Keluarga Lega Terima Hasil Pemeriksaan Forensik Penyebab Kematian Sutrimo

Anang Firmansyah - detikJateng
Kamis, 01 Okt 2026 15:08 WIB
Makam Sutrimodi Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas. Foto: Anang Firmansyah/detikJateng
Banyumas -

Keluarga Sutrimo di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, menerima hasil ekshumasi yang menyatakan tidak ditemukan racun dalam tubuh almarhum. Kuasa hukum keluarga menyebut ibu Sutrimo lega penyebab kematian anaknya terungkap.

"Pihak keluarga pada intinya ibunya merasa, beliau dengan hasil ekshumasi itu tidak keberatan. Di hati kecil sebagai seorang ibu mendengar anaknya meninggal karena wajar, ibunya malah bersyukur, alhamdulillah," kata Kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, saat dihubungi detikJateng, Kamis (1/10/2026).

"Artinya dia tidak terluka. Dan pihak keluarga, tahu lah semua media bahwa mereka melaporkan karena respons sebagai itikad baik atas gonjang-ganjing, adanya dugaan kematian tidak wajar di media massa," imbuhnya.

Aan menjelaskan, secara prinsip sudah ada fakta medis yang memang harus diterima. Memang hasilnya tidak sesempurna apa yang dikira namun hal itu diterima.

"Prinsipnya dengan hasil ekshumasi, kami mau tidak mau harus menerima fakta medis yang harus kita terima. Memang kalau dilihat dari berbagai masalah, artinya tidak sesempurna yang kita pikirkan," jelasnya.

Aan mengatakan pihak keluarga mempercayai proses pemeriksaan yang dilakukan tim medis. Dari hasil pemeriksaan tersebut, tim medis menyimpulkan kandungan kafein berkaitan dengan kondisi yang menyebabkan Sutrimo mengalami serangan jantung.

"Tapi sebagai orang hukum, mau tidak mau kita percaya tim medis sudah melakukan pengujian dan memang di sana tidak ditemukan racun. Lalu beliau menyimpulkan kalau itu adanya caffeine menyebabkan almarhum terkena serangan jantung," ujarnya.

Menurut Aan, pihaknya telah menjelaskan hasil tersebut kepada keluarga sehari sebelum pernyataan tersebut disampaikan. Keluarga, termasuk ibu Sutrimo, pada prinsipnya menerima hasil ekshumasi tersebut.

"Prinsipnya kita dengan itu tidak keberatan dan sehari sebelumnya saya memang sudah menjelaskan kepada keluarga," jelasnya.

Dengan hasil tersebut, Aan mengatakan keluarga pada dasarnya menerima kesimpulan medis terkait kematian Sutrimo. Pelaporan yang sebelumnya dilakukan keluarga disebut sebagai respons atas munculnya dugaan kematian tidak wajar yang ramai diberitakan.

"Jadi orang tua korban, keluarga prinsipnya menerima juga," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, hasil ekshumasi dan autopsi Sutrimo mengungkapkan penyebab kematiannya yaitu serangan jantung. Pihak medis juga menjelaskan terkait busa yang keluar dari mulut Sutrimo saat ditemukan meninggal.

"Sedangkan busa yang keluar dari korban, ini diakibatkan karena edema paru akut. Itu bisa disebabkan karena adanya cairan pada paru-paru dan lendir, dan karena saluran nafas tidak lancar, sehingga seperti dikocok, sehingga keluar busa warna putih," kata Ketua Tim Ekshumasi dan Autopsi Sutrimo, dr Ahmad Yudianto, dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (30/9).

Dikutip dari detikNews, pria yang sudah lama bekerja dengan mantan Jampidsus Febrie Adriansyah itu meninggal tanpa adanya luka atau tanda kekerasan. Hasil pemeriksaan toksikologi tidak menyebutkan adanya racun, namun ada kandungan kafein di tubuhnya.

"Pada pemeriksaan, tidak ditemukan luka ataupun jejak akibat kekerasan tajam maupun tumpul, serta tidak ditemukan adanya patah tulang yang berkaitan dengan kekerasan," jelas Ahmad.

"Tidak menemukan adanya kandungan pestisida, alkohol, arsen, maupun sianida. Di sisi lain, pemeriksaan menemukan adanya kafein pada berbagai organ dan jaringan tubuh," imbuhnya.



Simak Video "Video Mitos-Fakta: Jantung Bocor, Penyebab Hingga Gejalanya"

(alg/apu)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork