Korban keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang bertambah menjadi lebih dari 411 orang. Bupati Batang, M Faiz Kurniawan, menyebut sekitar 170 korban di antaranya menjalani rawat inap.
"Yang pertama adalah make sure apa yang terjadi, sehingga bisa menimpa lebih dari 411 korban per tadi jam 12.00 WIB dilaporkan. Di rumah sakit ada lebih dari 411, yang kemudian ada di rawat inap itu sekitar 170, 200 sekian sudah kembali ke rumah," kata Faiz saat meninjau SPPG yang bermasalah di Kecamatan Bawang, Batang, Kamis (24/9/2026).
Dalam kesempatan itu, Faiz juga menyatakan bersedih dan berduka atas peristiwa yang menimpa ratusan warganya.
"Pertama, saya ingin sampaikan kita semua sedih, kita semua berduka. Saya sendiri juga dari tadi pagi keliling ke beberapa tempat, ke rumah sakit, ke puskesmas. Banyak sekali anak-anak kecil yang kemudian diinfus, kondisinya masih lemas, kemudian masih muntah, diare, dan lain sebagainya," ucap Faiz.
Faiz menegaskan, penanganan para korban menjadi prioritas utama.
"Ini adalah kondisi kedukaan, di mana kita harus melakukan tiga hal prioritas," ujarnya.
Prioritas pertama, kata Faiz, adalah memastikan penyebab kejadian tersebut dengan menelusuri seluruh tahapan proses penyediaan makanan MBG. Mulai dari bahan makanan datang, proses pengolahan, hingga makanan tersebut didistribusikan kepada para penerima manfaat.
"Kita harus make sure betul apa yang sebenarnya terjadi dari step processing-nya, dari step proses ketika barang datang, kemudian processing, kemudian sampai ter-deliver mobilisasi ke para penerima manfaat MBG tersebut," ujar dia.
Prioritas kedua adalah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis yang layak. Faiz memastikan fasilitas kesehatan di Kabupaten Batang, baik rumah sakit maupun puskesmas, dalam kondisi siap. Ketersediaan obat-obatan dan kebutuhan medis bagi para pasien juga disebut mencukupi.
"Semua fasilitas kesehatan cukup, baik rumah sakit, kemudian puskesmas, obat-obatan cukup, dan segala kebutuhan sudah tercukupi," kata dia.
RSUD Kalisari Penuh
Diberitakan sebelumnya, korban keracunan MBG di Kabupaten Batang terus bertambah. Bupati Batang M Faiz Kurniawan menyebut kondisi ini membuat rumah sakit penuh dan korban dirawat di ruang seadanya.
"Yang di ruangan memang kapasitas rumah sakit. Jadi karena penuh, sebagian ada di lorong," ujarnya saat menjenguk korban keracunan di RSUD Kalisari Batang, Kamis (24/9/2026).
Ia menyebut, berdasarkan data sementara pada pukul 03.00 WIB, jumlah korban tercatat sebanyak 276 orang. Namun, jumlah tersebut terus bertambah setelah sejumlah pasien kembali berdatangan ke fasilitas kesehatan.
"Per tadi malam itu masih 276, jam 03.00 dini hari. Tapi ini terus masih ada bertambah. Kayak tadi pagi saja barusan nambah empat di sini. Terus kemudian di beberapa puskesmas juga nambah, di Limpung juga nambah. Ya mungkin di antara 300-an lah," ujarnya.
Korban yang mengalami keluhan juga berasal dari berbagai kelompok usia. Bahkan, terdapat korban yang masih berusia bayi.
"Variatif. Ada yang 10 bulan, yang paling kecil, sampai dewasa dan bahkan mungkin usia senja juga sudah ada," kata Faiz.
Kondisi sejumlah fasilitas kesehatan di Batang juga mulai dipadati pasien. Bupati mengatakan sebagian pasien bahkan harus mendapatkan perawatan di lorong rumah sakit karena keterbatasan kapasitas ruangan.
"Memang karena ada keterbatasan kamar, tetapi alhamdulillah semuanya mendapatkan bed. Prinsipnya semuanya mendapatkan bed, mendapatkan alat kesehatan yang cukup," katanya.
Biaya Perawatan Ditanggung Pemkab
Terkait biaya pengobatan, Faiz mengatakan untuk sementara pemerintah daerah akan menanggung biaya penanganan para korban.
"Biaya sementara dari pemerintah daerah yang meng-cover itu, karena memang ini menjadi kejadian yang bagi kami force majeure, sehingga kami pemerintah daerah untuk turut serta menanggung biaya tersebut," jelasnya.
Dari hasil pemantauan langsung, mayoritas pasien mengalami gejala mual, muntah, diare, dan lemas. Namun, pemerintah belum dapat memastikan sumber makanan yang menyebabkan para korban mengalami keracunan.
"Kita belum tahu, karena itu nanti kewenangannya tim kesehatan dan tim investigasi untuk menentukan sumber keracunannya seperti apa. Karena itu butuh lab, butuh secara sains harus dibuktikan," kata Faiz.
Simak Video "Video: Soal Keracunan Di SMAN 1 Lasem, DPRD Rembang : Belum Tentu Karena MBG"
(dil/ahr)