Wisata Karanganyar Masih Bergeliat Meski Ada Karhutla Gunung Lawu

Wisata Karanganyar Masih Bergeliat Meski Ada Karhutla Gunung Lawu

Agil Trisetiawan Putra - detikJateng
Kamis, 22 Okt 2026 18:05 WIB
Kebakaran Gunung Lawu. Foto diambil dari Sakura Hills Karanganyar, Kamis (22/10/2026).
Kebakaran Gunung Lawu. Foto diambil dari Sakura Hills Karanganyar, Kamis (22/10/2026). Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng
Karanganyar -

Kebakaran hutan di lereng Gunung Lawu tidak mempengaruhi pariwisata di Kecamatan Tawangmangu dan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.

"Sampai hari ini tidak ada pengaruh, karena jauh dari lokasi wisata kita. Baik yang dikelola Desa, Swasta, maupun Pemkab," kata Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Karanganyar, Yopi Eko Jati Wibowo, saat dihubungi awak media, Kamis (22/10/2026).

Titik api sendiri masih cukup jauh dari pemukiman dan lokasi wisata di Tawangmangu dan Ngargoyoso. Yopi mengatakan, tidak ada penurunan jumlah wisatawan selama Karhutla ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lokasi wisata masih buka seperti biasa. Pihak menyampaikan kepada pengelola tempat wisata untuk tetap mewaspadai Karhutla Lereng Lawu ini.

ADVERTISEMENT

"Tidak ada (tempat wisata yang tutup), kecuali yang jalur pendakian yang ditutup. Kunjungan wisatawan juga masih normal, cenderung meningkat, utamanya saat akhir pekan," ucapnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Desa Berjo, Dwi Haryanto mengatakan kunjungan wisatawan di Desa Berjo selama Karhutla ini masih normal. Terlebih di Desa Berjo tidak mendapatkan dampak langsung dari Karhutla ini

"Tidak terdampak (wisata di Berjo). Selama 8 hari ini bagus, hari Minggu itu pengunjung sangat banyak, kisaran 5 ribu pengunjung. Jumlah pengunjung normal," kata Dwi.

Dia mengatakan, sempat ada debu tipis yang sampai pemukiman. Itu terjadi saat api masih besar, dan angin kencang. Namun saat kondisinya sangat normal.

Dari pantauan detikJateng, titik api juga terlihat di kawasan Sakura Hills. Namun lokasinya masih sekira 1-3 kilometer, sehingga belum begitu mengkhawatirkan.

Sementara itu, Founder The Lawu Park Parmin Sastro Wijono, mengatakan ada tim gabungan terus bekerja untuk melakukan pemadaman dan penyekatan api agar tidak masuk ke pemukiman.

"Kalau dari Sakura Hills, titik api di pos satu, kalau kita lihat masih cukup jauh. Rata-rata yang terbakar hutan yang relatif jarang pohonnya. Yang pohon padat relatif masih utuh. Mungkin sekitar 3 km dari Sakura Hills," ucap Parmin.

Untuk The Lawu Grup sendiri, ada penurunan jumlah pariwisata, namun masih cenderung normal. Namun hal itu tidak dipengaruhi Karhutla Lereng Lawu.

"Dampaknya ya turun, tapi belum begitu drastis. Karena ini weekday yang tidak bisa dijadikan ukuran, ketahuannya kan weekend. Kalau weekday, ada atau tidaknya kebakaran, di Lawu sama saja ya cenderung sepi," ucapnya.

"Tahun ini dibandingkan tahun lalu tetap ada penurunan, utamanya karena faktor ekonomi yang masih belum bangkit kembali. Secara umum ada penurunan," imbuhnya.

Hingga saat ini, belum ada tamu yang melakukan pembatalan pesanan baik di Sakura Hills maupun The Lawu Park.

Dihubungi terpisah, Ketua BPC PHRI Karanganyar, Hardoyo, mengatakan penurunan jumlah tamu hotel bukan karena Karhutla, namun memang siklus mendekati akhir tahun.

"Tidak ada (penurunan jumlah tamu hotel). Kalau terkait penurunan okupansi, itu pengaruh situasi dan kondisi. Kalau Oktober dan November menurun, karena mending diundur ke tahun baru," kata Hardoyo.

Diketahui, Gunung Lawu terbakar sejak Kamis (15/10). Pemkab Karanganyar telah menetapkan status tanggap darurat terkait kebakaran ini.

Kalakhar BPBD Karanganyar, Sugiharjo, mengatakan pada proses pemadaman hari ke-7, water bombing dilakukan sebanyak tujuh kali dengan dua helikopter dengan total kapasitas air 14 ribu liter.

"Perkiraan luas lahan yang terbakar 648 hektare," kata Sugiharjo, kemarin.



(afn/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads