Imbas nilai tukar Dolar Amerika Serikat (USD) menembus Rp 18.000 langsung dirasakan oleh para perajin tembaga di Tumang, Cepogo, Boyolali. Sebab, sebagian bahan bakunya didatangkan dari impor dan harganya melonjak drastis.
"Dampak itu sangat berpengaruh terhadap kerajinan tembaga. Soalnya bahan tembaga itu ada kenaikan hampir 45%," kata pemilik Nuansa Art, Mimi Sri Ningsih, saat ditemui di galerinya di Dukuh Tumang Tegalrejo, Desa Cepogo, Boyolali, Jumat (5/6/2026).
Kenaikan harga tembaga tersebut terjadi sudah sejak beberapa bulan lalu. Dengan harga dolar yang terus naik saat ini, harga tembaga pun juga terus naik, karena bahan baku saat ini masih impor. Meski harga naik, pihaknya tetap membeli bahan baku karena produksi harus tetap jalan untuk memenuhi pesanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Cuma kita mau ngasih harga (produk kerajinan) itu agak susah, karena konsumen merasa mahal," ungkap dia.
Dikemukakan dia, harga tembaga yang sebelumnya Rp 190 ribu per kilogram kini sudah mencapai sekitar Rp 280 ribu/kg.
Perajin tembaga di Tumang, Cepogo, Boyolali, Jumat (5/6/2026). Foto: Jarmaji/detikJateng |
"Yang kayak limbah gitu ya. Kalau yang impor itu sampai Rp 300 ribu lebih (per kg). Dari semula Rp 200-an (ribu/kg) menjadi Rp 320 ribu/kg," jelasnya.
Dampak kenaikan harga bahan baku tersebut, pihaknya juga menaikkan harga jual. Namun ternyata tidak semua buyer atau konsumen bisa memahami dan memaklumi. Tetapi ada pula yang terpaksa menunda dulu pesanannya.
"Jadi kita sama-sama, mereka (konsumen) naik sedikit (harganya), kita mengurangi keuntungan. Jadi sama-sama jalan," katanya.
Mimi menjelaskan bahwa penyesuaian harga jual ini murni hanya untuk menutupi kenaikan harga bahan baku.
Selain itu, lanjut dia, siasat lainnya yakni dengan mengurangi ketebalan tembaga. Misalnya, dari 08 menjadi 07 atau 06, sehingga harganya bisa lebih murah.
Dia menyatakan, meski ketebalannya berkurang tetapi tidak berpengaruh terhadap kualitas. Tapi berpengaruh pada tekstur ketokan. Jika bahannya tebal, maka ketokannya juga lebih dalam.
"Tapi kalau tipis ya samar-samar," imbuh dia.
Selain memenuhi pasar dalam negeri, Mimi mengatakan, produksi kerajinan tembaga miliknya juga ada yang ekspor ke sejumlah negara.
Perajin lainnya, Haryanto, juga dari Nuansa Art, mengatakan kenaikan kurs dolar AS terhadap rupiah ini berdampak besar terhadap perajin. Pasalnya, tembaga menjadi salah satu bahan baku utama pembuatan handycraft ini.
"Jadi bahan baku naik, tenaga kerja naik, ya akhirnya HPP-nya (harga pokok produksi) naik. Problemnya antara HPP dengan nilai jual itu enggak imbang. Contoh, misalnya sekarang bahan baku tembaga hampir Rp 300 ribu (per kg) gitu. Kemudian bahan yang kita pakai untuk satu produk sekian gitu. Kemudian tenaga kerjanya sekian gitu. Saat kita launch produk baru ke pasar itu, oh kok harganya naik, harganya tinggi. Seperti itu," tambah Haryanto.
Pihaknya berharap harga tembaga bisa turun lagi. Bisa seperti harga 2 tahun lalu, sekitar Rp 180 ribu - Rp 200 ribu per kilogram.
"Saat ini harga reject saja sudah sekitar Rp180 ribu. Harga yang mungkin impor dari Eropa sudah Rp 300 ribuan. Berarti luar biasa. Ya kita mohon dengan sangat peran pemerintah terutama adanya Freeport dan lain sebagainya, bahan baku bisa turun. Sehingga bisa membantu UMKM dan para perajin di Tumang, Cepogo, Boyolali sini," harap dia.
