Macan Tutul Jawa Terekam Kamera di Nusakambangan Cilacap

Macan Tutul Jawa Terekam Kamera di Nusakambangan Cilacap

Anang Firmansyah - detikJateng
Selasa, 20 Okt 2026 20:48 WIB
Macan Tutul Jawa yang terekam kamera trap saat beraktivitas di kawasan Cagar Alam Pulau Nusakambangan pada minggu lalu.
Macan Tutul Jawa yang terekam kamera trap saat beraktivitas di kawasan Cagar Alam Pulau Nusakambangan pada minggu lalu. Foto: Dok BKSDA Cilacap
Cilacap -

Seekor macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) terekam kamera jebak atau camera trap di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap. Macan tutul itu diperkirakan terekam kamera pada tanggal 13-14 Oktober minggu lalu.

"Iya satu (Macan Tutul), cuma monitoring sebentar kemarin. Kalau nggak salah mungkin dari antara Selasa malam atau Rabu dini hari kemarin," kata Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam (RKSDA) Wilayah Cilacap, Wahyono Restanto, saat dihubungi wartawan, Selasa (20/10/2026).

Wahyono mengatakan rekaman kamera jebak tersebut memperlihatkan satu individu macan tutul. Pemantauan dilakukan dalam rentang 12-15 Oktober 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di Nusakambangan penelitian terakhir sih 20. Cuma kita di pulau itu satu pulau. Kita fokusnya karena terkait keterbatasan sumber daya, kita fokusnya di kawasan kami saja," terangnya.

ADVERTISEMENT

Dia menjelaskan, pemantauan oleh petugas BKSDA lebih sering dilakukan di kawasan Cagar Alam Nusakambangan Barat dan Cagar Alam Nusakambangan Timur. Sementara itu, penelitian mengenai keberadaan satwa liar di wilayah tersebut juga dilakukan oleh pihak lain, termasuk Yayasan Kars.

Menurut Wahyono, macan tutul Jawa beberapa kali terpantau di kawasan Nusakambangan Barat. Berdasarkan pemantauan yang pernah dilakukan, setidaknya terdapat empat yang kerap terlihat di kawasan tersebut. Dalam pemantauan lainnya, jumlah yang terpantau mencapai enam ekor.

"Kalau di barat setidaknya ada yang sering terlihat. Beberapa kali ada empat, setidaknya ada empat. Kalau kita pantau ada enam ekor," ujarnya.

Selain macan tutul Jawa, Nusakambangan juga menjadi habitat berbagai satwa liar lainnya. Beberapa jenis mamalia yang terpantau di antaranya kancil, kijang, landak, dan binturong.

Binturong termasuk satwa yang dilindungi dan relatif jarang terlihat. Meski demikian, keberadaannya pernah terdeteksi melalui kamera jebak yang digunakan dalam kegiatan pemantauan satwa liar, termasuk penelitian yang melibatkan elang Jawa.

"Selain macan tutul, yang ada status perlindungannya ada binturong yang kita juga jarang sekali, tapi pernah terlihat," jelasnya.

Selain itu, terdapat kucing hutan dan musang yang juga menjadi bagian dari keanekaragaman satwa di Nusakambangan.

Wahyono menerangkan, macan tutul Jawa dan macan kumbang bukanlah dua spesies yang berbeda. Keduanya merupakan jenis yang sama, yakni Panthera pardus melas. Perbedaan warna hitam pada macan kumbang berkaitan dengan variasi genetik yang memengaruhi warna bulunya.

"Dia sebetulnya sama jenisnya, Panthera pardus melas. Cuma yang kumbang ada kelainan genetik, jadi rambutnya itu lebih kehitaman," pungkasnya.



(afn/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads