Kisah Gumuk Candi di Jogosetran Klaten, Diduga Puing Catra

Achmad Husain Syauqi - detikJateng
Minggu, 18 Okt 2026 15:18 WIB
Penampakan batuan yang ada di Gumuk Candi, Desa Jogosetran, Kalikotes, Klaten, Minggu (18/10/2026). Foto: Achmad Husain Syauqi/detikJateng
Klaten -

Di Desa Jogosetran, Kecamatan Kalikotes, Klaten terdapat satu tempat yang dikenal dengan sebutan Gumuk Candi. Sebutan gumuk (gundukan tanah) tersebut sudah berlangsung turun temurun.

"Sejak dulu, saya masih kecil, mbah-mbah dulu namanya juga gumuk. Tidak tahu itu apa," ungkap warga sekitar, Fuad, kepada detikJateng Minggu (18/10/2026).

Warga lain, Sri Umbuk (72), menceritakan dulu gundukan tanahnya tinggi. Namun sekarang sudah rata tanah.

"Riyin inggil, mungkin nggih kenging banyu udan terus gogos (dulu tinggi mungkin karena kena air hujan kemudian tergerus), tinggal batu itu," kata Sri yang rumahnya di barat gumuk.

Menurut Sri, sejak dirinya kecil tidak ada arca atau batu kali di lokasi. Yang ada hanya pecahan batu beberapa di lokasi.

"Dulu di sini tapi sama yang punya kebun ditaruh di bawah pohon mangga. Di sini satu, sana dua, satunya di sana, itu dulu," jelasnya.

"Pernah ada yang ke sini neliti. Tapi katanya yang dicari cuma batu yang hitam," imbuh Sri.

Pantauan detikJateng di lokasi, ada tiga batu kapur di tengah kebun yang disebut sebagai gumuk. Satu berbentuk seperti piring berundak, sedangkan lainnya seperti piring besar diameter sekitar 60 sentimeter.

Di sekitar lokasi tidak ada temuan batu andesit. Tapi batu bata besar panjang sekitar 40 sentimeter dan lebar 15 sentimeter di lokasi gumuk.

Pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi, menyebut jika melihat bentuknya, batu-batu tersebut bekas catra atau chhatra. Hal itu terlihat dari garis di batu tersebut.

"Catra ini, ada garis lingkaran ke atas itu tapi sudah aus. Perkiraan reruntuhan bata merah itu dulu struktur stupa tunggal dan bagian catra ditempatkan pada bagian paling atas," terang Hari melihat foto yang dikirim detikJateng.

Menurut Hari, stupa tunggal semacam itu ada di beberapa lokasi. Seperti di stupa Abhayagiri, stupa Dawangsari, dan stupa Mintaraga.

"Seperti di stupa Abhayagiri, stupa Dawangsari, dan stupa Mintaraga. Berbentuk stupa tunggal tidak ada bangunannya," katanya.

Fungsi stupa tunggal, dahulu kala digunakan untuk menyimpan abu jenazah atau benda-benda aliran Buddha. Selain itu juga digunakan sebagai penanda batas wilayah terluar.

"Selain itu untuk penanda batas wilayah terluar dari wilayah Buddha. Di sekitar temuan stupa tunggal tidak ditemukan arca-arca karena itu cuma struktur," sambung Hari.

Hari menambahkan, meski warga menyebut gumuk candi, tapi di lokasi tidak ada bangunan candi. Menurutnya, bangunan candi diperkirakan dibangun pada abad 9-10 Masehi

"Sekitar abad 9-10 M, di Klaten rata-rata abad itu semua (temuan)," pungkas Hari.

Pamong budaya ahli pertama Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Klaten, Wiyan Ari Tanjung, saat dimintai konfirmasi menyatakan belum pernah mendata lokasi. Tetapi dalam waktu dekat akan dicek.

"Sepertinya belum kita data. Akan kami jadwalkan untuk mengecek ke lokasi," jelasnya.



Simak Video "Berenang Ceria Bersama Mermaid di Umbul Ponggok, Klaten"

(apu/ams)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork