Keluarga mahasiswi asal Solo melaporkan sebuah restoran ke Polresta Solo karena mengunggah video rekaman CCTV di media sosial. Video itu menampilkan sosok mahasiswi yang tidak membayar usai makan di restoran tersebut pada 3 Oktober lalu.
Supervisor Grandmas Signature, Andreas Adi Wijaya, mengatakan pihaknya telah menghapus seluruh unggahan terkait pelanggan tersebut setelah yang bersangkutan menyelesaikan pembayaran. Pihaknya juga telah mengunggah klarifikasi bahwa pelanggan itu sudah membayar tagihan.
"Jadi yang kami rasa sudah selesai, tapi malah diperpanjang. Tapi nggak apa-apa, kita menghormati semua haknya dari customer. Kita akan menunggu nanti prosesnya seperti apa," kata Andreas saat dihubungi detikJateng, Selasa (13/10/2026).
Andreas menjelaskan, unggahan di media sosial itu awalnya dibuat untuk meminta pelanggan yang bersangkutan menyelesaikan tagihan. Menurut dia, pihak resto tidak memiliki nomor telepon pelanggan tersebut karena kedatangannya pada 3 Oktober 2026 itu bukan untuk reservasi, tapi datang langsung.
Dia mengatakan, dalam prosedur pelayanan, pihak resto hanya mencatat nama pelanggan untuk kebutuhan pelayanan. Sementara itu, nomor telepon biasanya disimpan apabila pelanggan melakukan reservasi.
"Jadi kita tidak akan meminta nomor telepon si customer, karena bagi kami kita juga menjaga privasi customer kita. Jadi kita hanya meminta nama saja untuk kebutuhan pelayanan kita," ujarnya.
Andreas menyebutkan, pihaknya mengunggah informasi terkait pelanggan tersebut melalui Instagram Story pada hari kejadian, yakni 3 Oktober 2026. Dalam unggahan awal, identitas pelanggan, termasuk wajah dan nomor kendaraan, telah disamarkan.
Pihaknya kemudian memberikan waktu 1x24 jam kepada pelanggan untuk menunjukkan iktikad baik. Namun, hingga batas waktu itu berakhir, pelanggan belum menghubungi pihak resto untuk melakukan pembayaran.
"Kita up di tanggal 3 Oktober, di hari kejadian si customer ini juga berkunjung ke resto. Kita sampaikan untuk ditunggu iktikad baiknya selama 1x24 jam," jelasnya.
Andreas menjelaskan, pihak resto kemudian memberi tambahan waktu hingga 7 Oktober 2026. Setelah unggahan tanpa penyamaran identitas dipublikasikan, pelanggan tersebut baru merespons dan melakukan pembayaran.
"Setelah kita up tanpa penyamaran, itu baru si customer ini merespons dan membayar. Customer ini menghubungi kita, melakukan pembayaran, dan kita juga sudah selesaikan. Kita hapus semua konten kita, kita upload klarifikasi bahwa yang bersangkutan sudah membayar," kata dia.
Disinggung mengenai customer menyebut sebagai pelanggan tetap dan pihak resto mempunyai nomor kontak yang bersangkutan, Andreas menghargai hal tersebut. Namun, menurut dia, pada hari itu, customer tersebut langsung datang tanpa reservasi.
"Kalau dia merasa pernah reservasi di sini, ya kami menghargai. Pasti kontaknya kita simpan. Cuma harus diingat, bahwa customer datang ke tempat ini pada tanggal 3 itu bukan reservasi. Jadi beliau datang sebagai tamu reguler, datang langsung, jadi yang kami catat hanya nama," ujar dia.
Andreas menambahkan, Gremma menerapkan sistem pelayanan dengan pembayaran setelah pelanggan selesai menikmati hidangan. Dengan demikian, pelanggan tidak diwajibkan membayar di awal.
"Kita enggak akan memperlakukan pembayaran di awal. Kita akan layani dulu sebaik mungkin sampai si customer selesai, ya baru melakukan pembayaran," pungkasnya.
Penjelasan Pihak Mahasiswi
Diketahui, laporan ke Polresta Solo itu dibuat oleh orang tua si mahasiswi, WN (53). Adapun mahasiswi itu berinisial HN (20). Kuasa hukum WN, Asri Purwanti, menjelaskan alasan kliennya melaporkan restoran tersebut.
"Walaupun sudah di-take down, rasa malu itu tidak terhapus. Kami ingin ini menjadi pelajaran agar orang berhati-hati menggunakan media sosial," kata Asri Purwanti saat dihubungi detikJateng, Selasa (13/10/2026).
Asri menjelaskan, pada Sabtu (3/10) lalu, mahasiswi berinisial HN (20) itu ingin makan di restoran tersebut. HN kemudian menghubungi ibunya, WN (53), dan membagikan lokasi restoran itu. Selanjutnya, WN dan HN makan dengan open bil. Asri juga mengatakan, HN saat itu mengaku sedang menunggu temannya.
(dil/apu)