Menurut dia, bahan baku lokal dari bahan-bahan bekas yang biasanya berupa potongan-potongan tidak bisa mencukupi kebutuhan perajin. Karena perajin juga membutuhkan bahan baku berupa lempengan plat berukuran besar yang didapat dari impor.
Ditambahkan, bahwa permintaan pasar produk kerajinan tembaga saat ini cukup banyak. Hanya saja, pihaknya berharap industri kerajinan tembaga ini tidak hanya untuk kalangan atas, tetapi juga rumah tangga dari berbagai kalangan.
Perajin tembaga lainnya, Muhammad Rigan Kadaffi, owner Daffi Art Studio di Tumang juga menyampaikan bahwa kenaikan harga dolar AS sangat berdampak terhadap perajin tembaga.
"Untuk kenaikan dolar itu sangat berdampak ya bagi perajin seperti kami. Karena dampak kenaikan dolar itu membuat bahan bakunya jadi lebih mahal, naik terus harganya. Sekarang per kilonya hampir Rp 300 ribu. Itu kenaikan sudah hampir 40% dari dari awal mulai naik," kata Daffi.
Dampaknya, harga produksi kerajinan juga mengalami kenaikan. Pasalnya, harga pokok produksi juga naik. Hanya saja, dia mengaku kesulitan untuk menjualnya.
"Kalau demand-nya masih banyak sekarang, tapi ya itu karena kenaikan harga bahan baku jadi kita ya kesulitan untuk menjualnya. Soalnya kalau harga tinggi otomatis customer pun juga akan mikir," lanjut dia.
Pihaknya berharap kepada pemerintah, Indonesia bisa memproduksi sendiri tembaga ini. Sehingga tidak perlu lagi impor dari luar negeri.
"Kalau sekarang impor dari Cina dan Eropa. Kalau Indonesia bisa ngolah itu nanti mungkin bisa menekan biaya produksi. Jadi lebih murah," harap Daffi.
Sementara itu Ketua Paguyuban Kerajinan Logam di Tumang, Sriyanto, mengatakan bahwa kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah sangat berdampak kepada para perajin tembaga di Tumang. Karena pembelian bahan baku impor menggunakan dolar. Para perajin pun kesulitan dalam penyesuaian harga produknya.
"Tentu saja ini situasi yang sangat sulit bagi kami selaku pengurus maupun pelaku usaha disini kami sangat terdampak. Karena memang parameter bahan kita itu adalah dolar kita beli itu. Artinya ketiga dolar tinggi itu kita sangat sulit sekali untuk bisa menyesuaikan harga jual produk kita," beber Sriyanto.
"Dan ditambah lagi, tembaga itu masuk sektor logam mulia, kalau nggak salah ya. Artinya harga itu mengikuti harga logam, harga emas lah," sambungnya.
Dia mengungkapkan, dalam 5 bulan terakhir kenaikan logam tembaga hampir 40 persen.
"Itu kita nangis sekali, menjerit sekali ini," ucapnya.
Ditambah lagi, lanjut dia, usaha kerajinan tembaga ini dipasarkan baik dalam negeri dan ekspor. Untuk pasar dalam negeri, efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah, sehingga untuk belanja kebutuhan interior bukan hal yang diprioritaskan.
Situasi ekonomi global yang sedang tidak baik-baik saja, juga berpengaruh pada pesanan dari luar negeri. Sehingga para perajin minim order.
"Yang kedua, secara singkat bisa kita gambarkan, ekonomi global sekarang sedang bermasalah. Otomatis juga kita sangat langsung berimbas. Mereka para pelaku impor itu mereka menahan, kayaknya seperti itu. Jadi tidak belanja dalam situasi seperti ini. Otomatis kita sangat minim order," ungkapnya.
Meski demikian, para perajin tetap berusaha bertahan. Banyak hal yang membuat mereka mempertahankan kerajinan tembaga di Tumang ini. Selain rezekinya di situ, juga terkait dengan sejarah dan warisan budaya yang menjadi kebanggaan warga.

