Cerita Korban Selamat KM Virgo Bantu Penumpang Lain Naik Perahu Karet

Cerita Korban Selamat KM Virgo Bantu Penumpang Lain Naik Perahu Karet

Tim detikJateng - detikJateng
Rabu, 23 Sep 2026 18:16 WIB
Haryono (58), korban selamat tragedi KM Virgo saat ditemui di kediamannya, Desa Diwak RT 4 RW 1, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Selasa (22/9/2026).
Haryono (58), korban selamat tragedi KM Virgo saat ditemui di kediamannya, Desa Diwak RT 4 RW 1, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Selasa (22/9/2026). Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng
Solo -

Salah satu penumpang yang selamat dari tenggelamnya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 di Laut Jawa, Haryono (58) asal Desa Diwak, Kecamatan Bergas, Semarang, mengaku menolong sejumlah korban lain untuk naik ke life raft atau perahu karet dari KM tersebut.

"Setelah sampai atas (liferaft), baru istirahat, ada lagi yang meminta tolong. Itu sampai tiga orang saya menaikkan korban-korban itu ke atas liferaft dulu. Setelah tiga orang saya naikkan, kondisi saya sudah enggak memungkinkan. Napas sudah habis, tenaga sudah habis," kata dia saat ditemui detikJateng di rumahnya, Selasa (22/9/2026).

Haryono awalnya menuturkan, dirinya bekerja sebagai pengantar tenaga kerja sawit ke Kalimantan. Dia mengantarkan orang dari berbagai daerah yang sebelumnya sudah ditampung di Ungaran. Pekerjaan itu membuat Haryono bisa naik kapal tiga kali dalam sebulan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat itu Haryono bertolak ke Surabaya bersama 15 orang calon tenaga kerja perkebunan sawit naik travel sewaan. Rombongan itu tiba di Pelabuhan Surabaya pada Sabtu (12/9) sekitar pukul 04.00 WIB. Ia lalu mencari tiket kapal paling pagi dan mendapatkan KM Virgo Transport 8.

"Awalnya kapal itu rencananya berangkat jam 06.00 WIB, tapi mundur jadi jam 08.00 WIB. Tapi ternyata mundur lagi sampai jam 10.00 WIB baru berangkat," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

Haryono menjelaskan, travel yang ditumpanginya masuk ke kapal menjelang pukul 09.00 WIB.

"Sampai di kapal itu saya sempat ketiduran sebentar bermimpi yang paling aneh ini kapal tenggelam, wah siang bolong mimpi kayak gitu. Tapi saya anggap angin lalu saja terus saya tinggal ngerokok," ungkap Haryono.

Kapal berangkat sekitar pukul 10.00 WIB. Haryono sempat menikmati makanan yang disediakan kapal sebelum akhirnya ketiduran di ruang tidur ekonomi lesehan.

Detik-detik Kapal Tenggelam

Pada pukul 01.00 WIB, Minggu (13/9), Haryono terbangun karena mendengar suara yang mengatakan kapal tenggelam.

"Waktu itu ada sebelah saya yang membangunkan temannya bilang 'kapal mau tenggelam, bangun dulu!'," ucap Haryono.

Mendengar hal itu, Haryono langsung terperanjat. Dia buru-buru mencari jaket pelampung dan memakainya.

"Begitu saya bangun langsung yang saya cari itu jaket pelampung. Begitu sudah pakai jaket pelampung baru saya mau keluar dari ruangan tidur ekonomi lesehan," ujar Haryono.

Haryono sempat kesusahan keluar dari ruangan itu karena kapal sudah miring dengan posisi pintu keluar ruangan mengarah ke atas. Dia sempat berupaya membuat tatakan agar dapat menggapai besi di samping pintu keluar.

Haryono sempat hilang harapan sesaat karena gagang besi yang dia tuju tidak tergapai. Namun tiba-tiba dia merasa ada yang mendorongnya dari bawah sehingga dia dapat memegang besi itu untuk keluar ruangan.

"Tapi saya enggak tahu yang mendorong itu bapak-bapak yang di belakang atau yang lain saya kurang tahu karena setahu saya hanya ada dua orang itu, bapak-bapak sama ibu-ibu yang sudah tua itu," tambahnya.

Setelah berhasil keluar ruangan, Haryono masih harus melewati anak tangga. Saat itulah dirinya mengalami sejumlah luka karena terlempar sebab kapal yang semakin miring.

