Nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah menjadi salah satu indikator ekonomi yang banyak diperhatikan masyarakat. Pergerakan kurs ini dapat memengaruhi berbagai sektor, mulai dari harga barang impor, biaya perjalanan luar negeri, hingga kondisi ekonomi secara umum.
Pada Senin, 9 Maret 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berada di kisaran Rp 17.000 per dolar. Angka ini menunjukkan bahwa rupiah masih berada dalam tekanan setelah mengalami pelemahan beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor global maupun domestik yang memengaruhi pasar keuangan.
Berikut informasi mengenai kurs dolar terhadap rupiah hari ini serta faktor-faktor yang membuat rupiah mengalami pelemahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kurs 1 USD Berapa Rupiah Hari Ini 9 Maret 2026?
Berdasarkan data Bank Indonesia, kurs dolar AS terhadap rupiah pada 9 Maret 2026 berada pada kisaran:
- Kurs jual: Rp 17.003,60 per USD
- Kurs beli: Rp 16.834,40 per USD
Kurs jual adalah harga yang digunakan ketika masyarakat atau pelaku usaha membeli dolar dari bank. Sementara itu, kurs beli merupakan harga yang digunakan bank ketika membeli dolar dari masyarakat.
Di sisi lain, data dari Bloomberg menunjukkan bahwa pasangan mata uang USD-IDR berada di level Rp 16.961 per dolar AS pada 9 Maret 2026 pukul 02.58 EDT (Eastern Daylight Time). Nilai tersebut tercatat naik sekitar 36 poin atau 0,21 persen, yang menunjukkan pelemahan rupiah terhadap dolar.
Laporan Bloomberg juga menyebut rupiah sempat melemah hingga sekitar Rp 17.015 per dolar AS pada perdagangan Senin. Level ini bahkan melampaui titik terendah sebelumnya yang tercatat pada Januari 2026 dan mendekati level yang pernah terjadi saat krisis finansial Asia.
Sebagai gambaran, ini pergerakan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat beberapa waktu terakhir:
Diagram kurs transaksi rupiah. Foto: Bank Indonesia |
Tak hanya rupiah, indeks saham Indonesia juga mengalami tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan turun lebih dari 5 persen sehingga berpotensi memasuki fase bear market, yang mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi dan arah kebijakan di Indonesia.
Mengapa Rupiah Bisa Melemah?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.
Pertama adalah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama konflik di kawasan Timur Tengah. Konflik tersebut membuat investor lebih berhati-hati dan cenderung memindahkan dana mereka ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS. Kondisi ini membuat permintaan terhadap dolar meningkat sehingga mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami pelemahan.
Faktor kedua adalah kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan fiskal Indonesia. Dalam laporan Bloomberg disebutkan bahwa rupiah telah mengalami tekanan selama beberapa bulan karena investor mulai mempertanyakan prospek fiskal serta arah kebijakan ekonomi Indonesia ke depan. Ketidakpastian ini membuat arus modal asing menjadi lebih berhati-hati.
Selain itu, kenaikan inflasi domestik juga menjadi salah satu faktor yang menekan nilai tukar rupiah. Data dari Trading Economics menunjukkan bahwa inflasi tahunan Indonesia pada Februari 2026 mencapai 4,76 persen, meningkat dari 3,55 persen pada bulan sebelumnya. Angka ini bahkan melampaui target inflasi bank sentral yang berada pada kisaran 1,5-3,5 persen.
Kenaikan inflasi tersebut terjadi karena berbagai komponen harga mengalami peningkatan, terutama pada sektor makanan, perumahan, pakaian, serta beberapa layanan konsumsi lainnya. Kondisi ini membuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin besar karena inflasi yang meningkat dapat mengurangi daya beli mata uang domestik.
Nilai tukar 1 dolar AS terhadap rupiah pada 9 Maret 2026 berada di kisaran Rp 16.900 hingga Rp 17.000 per USD berdasarkan data Bank Indonesia dan Bloomberg. Pergerakan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti ketegangan geopolitik global, kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia, serta meningkatnya inflasi domestik. Karena itu, perkembangan kurs rupiah akan terus menjadi perhatian karena dapat berdampak pada stabilitas ekonomi, harga barang, serta biaya hidup masyarakat.
Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
(num/aku)












































