Terobosan dilakukan oleh sebuah Warung Soto Boyolali. Guna menunjang manajemen pengelolaan warungnya, warung itu merekrut Artificial Intelligence (AI) Engineer. Untuk tugas apa?
Rekruitmen AI Engineer itu dilakukan oleh warung soto bernama Spesial Soto Boyolali (SSB) Hj Hesti. Warung Soto asal Boyolali yang telah memiliki 85 gerai di Indonesia dan satu di Arab Saudi ini membuka lowongan pekerjaannya lewat situs linkedin.
Owner dan Direktur Utama warung tersebut, Hj. Hesti Noviasari, S.E. membenarkan pihaknya merekrut AI engineer guna membantu dalam manajemen modern bisnis warung sotonya. Selain untuk membantu dalam pengelolaan warung, juga guna meningkatkan pelayanan prima kepada pelanggan serta menekan food waste.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita ini kan warung Soto yang ada beberapa cabang. Nah, kita butuh untuk satu, kontrol ya. Kemudian yang kedua, juga untuk sistemasi. Sistemasi dari mulai operasional maupun administrasi," kata Hesti diminta konfirmasi detikJateng, Sabtu (9/5/2026).
Dijelaskan Hesti, warung sotonya telah memiliki banyak cabang dan pengelolaannya terpusat. AI engineer ini untuk membantu tugas manajemen dalam mengontrol operasional maupun administrasi.
"Itu sangat terbantu oleh AI. Jadi, karena kebutuhan akan itu, akhirnya kami punya program-program yang harus dibangun oleh AI Engineering tersebut," jelasnya.
Dia mencontohkan, banyak operasional yang bisa dibantu dengan AI engineer. Misalnya, untuk kontrol jam buka dan tutup warung setiap gerai, kontrol biaya, SDM, dan lainnya.
"Operasional itu banyak sih, untuk kontrol SDM, kemudian customer juga, berapa customer yang masuk, kemudian berapa kebutuhan SDM-nya, kemudian berapa produk yang harus dimasak. Kurang lebihnya seperti itu," paparnya.
Kemudian juga untuk mengontrol yang sifatnya administratif, termasuk kontrol administrasi keuangan. Karena warung soto sistem makan dulu baru bayar belakangan, sehingga dibutuhkan kejujuran.
"Kita kan warungnya warung kejujuran. Warung lillahi taala. Warung ambil-ambil sendiri kemudian bayarnya belakangan. Semua makanan side dish, lauk pauknya itu kan prasmanan. Nah itu juga bisa jadi untuk control kami di kasir, kemudian inline dengan produk yang kita produksi," ucap dia.
Menurut dia, penggunaan AI engineer juga untuk melaksanakan sejumlah tugas dalam pengelolaan warung Soto miliknya. Selain untuk mengontrol operasional juga secara administrasinya. Stok-stok kebutuhan warung juga bisa dikontrol dari AI engineer ini.
Selain itu, lanjut dia, penggunaan AI engineer juga untuk menekan food waste. Karena warung soto Spesial Soto Boyolali dengan sistem semi prasmanan, harapannya menu yang disajikan lebih presisi sehingga tidak banyak sisa makanan yang dibuang.
"Harapan dengan penerapan AI dalam bisnis ini adalah terkait isu lingkungan yakni menekan food waste. Karena dengan sistem SSB yang semi prasmanan, apabila sistem AI bisa membaca pola pelanggan, harapannya sajian menu kita seperti sate-satean dan gorengan (termasuk soto yang sekali masak harus banyak) lebih presisi. Sehingga tidak banyak sisa makanan yang dibuang. Karena komitmen SSB semua sisa produk tidak boleh dijual lagi," tegasnya.
Hesti kembali menyatakan, bahwa kebutuhan adanya AI engineer ini untuk meningkatkan profesionalisme dalam pengelolaan bisnisnya. Sehingga service ke pelanggan semakin lebih baik, kontrol kualitas terjaga dan kontrol kuantitas produksinya juga terjaga.
Tenaga AI engineer yang dibutuhkan, kata Hesti, masih sekitar 10 orang lagi. Saat ini di manajemen bisnisnya tersebut telah memiliki 2 pegawai AI engineer. Lowongan rekruitmen formasi ini masih dibuka.
Pihaknya berharap dengan penggunaan AI ini, terutama untuk service excellent ke pelanggan, kelancaran operasional dan juga kontrol administratif di internal.
Warung Soto SSB, jelas dia, saat ini sudah ada 85 gerai di seluruh Indonesia. Juga ada satu gerai di luar negeri yakni di Arab Saudi. Dengan jumlah karyawan total mencapai sekitar 3.000 orang. Seluruh manajemennya dikontrol dari kantor pusat.
Warung Soto SSB ini telah dikelolanya sejak tahun 2012 lalu. Waktu itu sistemnya ada kemitraan. Ada mitra-mitra yang bekerja sama dengan pihaknya. Cikal bakalnya dari warung soto milik orang tuanya yang ada di Boyolali, yang kemudian dikembangkan mulai tahun 2012 tersebut.
(alg/alg)
