Warga Nepen Boyolali Temukan Batu Diduga Stupa Buddha

Warga Nepen Boyolali Temukan Batu Diduga Stupa Buddha

Jarmaji - detikJateng
Selasa, 26 Mei 2026 18:40 WIB
Penampakan batuan diduga stupa candi di Desa Nepen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, Selasa (26/5/2026).
Penampakan batuan diduga stupa candi di Desa Nepen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, Selasa (26/5/2026). Foto: Jarmaji/detikJateng
Boyolali -

Tiga benda diduga stupa candi Buddha ditemukan di Desa Nepen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali. Objek diduga cagar budaya (ODCB) itu ditemukan oleh warga yang hendak membuka lahan untuk jalan.

Penemuan benda diduga stupa itu terjadi pada Kamis (14/5) lalu, sekitar pukul 11.00 WIB oleh warga bernama Sopan. Ia mengungkap, awalnya hendak membuka lahan untuk dijadikan jalan.

Ketika tanah tengah dikeruk, alat berat yang dikerahkan tiba-tiba membentur batu besar. Ketika dilihat, ternyata berbentuk bulat dan berukuran besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk menjaga agar struktur benda tidak rusak, saya berinisiatif mencari tambang untuk mengangkatnya secara manual dan hati-hati," ujar Sopan saat dihubungi detikJateng, Selasa (26/5/2026).

Sementara Staf Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali, Farid Burhanudin, menjelaskan benda itu diduga adalah bangunan candi agama Buddha.

ADVERTISEMENT

"Kalau dugaannya bahwa yang mendekati dengan bentuk bangunan seperti ini adalah bangunan Candi Buddha," kata Farid ditemui di lokasi.

Ia melanjutkan, pengerukan dilakukan hati-hati begitu benda itu diduga adalah benda bersejarah.

Pertama, ditemukan batu berbentuk bulat dengan ada lubang di tengahnya. Beberapa hari kemudian, ditemukan lagi dengan ukuran yang lebih besar.

"Strukturnya berbentuk seperti lonceng dengan tinggi 125 cm, diameter atasnya 40 cm, yang bawah 130 cm diameternya," jelas Farid.

Benda tersebut ditemukan terpendam di kedalaman sekitar 180 cm. Saat ditemukan, batu tersebut terpisah dengan jarak yang cukup dekat. Saat ini, batu tersebut masih berada di lokasi dan sudah diangkat dan diletakkan di lokasi yang datar.

Siang hari ini tadi, tempat meletakkan batu itu diberi pagar pembatas menggunakan garis polisi. Dilakukan bersama-sama oleh Polsek Teras, Pemerintah Desa Nepen dan Bidang Kebudayaan Disdikbud Boyolali. Tujuannya untuk mengamankan benda tersebut agar tidak rusak.

Dari pantauan detikJateng di lokasi, ada tiga potongan batu besar berbentuk bulat. Dua potongan batu diduga merupakan dasarnya. Sedangkan satu potongan berbentuk lonceng. Di bagian tengah dan atas terdapat ornamen dengan relief.

Lalu di bagian atas terdapat lubang. Dengan adanya lubang di atas itu, diduga masih ada potongan lainnya yang menjadi kemuncaknya.

"Dari bentuk langgamnya seperti lonceng itu kemungkinan stupa. stupa Buddhis. Tapi butuh kajian lagi nanti agar lebih tepatnya apa, kita butuh kajian. Tapi terkait dengan melihat dari corak bentuk dan modelnya bisa dikatakan seperti corak-corak peninggalan agama Buddha," terangnya.

Langkah dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Boyolali, lanjut dia, yakni melakukan pengamanan benda tersebut. Kemudian melakukan pendataan. Pihaknya juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang adanya obyek diduga cagar budaya (ODCB) ini untuk bisa dijaga bersama.

"Selanjutnya kita mendorong untuk munculnya kajian-kajian lebih lanjut agar bisa di munculkan terkait dengan deskripsi atas temuan objek juga cagar budaya yang ada di Desa Nepen ini," ujar dia.

Menurut dia, temuan ODCB ini juga telah dilaporkan ke Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah X Jawa Tengah. Laporan sudah diproses dan butuh waktu untuk melakukan kajian terkait temuan ini.

Lebih lanjut dikemukakan dia, pihaknya belum bisa memastikan batu tersebut bagian dari candi besar atau bukan. Hal itu masih membutuhkan kajian lebih lanjut. Namun di wilayah Desa Nepen ini banyak ditemukan struktur objek diduga cagar budaya. Baik berupa batu prigen, lapik-lapik candi, termasuk lingga yoni.

"Stupa bukan hanya satu saja. Di Desa Nepen, sebelumnya juga ditemukan stupa juga semacam itu," paparnya.

Pihaknya juga berkoordinasi dengan pihak Pemerintah Desa Nepen dan masyarakat sekitar. Pemdes dan masyarakat, menginginkan ODCB itu agar tetap berada di Desa Nepen, dengan alasan mereka agar sejarah dari Desa Nepen itu tidak hilang. Mereka siap merawat ODCB itu bekerja sama dengan Disdikbud Boyolali.




(apu/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads