Misteri Temuan Gigi Emas Bersama Batu Chattra di Klaten

Misteri Temuan Gigi Emas Bersama Batu Chattra di Klaten

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Minggu, 10 Mei 2026 10:55 WIB
Batu kotak bertakik diduga komponen candi di dekat batu chattra Karanganom, Klaten.
Batu kotak bertakik diduga komponen candi di dekat batu chattra Karanganom, Klaten. Foto: Achmad Husain Syauqi/detikJateng
Klaten -

Sebuah batu diduga merupakan chattra candi dirawat warga di Desa Kunden, Kecamatan Karanganom, Klaten. Selain batu komponen candi Budha itu, di lokasi juga ditemukan gigi emas.

"Terus ada juga yang nemu gigi emas di situ. Terus dibawa pulang sopirnya mobil," tutur warga setempat Hadi Susanto (66) kepada detikJateng, Jumat (8/5/2026) siang.

Diceritakan Hadi Susanto, pada tahun 1989 lahan sawah di barat desanya digali untuk diambil tanah liatnya untuk bahan genting. Di kedalaman sekitar lima meter ditemukan chattra, batu bata merah ukuran besar dan semacam kuburan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ya yang itu (chattra) ada beberapa, batu besar, batu bata besar bakaran juga banyak tapi pada dibeli orang. Terus ada semacam kuburan, ada abunya," terang Hadi.

"Yang kuburan itu panjangnya sekitar dua meter, ada abunya terus ada yang nemu gigi emas di situ," lanjut Hadi.

ADVERTISEMENT

Hadi Susanto menyatakan temuan batu-batu tersebut ada yang dibawa pulang pencari tanah liat atau dijual untuk fondasi rumah. Namun masih ada beberapa yang tersisa.

"Masih ada sisa batu, itu ke utara di dekat kandang ayam ada dua, di sini ada dua saya gunakan untuk keren (tungku). Dulu ke utara batu ke selatan batu berjajar," papar Hadi yang menyaksikan penggalian bersama anaknya tahun 1989 itu.

Lokasi penemuan, kata Hadi saat ini menjadi tegalan yang ditanami pohon karena pemiliknya sudah meninggal. Warga sebagian masih segan setelah ditemukan gigi emas.

" Masih pada takut. Yang nemu gigi emas itu katanya meninggal, ada yang bilang dijual ke Delanggu," imbuh Hadi.

Kadus I Desa Kunden, Kecamatan Karanganom, Sugeng, mengatakan yang ditemukan paling banyak batu kotak. Batu kotak itu menyerupai fondasi.

" Ya batu kotak-kotak yang paling banyak kaya fondasi. Dulu ditaruh dan diambil warga untuk pondasi, arca tidak ada," kata Sugeng kepada detikJateng.

Pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi, berpendapat yang ditemukan itu memang kuburan. Sebab di candi Buddha zaman dulu tidak ada peripih tapi adanya tempat abu jenazah.

"Betul itu bukan peripih, kalau candi Buddha itu tempat abu jenazah tokoh yang didharmakan di sana. Untuk gigi emas itu saya setuju kalau itu mata uang pilontico (mata uang atau perhiasan)," jelas Hari yang pernah bersama BRIN menelusuri situs Kropakan itu kepada detikJateng.

"Adanya bata merah besar menunjukkan bagian lantai candi sudah terbongkar, kemungkinan struktur bata merah itu tempat menyimpan abu jenazah tokoh tersebut," imbuh Hari.

Sebelumnya diberitakan, sebuah batu diduga merupakan chattra (komponen batu berbentuk payung pada stupa utama candi) diletakkan di pekarangan warga Desa Kunden, Kecamatan Karanganom, Klaten. Batu tersebut tampak unik menjadi hiasan pekarangan warga.

Terbuat dari batu andesit hitam, batu tersebut hanya menyisakan satu struktur payung paling puncak. Tingginya sekitar 40-60 sentimeter dan jika dilihat lebih mirip jamur.

Seorang warga, Hadi Susanto (66) menceritakan batu tersebut ditemukan sekitar tahun 1989. Saat itu ada warga menggali sawah untuk diambil tanahnya guna bahan baku kerajinan genteng.

"Dulu menggalinya tanah di barat desa itu sekitar tahun 1989 sampai 1991. Digali lallu diambil tanah liatnya, tapi ditemukan batu seperti itu (chattra), batu-batu kotak dan batu bata besar banyak," tutur Hadi Susanto kepada detikJateng, Jumat (8/5) siang.

Dijelaskan Hadi, benda-benda tersebut ditemukan pada kedalaman tanah sekitar lima meter. Oleh warga saat itu dianggap batu biasa sehingga dibawa pulang atau dijual.

"(Malah) dibeli sekalian oleh yang gali tanah liat, sebagian untuk fondasi jalan. Saya menyaksikan sama anak saya yang dulu masih kelas 3 SD," terang Hadi.

Yang ditemukan saat itu, ungkap Hadi, selain banyak batu bata ukuran besar juga beberapa batu chattra.

"Kayak itu (chattra) cukup banyak tapi pada dibeli orang, arca tidak ada. Yang banyak batu bata besar warna merah, batu bata bakaran," kata Hadi.

Analis Cagar Budaya dan Koleksi Museum Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Klaten, Wiyan Ari Tanjung mengonfirmasi ada temuan cagar budaya itu. Pihaknya mengaku sudah pernah mendata temuan di Desa Kunden tersebut.

"Dinas pernah pendataan di Kunden, tapi saya lupa objeknya apa aja selain sebaran bata merah. Untuk situsnya sudah terdata," jelasnya kepada detikJateng.

Saat ditanya lebih jauh terkait apakah batu chattra itu masuk dalam pendataan, Wiyan Ari mengaku akan mengeceknya terlebih dahulu.

"Nanti saya cek datanya, kalau belum akan kita tinjau lagi," jawabnya.




(apl/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads