Seorang warga bernama Wati (44) asal Jalan Jembawan 1, Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, kebingungan untuk berangkat kerja besok lantaran seragamnya terhanyut banjir. Seragam sekolah anaknya yang akan mengikuti ujian semester juga ikut hanyut.
Diketahui, banjir melanda wilayah tersebut pada Jumat (14/5/2026) malam. Kondisi talud di jalan tersebut yang sebelumnya amblas kini hancur total akibat diterjang banjir.
Banjir tersebut lantas melanda rumah yang ditempat Wati bersama tiga anaknya dan suaminya. Bangunan tersebut berdiri persis di depan hancurnya talud.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat terjadi banjir, Wati baru saja pulang kerja pada Jumat kemarin selepas magrib. Dia sempat menyiapkan makanan bagi keluarganya.
Wati yang hendak meletakkan sajian di atas meja tetiba melihat air sungai setinggi dada masuk ke rumahnya. Wanita yang bekerja di perusahaan garmen itu pun keluar bersama keluarganya dan banjir sudah setinggi leher orang dewasa.
"Hari Jumat saya pulang kerja. Nyiapin anak-anak masak di dapur. Terus sudah selesai mau taruh di meja, air sudah masuk. Terus kita lari-lari sudah sedada. Terus ke masjid sudah seleher," kata Wati saat ditemui detikJateng di Jalan Jembawan 1, Minggu (17/5/2026).
Pantauan detikJateng di lokasi hari ini, tampak sejumlah warga sekitar bergotong royong memikul karung berisi pasir. Mereka menata karung tersebut di sepanjang sungai yang sebelumnya berupa Jalan Jembawan 1.
Tampak ibu-ibu berkumpul menyiapkan sarapan untuk para warga. Begitu pula Wati.
Korban banjir di Kalibanteng Kulon, Semarang, Wati (44) Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng |
Barang Elektronik hingga Lemari Rusak
Wati yang baru menandatangani kontrak kerja pada Kamis (14/5/2026) di salah satu perusahaan garmen kini harus kehilangan seragam dan tanda pengenal kerjanya. Belum lagi barang-barang elektronik miliknya yang rusak akibat terdampak banjir.
"Semua habis dari seragam, baju, sepatu. Kayak kulkas dan lemari itu jempalik-jempalik (terbalik). Setrika, magicom, kulkas, rusak semua, gak bisa dipakai. Terus saya kerja baru dikontrak," terangnya.
Dia pun kebingungan bagaimana akan bekerja besok. Wati mengatakan dirinya bakal menjelaskan kondisinya itu ke pihak perusahaan sembari berharap mendapat pengertian.
"Terus saya konfirmasi ke PT-nya, saya kan baru dikontrak jadi nggak tahu bisa atau nggak (pergi bekerja). Saya izin dulu beberapa hari," tuturnya.
Wati dan suaminya, Didik Praja (47), menjadi tulang punggung keluarga. Dia mengatakan, sehari-harinya Didik membuka jasa pijat refleksi.
Seragam Sekolah-Sepatu Anak Hanyut
Tak hanya seragam, sebagian pakaian keluarga Wati terbawa banjir, sisanya kotor menghitam dipenuhi lumpur. Bahkan, anak bungsunya kemarin hanya mengenakan kaus.
"Yang anak kecil kemarin sampai pakai kaos oblong tuh, nggak pakai celana karena nggak ada celana. Saya dipinjami Bu RT 1. Ayahnya (Didik) dikasih kaos sama sarung pinjam dari masjid. Seadanya, benar-benar seadanya," terang Wati.
Anak sulung Wati, Mufidah (10), kini menempuh pendidikan kelas 3 MI. Jumat (29/5/2026), Mufidah kudu mengikuti ujian semester sekolah. Namun apa daya, seragam sekolah Mufidah juga hilang terbawa banjir.
"Sepatu anak-anak (hilang) besok sekolahnya, soalnya mau tes (ujian semester) tanggal 29 yang MI. dia kan seragam nggak ada semua (terbawa banjir)," kata Wati.
Wati pun bakal menjelaskan kondisi anaknya yang kehilangan seragam akibat banjir ke sekolah. Wati mengatakan, buku-buku sekolah anaknya juga basah pascabanjir.
Dia berharap pemerintah segera memperbaiki kerusakan talud yang habis diterjang banjir. "Segera diperbaiki pemerintah," harapnya.
30 Warga Masih Menungsi
Sementara itu, Lurah Kalibanteng Kulon, Parjono, menyebut adanya 30 warga dari 8 kepala keluarga (KK) yang mengungsi. Rumah milik delapan KK itu berada di pinggir talud yang hilang terbawa banjir.
"Yang terdampak ini ada sebenarnya ada 8 KK nggih. Dari 8 KK total totalnya 30 orang. Untuk tempat pengungsian hari pertama kemarin di Masjid Al-Hikmah, tetapi untuk kemudian langsung ke rumah-rumah saudaranya," sebut Parjono.
Adapun bantuan yang telah diberikan pemerintah yakni berupa logistik dan dapur umum. Parjono mengatakan, perangkat kelurahan urunan uang tunai untuk disalurkan kepada korban banjir di wilayahnya.
"Alhamdulillah dapat bantuan dari Ibu Wali Kota lewat Dinas Sosial, kemudian dari BPBD, kemudian dari PMI, dari kecamatan. Ini mendapatkan bantuan dari kecamatan kemarin logistik untuk dapur umum ini juga sudah disiapkan di sini," ungkapnya.
"Kemarin kami share kepada lembaga RT RW yang ada di wilayah Kelurahan Kalibanteng Kulon untuk seikhlasnya berkenan memberikan bantuan pakaian bekas pakai, kemudian perlengkapan sekolah. Uang tunai dari perangkat kelurahan," lanjutnya.
Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinas sosial dan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kota Semarang terkait bantuan yang dibutuhkan warga.
"Kemarin kami sudah koordinasi dengan Dinas Sosial, termasuk ke kantor Kesra," ucapnya.

