Serbuan Lalat ke Permukiman di Kudus Bikin Jijik

Serbuan Lalat ke Permukiman di Kudus Bikin Jijik

Tim detikJateng - detikJateng
Sabtu, 03 Okt 2026 06:30 WIB
Penampakan lalat berada di rumah warga Desa Bulungcangkring Kecamatan Jekulo, Jumat (2/10/2026).
Penampakan lalat berada di rumah warga Desa Bulungcangkring Kecamatan Jekulo, Jumat (2/10/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng
Kudus -

Kenyamanan Warga Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, terganggu oleh serbuan lalat. Lalat-lalat dengan jumlah sangat banyak dan menjijikkan itu diduga berasal dari lokasi kandang ayam.

"Lalat mengerikan sekali. Lalat itu sudah beberapa tahun lalu. Kita sudah sabar, tapi ketika kita sabar mereka (pemilik kandang) menjadi-jadi," ujar perwakilan warga Bulungcangkring, Nur Ahmad kepada wartawan di lokasi Desa Bulungcangkring, Jumat (2/10/2026).

Dipicu Kandang Ayam

Ahmad menyampaikan, tidak jauh dari permukiman warga dengan jarak sekitar 500 meter ada 20 kandang ayam. Kandang-kandang tersebut dimiliki oleh beberapa orang. Keberadaan kandang-kandang itulah yang disinyalir menjadi pemic banyaknya lalat yang menyerbu ke permukiman warga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Penjelasan dari desa itu ada 20 kandang. Sementara yang paling ledakan populasi lalat terdampak RW 8. Termasuk ke sekolah juga," tutur Nur.

ADVERTISEMENT

Sudah Pernah Audiensi

Ahmad menyampaikan, kondisi ini sebenarnya bukan kali pertama terjadi. Bahkan pada April 2026 lalu, warga sempat audiensi dengan pemdes dan pemilik kandang terkait banyaknya populasi lalat. Hanya saja, permasalahan tersebut sampai ini tidak ada tindak lanjut.

"Bulan April 2026 kita audiensi, tapi setelah tanda tangan 6 bulan tidak ada tindakan," kata Nur.

"Dari bulan April kita menekankan populasi lalat, justru kondisinya semakin banyak sampai sekarang ini," jelas dia.

Kandang Diminta Ditutup

Berulangnya kejadian ini membuat warga meminta agar keberadaan kandang ayam tersebut ditutup saja. Apalagi waktu enam bulan setelah audiensi tidak ada tindak lanjut dari para pemilik kandang.

"Warga menuntut agar kandang ayam ditutup, soalnya enam bulan yang lalu sudah mengadakan mediasi, mediasi sudah disepakati untuk angka lalat, dan pembersihan kandang," terang dia.

"Terus paguyuban menyanggupi kalau ada kandang yang tidak bersih, pihak kandang tidak diisi ayam atau dioperasi. Tapi setelah 6 bulan dari tanda tangan sampai sekarang tidak ada tindakan," lanjut dia.

Pihak Desa Buka Suara

Kepala Desa Bulungcangkring, Sulakim, mengatakan akan memanggil para pemilik kandang dan warganya. Dia akan mencari bersama agar kandang berjalan sementara warga juga nyaman tidak terganggu dengan banyaknya lalat.

"Dalam seminggu ke depan, langkah Pemdes akan memanggil pengelola kandang, rencana Sabtu kita sampaikan keluhan warga," ujarnya kepada wartawan di Bulungcangkring.

"Semoga ada jalan keluar yang terbaik, kami berharap pengelola jalan bisa berjalan kenyamanan warga juga bisa terkendalikan," lanjut dia.

Kata Peternak

Salah seorang peternak, Heri Hermawan, mengatakan di Desa Bulungcangkring terdapat 20 kandang peternak. Ia mengaku telah mengantisipasi penyebaran lalat dengan melakukan penyemprotan di area kandang dan lingkungan masyarakat.

"Sepertinya peternakan di sini ada 20 peternakan, antisipasi kita biosecurity di farm kita sudah berjalan untuk pagi sore kita semprot di area farm. Untuk ke masyarakat kita semprot ke permukiman warga juga," kata dia kepada wartawan di lokasi.

Heri menjelaskan penyebaran lalat ini diduga karena musim panen ternak ayam. Menurutnya saat panen perkembangan lalat bertambah banyak daripada hari biasanya.

Karena ditambah total ada 20an kandang ternak sehingga penyebaran lalat begitu banyak dan berpindah dari tempat ke tempat lainnya.

"Karena lalat biasanya ada banyak saat musim panen. Biasanya kalau musim panen lebih banyak karena siklus panen kita tidak bisa bareng tidak bisa serentak jadi bisa berpindah- pindah dari ujung ke ujung. Musim pergantian biasanya banyak lalat," jelasnya.

Meskipun demikian, ia berupaya untuk menekan penyebaran lalat agar tidak banyak ke permukiman warga.

"Kita ke depan agar kompak meningkatkan bio security, menekan perkembangan lalat, kalau mungkin menghilangkan di dunia peternakan susah, tetap ada lalat pasti ada, harapan kita memaksimalkan bio security agar perkembangan lalat tidak begitu pesat," pungkas dia.



(apl/dil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads