Lukisan Garam Raksasa di Lasem Rembang, Pesan dari Petani Pesisir

Mukhammad Fadlil - detikJateng
Minggu, 18 Okt 2026 09:01 WIB
Penampakan lukisan faram berukuran raksasa di sebuah tambak garam di Desa Dasun, Lasem, Rembang, Sabtu (17/10/2026). Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng
Rembang -

Lukisan garam raksasa membentang di kawasan tambak Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Tak sekadar karya seni, lukisan seluas hampir 1.900 meter persegi ini menyimpan pesan tentang kehidupan petani garam, nelayan, dan kelestarian alam pesisir.

Karya tersebut menjadi salah satu daya tarik Festival Garam Dasun 2026 yang resmi dibuka pada Sabtu (17/10/2026). Festival bertema Memetri Kawitane Uyah itu masih bisa dikunjungi hingga Minggu (18/10).

Lukisan bertajuk Lukisan Garam (Meneruskan) Nasirun ini melibatkan 10 seniman dari berbagai daerah dan 10 petani garam. Pengerjaan teknisnya juga dibantu sekitar lima seniman lokal.

Kurator Festival Garam, Eggy Yunaedi, mengatakan kolaborasi tersebut menempatkan petani sebagai bagian penting dalam proses penciptaan karya.

"Petani garam bukan sekadar menjadi pekerja dalam proyek ini. Mereka ikut merumuskan gagasan bersama para seniman, termasuk pesan yang ingin disampaikan melalui karya," kata Eggy saat diwawancarai detikJateng di lokasi tambak.

Lukisan itu dibuat di atas lahan tambak seluas sekitar 1.880 meter persegi dengan menggunakan sekitar 8-9 ton garam dari total 10 ton yang disiapkan. Proses melukis berlangsung selama 3,5 hari setelah tambak dikeringkan selama lima hari.

Penampakan lukisan faram berukuran raksasa di sebuah tambak garam di Desa Dasun, Lasem, Rembang, Sabtu (17/10/2026). Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng

Meneruskan Gagasan Maestro Nasirun

Proyek tersebut berawal dari rencana kolaborasi petani garam Dasun dengan maestro seni rupa Indonesia, Nasirun. Sebelum wafat pada 1 Agustus 2026, Nasirun sempat membuat sketsa awal pada 25 Juli 2026.

Eggy menjelaskan sketsa itu menjadi dasar bagi para seniman untuk meneruskan gagasan Nasirun melalui program residensi. Sebanyak 10 seniman dari Jakarta, Jatiwangi, Yogyakarta, Pati, Jepara, dan Kediri terlibat dalam proses tersebut.

"Nasirun mendengarkan cerita dan keluh kesah para petani garam, kemudian menuangkannya dalam sketsa. Gagasan itu yang sekarang kami lanjutkan bersama para seniman dan petani garam," jelas Eggy.

Lukisan tersebut menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir melalui sejumlah simbol. Ada sesaji sebagai ungkapan rasa syukur, hasil laut seperti ikan, kepiting, dan cumi-cumi, serta unsur ekosistem pendukung seperti plankton dan hutan mangrove.

Menurut Eggy, proses pengerjaan di hamparan tambak yang luas juga menghadirkan tantangan tersendiri. Para seniman sempat kesulitan menjaga perspektif karena jarak antara bagian gambar, seperti kepala dan ekor ikan, cukup jauh.

"Medannya sangat luas, sehingga pelukis sempat kesulitan melihat keseluruhan gambar dari dekat. Mereka harus menyesuaikan perspektif agar bentuk yang dibuat tetap sesuai dengan rancangan," ujar Eggy.

Karya tersebut diproyeksikan melampaui lukisan Bancaan Rupa yang dibuat di Dasun pada 2023. Saat itu, lukisan garam Dasun meraih rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai lukisan garam terbesar di dunia.

Garam Bukan Sekadar Komoditas

Eggy menilai garam memiliki makna lebih luas daripada sekadar komoditas ekonomi. Proses produksinya menyimpan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun, mulai dari mengelola air hingga membaca perubahan cuaca.



Simak Video "Video: Trailer-Tronton Tabrakan di Pantura Rembang, Timpa Dua Motor"


(apu/apu)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork