Para perajin tempe di Kabupaten Banyumas tertekan. Mereka dalam posisi dilematis buntut harga kedelai impor dan bahan penunjang lainnya merangkak naik, namun takut untuk menaikkan harga.
Salah satu perajin tempe di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Isti, mengungkap harga kedelai saat ini mencapai Rp 10.600 per kilogram. Padahal, harga normal biasanya berada di kisaran Rp 9.000 hingga Rp 10.000 per kilogram.
"Untuk terakhir ini Rp 10.600 per kilo. Biasanya Rp 9.000 sampai Rp 10.000 kurang lebih," kata Isti saat ditemui wartawan, Rabu (20/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengungkapkan, kenaikan harga paling terasa terjadi dalam sepekan terakhir. Bahkan harga kedelai disebut terus naik hampir setiap hari.
"Kurang lebih satu minggu ini. Setiap hari naik terus," ujarnya.
Menurutnya, kenaikan harga dipicu pengaruh nilai tukar dolar Amerika Serikat, karena sebagian besar kedelai yang digunakan perajin merupakan produk impor.
"Pengaruh dolar naik karena kedelainya impor juga dari luar negeri. Jadi pengaruh dolar sangat berpengaruh sampai ke Indonesia," jelasnya.
Isti menyebut mayoritas bahan baku tempe yang digunakan berasal dari impor, terutama dari Amerika Serikat dan Argentina. Sementara kedelai lokal dinilai kurang cocok untuk produksi tempe.
"Kedelainya impor semua. Dari Amerika dan Argentina. Kalau lokal saya pernah coba, untuk tahunya kurang bagus, tempenya juga kurang bagus," ungkapnya.
Dalam sehari, Isti mengaku membutuhkan sekitar 30 kilogram kedelai impor untuk memproduksi tempe yang kemudian dipasarkan ke sejumlah wilayah.
Keluhan serupa disampaikan perajin tempe lainnya, Bakhur Fauzi. Ia mengatakan kenaikan harga bahan baku membuat keuntungan para perajin semakin menipis.
"Untuk menyiasati harga kedelai naik, kita nggak memperkecil ukuran produk. Kita pintar-pintarnya marketing, artinya keuntungan semakin menipis," kata Bakhur.
Tak hanya kedelai, sejumlah bahan penunjang produksi juga ikut naik, mulai dari daun pembungkus, plastik hingga ragi.
"Bahan bakunya naik semua. Daun, plastik naik, ragi juga naik," ujarnya.
Bakhur menjelaskan, harga plastik yang sebelumnya Rp 24 ribu kini naik menjadi Rp 34 ribu per paket.
"Plastiknya biasa Rp 24 ribu sekarang jadi Rp 34 ribu," jelasnya.
Meski biaya produksi meningkat, para perajin mengaku belum berani menaikkan harga secara signifikan karena khawatir kehilangan pelanggan.
"Kondisinya memusingkan sekali. Kalau naikin harga takut pembelinya kabur," ucapnya.
Saat ini, Bakhur memproduksi berbagai jenis tempe, mulai dari tempe mendoan kecil seharga Rp 1.000 isi dua lapis, tempe mendoan besar Rp 3.000 isi tiga lapis, tempe bacem Rp 1.800, hingga tempe papan untuk orek seharga Rp 28 ribu per dua kilogram.
Produksi tempe miliknya mencapai sekitar 500 pieces per hari dengan kebutuhan bahan baku sekitar 30 kilogram kedelai impor. Produk tersebut dipasarkan ke Pasar Manis Purwokerto hingga sejumlah rumah makan di Purwokerto.
Menurut Bakhur, jika harga kedelai terus naik, para perajin kemungkinan terpaksa menaikkan harga jual meski hanya sedikit.
"Kalau kondisinya terus naik ya mau nggak mau naikin harga walaupun cuma Rp 50. Ngecilin ukuran tidak mungkin," pungkasnya.
