Bayi hingga lansia ternyata turut jadi korban keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Batang. Pemkab Batang memastikan pegawai rumah sakit agar bekerja keras menangani korban keracunan MBG ini.
"Variatif. Ada yang 10 bulan, yang paling kecil, sampai dewasa dan bahkan mungkin usia senja juga sudah ada," kata Bupati Batang M Faiz Kurniawan saat menjenguk korban keracunan di RSUD Kalisari Batang, Kamis (24/9/2026).
Korban yang awalnya berkisar 276 orang kini diperkirakan telah mencapai sekitar 300 korban. Pihaknya telah meminta agar fasilitas pelayanan kesehatan memastikan obat tak habis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Insyaallah tadi saya pastikan tidak ada puskesmas yang nanti kekurangan obat untuk menangani pasien karena keracunan MBG ini," ujarnya.
Untuk sementara, Pemkab Batang masih menempatkan seluruh fasilitas kesehatan dalam kondisi siaga. Ambulans disiagakan dan tenaga kesehatan diminta standby untuk mengantisipasi adanya tambahan pasien.
"Sejak tadi malam saya sudah pastikan kepada Dinkes dan juga rumah sakit serta beberapa puskesmas, pastikan semua perawat standby. Khusus hari ini tidak ada shift-shift-an dulu, semuanya standby," jelasnya.
Ibu dan 2 Balita Keracunan MBG
Salah satu korban yang dirawat ialah ibu bernama Desi (34), warga di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. Ia dirawat bersama dua anaknya, Azam yang berusia 5 tahun dan Syifa yang berusia 3 tahun.
Pada detikJateng, saat ditemui di IGD RSUD Kalisari Batang, Desi mengatakan, gejala yang dialami tidak langsung muncul setelah dirinya dan kedua anaknya mengonsumsi makanan. Mereka mulai merasakan kondisi tidak enak pada bagian perut pada sore hari, setelah menyantap makanan pada siang harinya.
"Makannya siang, mulai sore nggak enak perut," kata Desi saat ditemui di RSUD Kalisari Batang.
Menurut Desi, dirinya ikut mengonsumsi makanan yang sebelumnya diperoleh dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anaknya. Ia mengaku tidak mengonsumsi nasi, namun sempat memakan telur yang tersisa.
"Dapat dari balita. Kebetulan saya enggak makan nasi, terus ada sisa telur, itu saya makan," ujarnya.
Desi mengaku tidak menemukan keanehan pada makanan yang dikonsumsi. Menurutnya, rasa telur maupun saus yang menyertai makanan tersebut tidak menunjukkan sesuatu yang mencurigakan.
"Enggak ada yang aneh," katanya.
Ia mulai menduga mengalami keracunan setelah mengetahui banyak warga mengalami keluhan serupa dan sejumlah puskesmas ramai didatangi pasien. Desi juga mendapat informasi dari pihak sekolah agar anak-anak yang mengalami gejala seperti pusing, muntah, dan diare segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
"Di puskesmas-puskesmas ramai, terus kok gejalanya sama. Ada info dari sekolahannya, katanya kalau ada gejala pusing, muntah, diare, bawa ke puskesmas," ungkapnya.
Desi menyebut, dirinya dan kedua anaknya mengalami gejala yang hampir sama, yakni diare, muntah, pusing, serta demam. Ketiganya kemudian mendapatkan perawatan di RSUD Kalisari Batang.
Diberitakan sebelumnya, 276 orang menjadi korban keracunan MBG. Korban keracunan usai mendapat MBG yang berasal dari SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) alias dapur MBG yang sama.
Dapur itu disebut melayani 11 titik penerima manfaat di Kecamatan Bawang, dengan total 2.700 penerima manfaat, mulai dari TK Al Ikhlas, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Korotayun, RA Al Hidayah, dan MI Salafiyah Pasusukan.
"Kita berikan layanan di sejumlah tempat layanan kesehatan, seperti Puskesmas Batang, RSU Limpung, Puskesmas Subah, dan RSUD Kalisari Batang," kata Wakil Bupati Batang, Suyono, ditemui di RSUD Kalisari, Rabu (23/9/2026) malam.
"Update jam 20.38 WIB, total 276 (orang) yang terdampak di Bawang. Jadi perkembangan nantinya kita tunggu, saat ini kita perhatian bersama," lanjut Suyono.
(afn/alg)
