Jerit Pembudi Daya Ikan di Kulon Progo Imbas Harga Pakan Terus Naik

Jalu Rahman Dewantara - detikJateng
Kamis, 21 Jul 2022 15:03 WIB
Kondisi kolam ikan di wilayah Wates, Kulon Progo, Kamis (21/7/2022).
Kondisi kolam ikan di wilayah Wates, Kulon Progo, Kamis (21/7/2022). (Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikJateng)
Kulon Progo -

Pembudi daya ikan di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengeluhkan mahalnya harga pakan. Ada kenaikan harga yang signifikan, tapi kualitasnya justru menurun.

Salah satu pembudi daya, Wagiran menuturkan saat ini harga pakan sudah mencapai Rp 385 ribu per sak. Ini naik dibandingkan bulan lalu yang hanya berkisar Rp 290 ribu per sak.

"Harga pakan Rp 290 per sak dari Januari. Setiap bulan itu naik terus sampai bulan ini jadi Rp 385 ribu per sak. Entah Agustus bakal naik lagi apa nggak," ucap Ketua Kelompok Pembudi Daya Ikan (Pokdakan) Trunojoyo, Kapanewon Wates ini, Kamis (21/7/2022).


Wagiran menyebut naiknya harga ini tak diimbangi dengan kualitas bahan pakan. Bahkan menurutnya kualitas pakan saat ini justru cenderung menurun dibandingkan saat harga pakan masih terjangkau.

"Hebatnya sudah harga naik diikuti dengan kualitas pakan yang turun. Secara feed confersion ratio (FCR) tidak imbang, rasionya jomplang. Permasalahannya dengan operasional dan kualitas pakan anjlok secara rasio jadi nggak kekejar," ucapnya.

"Jadi sekarang itu ibarat sudah jatuh ditimpa tangga, ajur (hancur) pembudi daya," imbuhnya.

Di lain sisi, Wagiran menyebut bahwa daya beli masyarakat terhadap ikan di Kulon Progo masih rendah. Maka dari itu kenaikan harga sangat memberatkan para pembudi daya. Pemerintah diharapkan bisa turun tangan menangani persoalan ini, salah satunya lewat sistem subsidi harga.

"Karena daya beli masyarakat belum bisa menyesuaikan kalau dinaikkan mestinya ada subsidi harga pakan karena ikan dalam hal ini perikanan budi daya sudah masuk dalam ketahanan pangan, berhak dapat subsidi," ucapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kulon Progo, Trenggono Trimulyo, membenarkan harga pakan terus melambung. Sementara itu harga jual ikan masih rendah, sehingga dengan kenaikan ini pembudi daya sulit menutup biaya produksi.

"Kondisi yang ada saat ini memang benar harga pakan terus naik, sementara harga jual relatif rendah atau kalaupun ada kenaikan, itu pun kenaikannya tidak signifikan sehingga tidak sebanding dengan biaya produksi, artinya keuntungan pembudi daya rendah atau bahkan cenderung mengalami kerugian," ujarnya.

Trenggono mengatakan dengan kondisi harga pakan yang terus melambung, untuk efisiensi pakan dapat dilakukan dengan fermentasi pakan yaitu pakan dicampur dengan probiotik atau pakan dibibis atau diberi air terlebih dahulu sebelum digunakan. Dengan langkah ini diharapkan tingkat kecernaan pakan meningkat sehingga nilai FCR menurun.

"Nilai ideal FCR sendiri adalah 1:1, artinya 1 kg pakan menghasilkan 1 kg daging, sehingga dengan langkah fermentasi atau pun langkah pakan dibibis terlebih dahulu nilai FCR bisa 1:0,9 atau dapat lebih rendah lagi," jelasnya.

Terkait bisa tidaknya subsidi pakan bagi pembudi daya ikan, Trenggono menyatakan mungkin saja dilakukan akan tetapi kewenangan ini ada di pemerintah pusat. Jika pemerintah pusat menghendaki, maka dinas dapat mengusulkan subsidi pakan ke DKP Provinsi ataupun ke Pusat (KKP).

"Mungkin saja tapi tetap ini merupakan kewenangan pemerintah pusat," ucapnya.



Simak Video "Kreatif! Raup Cuan Lewat Kerajinan dari Limbah Jagung"
[Gambas:Video 20detik]
(apl/rih)