Respons Resto di Solo Dipolisikan Usai Viralkan Mahasiswi Tak Bayar Makan

Round up

Respons Resto di Solo Dipolisikan Usai Viralkan Mahasiswi Tak Bayar Makan

Tim detikJateng - detikJateng
Rabu, 14 Okt 2026 05:30 WIB
Ilustrasi konten viral
Ilustrasi viral. Foto: Shutterstock
Solo -

Pemilik restoran di Solo dilaporkan ke polisi setelah mengunggah peristiwa mahasiswi yang tidak membayar usai makan ke media sosial. Pihak restoran menyebut sudah memberikan peringatan lewat Instagram Story agar dilakukan pembayaran.

"Kita up di tanggal 3 Oktober, di hari kejadian si customer ini juga berkunjung ke resto. Kita sampaikan untuk ditunggu iktikad baiknya selama 1x24 jam," kata Supervisor Grandmas Signature, Andreas Ardiwijaya saat dihubungi detikJateng, Selasa (13/10/2026).

Dalam unggahan pertama itu identitas pelanggan berupa wajah dan nomor kendaraan telah disamarkan. Ia menyebut pihak resto kemudian memberikan tambahan waktu hingga 7 Oktober 2026. Pelanggan baru merespons setelah ada unggahan tanpa penyamaran identitas dipublikasikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setelah kita up tanpa penyamaran, itu baru si customer ini merespons dan membayar. Customer ini menghubungi kita, melakukan pembayaran, dan kita juga sudah selesaikan. Kita hapus semua konten kita, kita upload klarifikasi bahwa yang bersangkutan sudah membayar," jelasnya.

Take Down Usai Membayar

Andreas mengatakan pihaknya telah menghapus seluruh unggahan terkait pelanggan tersebut setelah yang bersangkutan menyelesaikan pembayaran. Pihak resto juga telah mengunggah klarifikasi bahwa pelanggan itu sudah membayar tagihannya.

ADVERTISEMENT

"Jadi yang kami rasa sudah selesai, tapi malah diperpanjang. Tapi nggak apa-apa, kita menghormati semua haknya dari customer. Kita akan menunggu nanti prosesnya seperti apa," ujarnya.

Dia juga menjelaskan, dalam melayani pelanggan, pihak resto tidak menanyakan nomor telepon pelanggan, hanya nama saja. Kecuali dalam hal reservasi tempat.

"Jadi kita tidak akan meminta nomor telepon si customer, karena bagi kami kita juga menjaga privasi customer kita. Jadi kita hanya meminta nama saja untuk kebutuhan pelayanan kita," ujarnya.

Terkait pelanggan yang pernah reservasi di restoran tersebut, Andreas menegaskan di waktu kejadian customer datang secara langsung dan tidak melakukan reservasi.

"Kalau dia merasa pernah reservasi di sini, ya kami menghargai. Pasti kontaknya kita simpan. Cuma harus diingat bahwa customer datang ke tempat ini pada tanggal 3 itu bukan reservasi, jadi beliau datang sebagai tamu reguler, datang langsung, jadi yang kami catat hanya nama," paparnya.


Penjelasan Pihak Pelanggan

Pelanggan yang melaporkan pemilik restoran itu ke Polresta Solo adalah WN. Sedangkan video yang viral adalah anak WN yaitu mahasiswi berinisial HN (20).

kuasa hukum WN, Asri Purwanti menjelaskan, pada pada 3 Oktober 2026, HN memang ingin makan di restoran itu kemudian menghubungi WN dan membagikan lokasi. Setelah WN datang, mereka makan bersama.

"Jadi masalah waktu itu kan memang gini, anak itu pengin makan di situ, teleponlah mamanya. Lah, terus mamanya di-shareloc dan situ, habis itu makan," kata Asri saat dihubungi detikJateng, Selasa (13/10/2026).

Asri mengakui sempat ada miskomunikasi antara ibu dan anak itu. Setelah WN pulang lebih dulu, HN mengira pembayaran sudah dilakukan WN.

"Anak itu mengira sudah dibayar mamanya karena sudah terbiasa makan di situ. Mamanya juga sibuk, sehingga terjadi miskomunikasi," kata Asri.

Dia menyebut tidak ada teguran dari pihak restoran saat HN keluar. Menurutnya HN juga sempat berada di dalam mobil yang terparkir sekitar 30 menit dan kemudian melanjutkan perjalan karena mengira makanan sudah dibayar ibunya.

"Kalau lewat kasir tidak ada yang menegur. Kemudian menunggu di mobil sampai sekitar 30 menit. Ada seperti petugas yang mendekati mobil, tetapi tidak mengetuk pintu," ujarnya.

Asri mengatakan kliennya sudah langganan di restoran itu. Bahkan sempat merayakan ulang tahun di sana.

"Klien saya itu kan mahasiswa, yang mana kan sering datang ke resto tersebut, kadang sebulan itu bisa dua tiga kali atau empat kali makan di situ dan sempat merayakan ulang tahun di sana," jelasnya.

Tidak Terima Diviralkan

Dia pun menyayangkan penagihan pembayaran dengan mengunggah rekaman CCTV kliennya. Pembayaran tagihan sebesar Rp 530 ribu itu sudah dilakukan.

"Yang kami sayangkan, kenapa menagih customer harus melalui media sosial? Kenapa tidak tabayun atau mencari tahu terlebih dahulu? Padahal ada nomor telepon dan klien kami juga sering makan di situ," ungkapnya.

Menurutnya HN malu ketika mengetahui dirinya viral. Saat ini dia sudah memiliki salinan rekaman CCTV yang diambil dari media sosial untuk bekal melapor ke polisi.

"Dia kaget ketika diberi tahu temannya. Malunya setengah mati sampai tidak berani keluar rumah," tuturnya.

Laporan yang dilakukan WN ke Polresta Solo bernomor STBP/773/X/2026/ Reskrim. Pihaknya menilai pengunggahan rekaman CCTV yang memperlihatkan wajah seseorang tanpa sensor perlu dipersoalkan, meskipun unggahan tersebut kemudian dihapus.

"Walaupun sudah di-take down, rasa malu itu tidak terhapus. Kami ingin ini menjadi pelajaran agar orang berhati-hati menggunakan media sosial," tegas Asri.



(alg/afn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads