.
"Kalau dulu pernah sehari 600 cup, sekarang rata-rata sekitar 200 cup," kata Fitra.
Menurutnya, perubahan yang paling terlihat adalah pola belanja para pelanggannya. Mereka cenderung lebih memilih kopi dengan harga termurah.
"Kebanyakan sekarang beli yang paling murah. Yang paling murah kopi susu biasa harga Rp 8 ribu, kalau kopi susu yang ada variannya Rp 12 ribu, itu jarang yang beli," ujarnya.
Menurut Fitra, kecenderungan pembeli di tempatnya memilih kopi dengan harga termurah juga merupakan dampak dari kenaikan harga kebutuhan pokok, ia melihat pelanggan kini lebih mempertimbangkan harga sebelum membeli.