"Setelah sampai di atas, saya mau keluar harus melewati tangga. Sampai di tangga itu saya kapal posisinya sudah hampir 90 derajat. Saya seperti dilempar. Dilempar, jatuh, kena besi pengaman yang ada di pinggir anu itu, pinggir tangga itu," ungkap Haryono.

"(Lengan kiri) ini sampai luka. Tapi ini lukanya sudah sembuh karena sudah satu minggu. Kemarin ini biru semua, sama bengkak. Habis (kena lengan) ini kelempar lagi punggung saya yang kena. Sampai sekarang masih agak nyeri-nyeri. Tapi ya tetap tidak saya rasakan yang penting pikiran saya ini hanya selamat, selamat dan selamat," imbuhnya.

Haryono mengingat betul kapal sudah dalam posisi miring saat dirinya berhasil tiba di bagian atas. Tak berselang lama, dia lalu terlempar dari kapal itu.

"Begitu sampai atas, posisi kapal itu sudah miring hampir 90 derajat. Nah, saya itu waktu itu di atas. Aku sudah pakai jaket pelampung. Hanya selang berapa menit itu enggak ada 10 menit, sekitar 5 menitan, kapal ini sudah mulai miring-miring dan tengkurap ini. Keadaan waktu itu kan gelombang tinggi. Pas mau turunnya ini saya dihantam ombak. Langsung kelempar masuk ke laut," beber Haryono.

Haryono merasa dirinya tenggelam cukup dalam karena lemparan itu. Dia mengaku sampai harus meminum air laut hingga tiga kali saat berupaya berenang naik ke permukaan

"Kebetulan waktu itu di depan saya ada almari ini, loker yang di terapung di depan saya. Akhirnya saya naik ke situ, naik ke almari loker itu. Sudah saya di situ nongkrong sendiri. Tapi (korban lain) yang di air itu kemungkinan juga banyak karena saya sendiri juga enggak tahu posisinya, waktu itu kan gelap gulita dan gelombang tinggi," tuturnya.

Kemunculan Perahu Karet

Saat berada di atas loker yang mengapung, Haryono sempat mencari-cari keberadaan sekoci darurat. Tak berselang lama, pertanyaannya langsung terjawab.

"Saya hanya berpikir ini kok alat penyelamat yang lain enggak ada seperti sekoci atau apa. Kebetulan setelah beberapa menit itu ada alat sekoci atau liferaft itu yang langsung mengembang di depan saya," tuturnya.

Melihat ada tempat yang lebih aman, Haryono langsung berenang menuju sekoci darurat itu. Meski jaraknya relatif dekat, dia harus berenang sekuat tenaga sebab ombak tinggi yang terus menerpa.

"Jaraknya hampir sekitar 10 meter. Iya, loh. Ya, begitu sudah mekar (sekoci daruratnya), saya langsung berenang menuju ke liferaft itu. Untuk proses menuju ke liferaft ini juga susah, karena ada gelombang-gelombang yang tinggi datang," tutur Haryono.

Setibanya di sekoci darurat, Haryono juga harus berupaya keras untuk naik karena pinggirannya yang tinggi dan licin. Haryono menjadi orang pertama yang tiba di sekoci darurat itu.

"Setelah sampai di liferaft mau naik itu juga susah karena posisi kita terendam air dan pinggirnya agak tinggi, dan liferat itu kan terbuat dari karet itu juga licin," ungkap Haryono.

"Saya yang penting sandaran di situ dulu, belum naik, sambil atur napas. Begitu sudah kira-kira sudah agak kuat, saya langsung naik ke liferaft. Setelah sampai di atas ini belum ada orang. Jadi baru saya yang naik di situ," tambahnya.

Setelah Haryono naik dan beristirahat, dia lalu mendengar ada orang yang meminta tolong. Dengan sisa tenaganya, dia menarik orang itu dan total menyelamatkan tiga orang.

"Setelah saya naik sudah nyampai di atas saya sambil terengah-engah ini sudah istirahat tahu-tahu di belakang saya ada yang minta tolong itu masih di dalam laut di air itu, 'tolong tolong tolong'. Langsung saya naikkan. Untuk menaikkan ini juga berat karena sama saja seperti mengangkat barang. Karena dia enggak ada sandaran untuk pancalan enggak ada, hanya air," tutur Haryono.

Para korban selamat yang sudah naik di atas sekoci darurat lalu menolong korban-korban lain yang berdatangan. Haryono mengingat korban ke-10 atau yang terakhir naik ke sekoci itu adalah seorang perempuan.

