Temuan Polisi soal Viral Klinik Semarang Terima Pasien Meski Dokter Meninggal

Tim detikJateng - detikJateng
Sabtu, 26 Sep 2026 08:00 WIB
Lokasi praktek yang mengatasnamakan dr Agus Sukamto SpKK di Jalan Kaligarang, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Kamis (24/9/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Solo -

Polisi turun tangan menelusuri kabar viral soal klinik di Semarang yang melayani pasien meski dokter yang praktik sudah meninggal tahun lalu. Penyelidikan sementara tidak ditemukan adanya bukti praktik menangani pasien sejak dr Agus Sukamto SpKK meninggal.

"Jadi untuk menindaklanjuti adanya berita viral adanya klinik yang masih melayani pasien, itu faktanya tidak benar," kata Wakasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKP Jumani saat dihubungi detikJateng, Jumat (25/9/2026).

Jumani menyebut, pihaknya sudah langsung ke lokasi yang berada di Jalan Kaligarang Raya itu dan meminta keterangan sejumlah orang. Pihak dari apotek yang ada di sana menyebut tidak ada praktik pengobatan lagi sejak dokter meninggal.

"Menurut keterangan dari asisten apoteker yang berada di lokasi itu menyampaikan bahwa sejak Pak Dokter itu meninggal sudah tidak ada lagi kegiatan," ujarnya.

Jumani mengatakan, lokasi yang sebelumnya menjadi tempat praktik tersebut saat ini sudah tidak beroperasi sebagai tempat praktik dokter. Adapun yang masih beroperasi merupakan apotek umum.

"Bahkan apotekernya juga sudah mengajukan surat penutupan dan pengembalian surat izin apotek ke Dinkes pada 10 September 2026," jelasnya.

"Awal September itu memang untuk papan praktik Pak dr Agus Sukamto ini juga sudah dicopot. Karena memang sudah tidak ada operasionalnya lagi," lanjutnya.

Dia juga menegaskan bahwa apotek tersebut bukan tempat praktik dokter atau klinik kecantikan sebagaimana isu yang muncul di media sosial.

"Apotek umum. Bukan apotek yang katanya dengan kecantikan itu, tidak," ujarnya.

Selain memeriksa lokasi, lanjut Jumani, pemeriksaan juga dilakukan terhadap obat-obatan yang berada di lokasi. Obat yang sudah tidak layak digunakan atau kedaluwarsa juga telah dimusnahkan.

"Upaya-upayanya itu mengelompokkan obat-obat yang sudah tidak layak atau kedaluwarsa. Itu sudah dilakukan pemeriksaan, tanggal 23 September kemarin sudah dimusnahkan. Dan yang masih berlaku nanti dialihkan ke apotek lain," katanya.

Meski belum menemukan bukti soal praktik dokter itu, Jumani tetap akan mendalami soal pernyataan yang muncul di media sosial yang mengaku datang ke lokasi beberapa bulan lalu. Jika memang benar ada, maka bisa masuk ranah malapraktik.

"Untuk keterangan itu (pasien masih ada yang dilayani tanpa tahu dr Agus meninggal) masih kita dalami. Sementara kita baru lidik ke beberapa pihak untuk membuat terang perkaranya," katanya.

"(Kalau benar apakah bisa termasuk malpraktik?) Jadi nanti kita lihat perkaranya, jika sudah melakukan tindakan dan berakibat pada kesehatan berarti sudah merupakan malpraktik," lanjutnya.

Dia juga menjelaskan, apabila ditemukan adanya tindakan yang membuat pasien percaya bahwa dokter yang telah meninggal masih memberikan pelayanan, polisi juga akan melihat kemungkinan unsur penipuan.

"Jika kita melihat Pak Dokter atau yang punya sudah meninggal, sudah tidak praktik, tapi beberapa orang menyampaikan masih praktik sehingga menimbulkan keyakinan bagi pasiennya, nanti bisa diterapkan di penipuan," katanya

Sebelumnya diberitakan, kabar tentang seorang dokter spesialis kulit dan kelamin (SpKK) di Semarang sudah meninggal sejak tahun lalu tapi kliniknya masih melayani pasien atas nama dokter itu jadi viral di media sosial. Begini kondisi terkini klinik tersebut serta pengakuan salah satu pasiennya.



Simak Video "Video: 36 Biksu Thudong yang Jalan Kaki dari Thailand Telah Sampai di Borobudur"

(alg/dil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork