Menkeu Ingatkan Ancaman Resesi 2023, Solusi Sandiaga: Perbaiki UMKM!

Pradito Rida Pertana - detikJateng
Sabtu, 01 Okt 2022 22:33 WIB
Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno saat memberikan keterangan di Bantul, Sabtu (1/10/2022).
Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno saat memberikan keterangan di Bantul, Sabtu (1/10/2022). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng)
Bantul -

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengingatkan ekonomi global berisiko resesi pada 2023. Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno menyebut solusinya yaitu dengan memberi bantuan pelaku UMKM karena resesi menghambat lapangan kerja.

"Resesi itu, gini, kalau inflasi harga-harga naik sehingga yang diperbaiki adalah suplainya, produk pertaniannya dan produk energinya," kata Sandiaga usai menghadiri pembukaan Kustomfest 2022 di Jogja Expo Center (JEC), Banguntapan, Bantul, Sabtu (1/10/2022).

Sandiaga mengatakan jika resesi terjadi maka jumlah lapangan kerja bakal berkurang drastis karena ada perlambatan ekonomi. "Kalau resesi itu adalah lapangan kerja sulit karena ada perlambatan," ucapnya.


Sehingga, lanjut Sandiaga, yang perlu menjadi perhatian adalah sektor UMKM. Karena sektor UMKM menyumbang sebagian besar lapangan kerja di Indonesia.

"Jadi yang perlu diperbaiki adalah UMKM-nya. Beri bantuan kepada UMKM karena 97 persen lapangan kerja itu dihasilkan UMKM," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan ekonomi global berisiko resesi pada 2023. Hal itu disebabkan oleh pengetatan moneter berupa kenaikan suku bunga acuan di bank sentral sejumlah negara.

"Bank Dunia sudah menyampaikan kalau bank sentral di seluruh dunia melakukan peningkatan suku bunga secara cukup ekstrem dan bersama-sama, maka dunia pasti mengalami resesi di 2023. Inilah yang sekarang sedang terjadi," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa secara virtual, Senin (27/9).

Sikap bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) yang mengerek suku bunga acuan 75 basis poin (bps) dari 2,25-2,5% menjadi 3-3,25% pada September 2022 turut memantik gejolak berbagai bank sentral dunia.

Menurut catatan Sri Mulyani, suku bunga acuan bank sentral Inggris sudah naik 200 bps selama 2022. Begitu pula dengan The Fed yang sudah menaikkan bunga acuan 300 bps sejak awal tahun untuk merespons inflasi yang mencapai 8,3%.

"Kenaikan suku bunga oleh bank sentral terutama di negara-negara maju secara cukup cepat dan ekstrim itu pasti akan memukul pada pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut," ujar Sri Mulyani.



Simak Video "Cerita Warga Korban Banjir Bandang di Semarang, Harta Benda Ludes"
[Gambas:Video 20detik]
(aku/sip)