"Setelah itu ada lagi yang naik. Saya enggak tahu yang nyelamatin yang tenaganya yang masih kuat, akhirnya dinaikkan. Setelah itu yang terakhir itu ada suara cewek itu di belakang saya, 'mas, tolong, tolong, tolong'," tutur Haryono.

"Saya bilang, 'Bu, kalau minta tolong langsung aja sampeyan geser ke kiri atau ke kanan. Pintunya di sebelah kiri atau kanan karena di belakang saya ini enggak ada pintunya'. 'Lah, lewatnya mana?' 'Sudah sampeyan merembet aja ke kiri atau ke kanan nanti ketemu pintunya'," sambungnya menirukan percakapan waktu itu.

Karena perempuan itu masuk lewat pintu yang dekat dengan posisi Haryono, dia lalu memegangi tangan korban itu. Karena tenaganya sudah habis, dia tidak bisa menarik perempuan tersebut.

"Setelah ketemu pintunya kebetulan dekat saya, saya hanya bisa megang aja tapi udah enggak kuat ngangkat. Tenaga sudah habis. Akhirnya dibantu sama teman-teman yang lain dimasukkan ke liferaft," ungkap Haryono.

Haryono yang duduk di liferaft sempat melihat pemandangan mengerikan dari arah kapal. Di bawah sinar rembulan, samar-samar dia melihat sejumlah orang masih berada di atas kapal yang sudah terbalik itu.

"Setelah masuk liferaft nah Ini saya lihat di luar itu, ini pas kebetulan lihat di atas kapal ini masih ada beberapa orang yang berdiri di situ karena kapal ini posisinya tengkurap jadi tidak tenggelam. Ya, tengkurap saja," ungkap Haryono.

Haryono lalu mulai menyadari kejanggalan pada sekoci daruratnya. Dia merasa sekoci darurat itu tidak menjauh dari Kapal Virgo dan mencurigai masih ada tali yang menghubungkan dua kapal itu.

"Setelah itu saya juga lihat ya ini posisi liferaft-nya ini kok enggak bisa menjauh dari kapal padahal gelombang gede. Saya punya pikiran ini pasti ada tali yang nyangkut di kapal," kata Haryono.

"Lalu saya bilang sama yang ada di liferaft itu, 'tolong yang tenaganya masih kuat, tolong tali yang ada di sekoci ini tolong dilepas karena ada tali yang nyangkut di kapal. Karena kalau tidak dilepas, kapal tenggelam kita ikut tenggelam'," imbuhnya.

Haryono harus mengulang-ulang perkataannya soal tali sekoci darurat karena tidak ada respons dari korban lain. Hingga akhirnya, ada satu penumpang yang turun dan melepas tali itu.

"Tapi waktu itu ya enggak ada yang merespons karena ya mungkin pertama kecapean, tenaga sudah habis, kedua karena panik ketakutan. Nah, saya ngomong itu sampai tiga kali, empat kali," ungkap Haryono.

"Kebetulan waktu itu ada satu orang yang mau memberanikan diri turun dari sekoci itu merembet-merembet untuk melepas tali. Nah, setelah tali dilepas dia naik," sambungnya.

Setelah tali pengait lepas, sekoci darurat itu langsung terlempar jauh dari Kapal Virgo karena ombak yang tinggi. Haryono memperkirakan sekoci yang dia naiki menjauh puluhan kilometer dari kapal tenggelam itu.

"Kita sudah enggak tahu sampai mana, tahu-tahu sudah dibawa ombak ke sana-sini, kita enggak tahu ke mana. Kemungkinan jaraknya dari kapal yang tenggelam ini hampir puluhan kilo," ujar Haryono.

Secercah harapan hidup dari sekoci yang ditumpangi Haryono kembali mencuat setelah rombongannya melihat ada kapal nelayan dari jarak yang jauh. Mereka lalu membunyikan peluit dan menyalakan lampu yang melekat pada pelampung masing-masing.

"Jam 10.00 WIB pagi baru ketemu kapal nelayan, itu pun jaraknya jauh. Akhirnya kita yang masih kuat membunyikan peluit sama lampu itu. Kebetulan nelayannya ini tanggap, dia lihat, langsung kita disamperin sama nelayan. Akhirnya kita dievakuasi sama nelayan," tutur Haryono.

Haryono menuturkan proses evakuasi dari sekoci berlangsung dramatis. Gelombang laut yang besar membuat mereka harus berhati-hati saat hendak pindah ke perahu nelayan.

Halaman 2 dari 2
(dil/alg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads