Terungkapnya Biang Keladi 717 Warga Batang Keracunan MBG

Terungkapnya Biang Keladi 717 Warga Batang Keracunan MBG

Tim detikJateng - detikJateng
Sabtu, 10 Okt 2026 06:30 WIB
Ilustrasi MBG.
Ilustrasi MBG. Foto: iStock
Solo -

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang mengungkapkan hasil pemeriksaan laboratorium dari sampel Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan keracunan terhadap 717 orang di Kecamatan Bawang. Hasilnya, ada mikroba yang diduga muncul dari proses memasak.

"Untuk makanan sampel ditemukan adanya mikroba ya. Kemudian di feses. Kalau di muntahan enggak ada (temuan mikroba)," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Batang, Ida Susilaksmi saat dihubungi lewat telepon, Jumat (9/10/2026).

"Yang bergejala total ada 717 warga. Kalau laporannya dari desa itu sudah aman semua," sambungnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah sampel yang diambil berasal dari makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta sampel muntahan dan feses penderita. Beberapa sampel makanan tersebut antara lain nasi putih, telur bolognese, ca sayur, tahu goreng tepung, anggur, air bersih, hingga air cucian ompreng.

ADVERTISEMENT

Meski ditemukan cemaran mikroba, Dinkes Batang belum dapat memastikan jenis makanan atau bahan makanan tertentu yang menjadi penyebab kejadian tersebut.

Menurut Ida, kendalanya karena sampel makanan yang diperiksa berasal dari bank sampel di SPPG. Dinkes tidak mendapatkan sampel makanan yang benar-benar telah diterima dan dikonsumsi oleh para penerima manfaat pada hari kejadian.

"Kalau mau ditanya ini penyebabnya apa, kita enggak bisa menyimpulkan ini penyebabnya apa," ujarnya.

Ida menegaskan, ditemukannya mikroba pada sampel makanan dan feses penderita belum cukup untuk menyimpulkan bahwa makanan MBG tersebut secara langsung menyebabkan 717 warga mengalami keracunan.

"Yang kami sampaikan memang dari hasil ini ditemukan adanya mikroba pada sampel makanan dari sampel SPPG dan ada juga mikroba yang ditemukan di dalam feses penderitanya," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Batang, Ida Susilaksmi mengatakan masih ada satu pasien yang sebelumnya dirawat di RSUP Kariadi Semarang dan pihaknya masih menunggu pembaruan kondisi terakhir. Terkait biaya penanganan ratusan pasien, dia menyebut hingga kini masih dalam proses rekapitulasi oleh masing-masing fasilitas kesehatan.

Ida menjelaskan, pada awal kejadian biaya penanganan pasien terlebih dahulu ditanggung Pemerintah Kabupaten Batang.

"Yang penting ditangani dulu, enggak usah bingung masalah biayanya, nanti di-cover oleh Pemda," kata Ida.



(alg/apl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads