Status Siaga Darurat Kekeringan dan Karhutla di Boyolali Diperpanjang

Status Siaga Darurat Kekeringan dan Karhutla di Boyolali Diperpanjang

Jarmaji - detikJateng
Rabu, 28 Okt 2026 16:37 WIB
Plt Kalak BPBD Boyolali, Ari Wahyu Prabowo.
Plt Kalak BPBD Boyolali, Ari Wahyu Prabowo. (Foto: Jarmaji/detikJateng)
Boyolali -

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali memperpanjang status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan hingga 50 hari ke depan. Plt Kalak BPBD Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, mengungkapkan sejumlah pertimbangan status siaga darurat itu diperpanjang.

"Dari hasil evaluasi, ini memang dilakukan perpanjangan terkait dengan status siaga darurat. Dari evaluasi dilakukan perpanjangan mulai tanggal 1 November sampai tanggal 20 Desember (2026). (Diperpanjang) Selama 50 hari," ujar Plt Kalak BPBD Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, saat dihubungi para wartawan, Rabu (28/10/2026).

Keputusan tersebut diambil dalam rapat evaluasi yang dipimpin langsung Bupati Boyolali, Agus Irawan, dan dihadiri jajaran Forkopimda dan stakeholder-stakeholder terkait.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelumnya Bupati Boyolali, Agus Irawan, mengeluarkan SK tentang penetapan status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan tahun 2026. SK nomor 100.3.3.2/487 tahun 2026, tentang penetapan status siaga darurat itu berlaku sejak 21 Juli hingga 31 Oktober 2026.

ADVERTISEMENT

Ari menyebutkan sejumlah pertimbangan penetapan status tersebut diperpanjang. Salah satunya, masih ada sumber air yang belum terisi.

"Walaupun ini secara kondisi cuaca, ini nanti memang sudah ada hujan di beberapa tempat dan juga mendung. Tetapi kalau melihat kondisi beberapa wilayah yang saat ini terjadi kekeringan, sumber mata air itu belum terisi. Jadi sumber-sumbernya masih kering. Ini masih kita lakukan pemantauan di wilayah," kata Ari.

Oleh karena itu, lanjut dia, distribusi bantuan air bersih kepada wilayah yang mengalami kekeringan, akan terus dilakukan. Hal itu dilakukan sampai masyarakat tidak membutuhkan bantuan air bersih lagi.

"Jadi terkait dengan dropping air bersih ini tetap kita akan lakukan sampai kondisi di lapangan ini memang benar-benar, oh ini masyarakat sudah tidak perlu droping air. Jadi komitmennya Pemerintah Kabupaten Boyolali akan terus melakukan dropping air, mentargetkan sampai bulan Desember (2026) itu sekitar 12 juta liter air bersih," tegas Ari.

Berdasarkan data BPBD terbaru, wilayah di Kabupaten Boyolali yang terdampak kemarau panjang, dan mengalami krisis air bersih saat ini mencakup 13 kecamatab. Cakupannya pun tersebar di 53 desa, dan 193 dukuh.

"Itu memang saat ini masih menjadi wilayah-wilayah mitigasi. Jadi tetap kita lakukan intervensi. Tidak menutup kemungkinan dengan berjalannya waktu ada penambahan wilayah-wilayah ataupun mungkin wilayah yang tertentu dengan kondisi curah hujan sudah tidak memerlukan dropping. Kita lakukan pemantauan," imbuhnya.

Selain penanganan krisis air, rapat evaluasi tersebut juga menyoroti upaya pencegahan dan mitigasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi dan Merbabu.

"Bapak Bupati meminta laporan kesiapsiagaan dari masing-masing pihak. Alhamdulillah, hingga hari ini beberapa titik kebakaran di Taman Nasional Gunung Merapi dan Merbabu bisa tertangani dengan baik sehingga tidak meluas," lanjutnya.

Terkait prediksi cuaca, BPBD merujuk pada informasi BMKG yang menyebutkan bahwa fenomena El Nino pada periode Oktober hingga November masih cenderung kuat. Hujan dengan intensitas tinggi diperkirakan baru akan turun secara merata pada pertengahan Desember.



(aku/ams)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads