Polisi melakukan penyelidikan terhadap kasus dr Agus Sukamto SpKK yang disebut sudah meninggal tetapi masih melayani pasien. Polisi menyebut informasi yang viral di media sosial itu tidak benar.
"Jadi untuk menindaklanjuti adanya berita viral adanya klinik yang masih melayani pasien, itu faktanya tidak benar," kata Wakasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKP Jumani saat dihubungi detikJateng, Jumat (25/9/2026).
Penyelidikan terkait kabar tersebut dilakukan usai informasi mengenai praktik dr Agus ramai di media sosial. Polisi kemudian mendatangi lokasi dan meminta keterangan sejumlah pihak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumani mengatakan, penyidik telah mengecek langsung lokasi dan bertemu dengan asisten apoteker yang berada di tempat tersebut. Menurut keterangan apoteker, sejak dr Agus meninggal dunia, sudah tak ada lagi praktik dokter di apotek tersebut.
"Menurut keterangan dari asisten apoteker yang berada di lokasi itu menyampaikan bahwa sejak Pak Dokter itu meninggal sudah tidak ada lagi kegiatan," ujarnya.
Jumani mengatakan lokasi yang sebelumnya menjadi tempat praktik tersebut saat ini sudah tidak beroperasi sebagai tempat praktik dokter. Adapun yang masih beroperasi merupakan apotek umum.
"Bahkan apotekernya juga sudah mengajukan surat penutupan dan pengembalian surat izin apotek ke Dinkes pada 10 September 2026," jelasnya.
"Awal September itu memang untuk papan praktik Pak dr Agus Sukamto ini juga sudah dicopot. Karena memang sudah tidak ada operasionalnya lagi," lanjutnya.
Polisi juga menyebut telah dilakukan pemeriksaan terhadap obat-obatan yang berada di lokasi. Obat yang sudah tidak layak digunakan atau kedaluwarsa juga telak dimusnahkan.
"Upaya-upayanya itu mengelompokkan obat-obat yang sudah tidak layak atau kedaluwarsa. Itu sudah dilakukan pemeriksaan, tanggal 23 September kemarin sudah dimusnahkan. Dan yang masih berlaku nanti dialihkan ke apotek lain," katanya.
Jumani menegaskan, lokasi tersebut saat ini hanya merupakan apotek umum, bukan tempat praktik dokter atau klinik kecantikan sebagaimana isu yang muncul di media sosial.
"Apotek umum. Bukan apotek yang katanya dengan kecantikan itu, tidak," ujarnya.
Sementara terkait pernyataan para pasien di media sosial yang mengaku pernah datang ke lokasi beberapa bulan ini dan mengaku tak mendapat informasi bahwa dr Agus meninggal, polisi masih menyelidiki informasi tersebut.
"Untuk keterangan itu (pasien masih ada yang dilayani tanpa tahu dr Agus meninggal) masih kita dalami. Sementara kita baru lidik ke beberapa pihak untuk membuat terang perkaranya," katanya.
"(Kalau benar apakah bisa termasuk malpraktik?) Jadi nanti kita lihat perkaranya, jika sudah melakukan tindakan dan berakibat pada kesehatan berarti sudah merupakan malpraktik," lanjutnya.
Dia juga menjelaskan, apabila ditemukan adanya tindakan yang membuat pasien percaya bahwa dokter yang telah meninggal masih memberikan pelayanan, polisi juga akan melihat kemungkinan unsur penipuan.
"Jika kita melihat Pak Dokter atau yang punya sudah meninggal, sudah tidak praktik, tapi beberapa orang menyampaikan masih praktik sehingga menimbulkan keyakinan bagi pasiennya, nanti bisa diterapkan di penipuan," katanya.
Jumani lantas mengimbau masyarakat yang merasa dirugikan atau mendapat perlakuan yang tidak benar untuk segera melapor kepada kepolisian, agar polisi dapat menindaklanjuti informasi tersebut dan mencegah munculnya korban lain.
"Sehingga kita tindak lanjuti. Dengan kita tindak lanjuti maka paling tidak kita bisa meminimalisir adanya korban-korban yang lain, jika itu ada korbannya," imbaunya.
Sebelumnya diberitakan, kabar tentang seorang dokter spesialis kulit dan kelamin (SpKK) di Semarang sudah meninggal sejak tahun lalu tapi kliniknya masih melayani pasien atas nama dokter itu jadi viral di media sosial. Begini kondisi terkini klinik tersebut serta pengakuan salah satu pasiennya.
Diketahui, kabar itu viral usai diunggah akun X Kang Bahar. Unggahan itu menampilkan berita lelayu seorang dokter SpKK yang merupakan seorang alumni PPDS FK Undip angkatan 1986.
"Ada modus baru. Seorang dokter kulit senior ternyata sudah meninggal, tapi pasien-pasiennya gak tahu. Banyak pasien yang masih datang buat periksa dan ketemu asistennya," tulis akun tersebut, dikutip pada Kamis (24/9).
