Balita dan Lansia Warga Rowobelang Batang Diduga Keracunan Makanan Posyandu

Balita dan Lansia Warga Rowobelang Batang Diduga Keracunan Makanan Posyandu

Robby Bernardi - detikJateng
Selasa, 22 Sep 2026 13:36 WIB
Warga diduga keracunan makanan tambahan Posyandu di Batang, Selasa (22/9/2026).
Warga diduga keracunan makanan tambahan Posyandu di Batang, Selasa (22/9/2026). Foto: Robby Bernardi/detikJateng
Batang -

Sebanyak 34 warga Desa Rowobelang, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, yang terdiri dari balita dan lansia diduga keracunan makanan tambahan (PMT) Posyandu Mawar di RT 1 dan RT 2 RW 2, Dukuh Rowosoko. Mereka mengalami sejumlah gejala, di antaranya mual, diare, mencret dan pusing sejak Senin (21/9) malam.

"Memang ada indikasi keracunan di Desa Rowobelang ini, tepatnya di Posyandu Mawar RT 1, RT 2, RW 2, Dukuh Rowosoko. Indikasi keracunan ketika pembagian PMT, baik itu Posyandu Lansia maupun Posyandu Balita," kata Camat Batang Luksono Pramudito, saat ditemui detikJateng di lokasi, Selasa (22/9/2026).

Luksono menambahkan, kejadian tersebut berlangsung setelah pelaksanaan Posyandu yang seharusnya digelar pada Senin pagi diundur menjadi sore hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, makanan PMT tersebut telah dimasak sejak pagi. Namun, karena pada pagi hari terdapat warga yang meninggal dunia, kegiatan Posyandu kemudian diundur pada sore hari.

"PMT itu sudah dimasak di pagi hari, kemudian di bagikan Sore. Tapi kita kurang tahu apakah kacang ijonya, apakah tahu bacemnya, apakah air tawarnya," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Gejala mulai dirasakan warga pada Senin (21/9) malam, sekitar pukul 21.00 WIB. Salah seorang warga bahkan mendatangi RSUD Kalisari Batang karena mengalami keluhan.

"Malamnya (warga mulai sakit). Posyandunya sore, menjelang sore. Nah itu malam sekitar jam 9, ada warga datang sendiri ke Kalisari karena saat itu belum tahu. Ternyata banyak dengan gejala yang sama," jelas Luksono.

Penanganan kemudian dilakukan secara bertahap. Sebagian warga dibawa ke IGD RSUD Kalisari Batang, sementara warga dengan gejala ringan mendapat penanganan di Musala Al-Ikhlas oleh petugas Puskesmas Batang III.

Luksono menyebut sebagian warga juga telah diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan. Namun, hingga Selasa (22/9), sejumlah warga masih dibawa ke rumah sakit secara bergiliran untuk mendapatkan penanganan medis.

"Sudah, ada sebagian. Jadi berangsur-angsur, rumah sakit bergiliran. Ada yang pulang, ini barusan tadi diangkut lagi ke rumah sakit," katanya.

Untuk memastikan penyebab kejadian tersebut, petugas telah mengambil sejumlah sampel makanan yang dibagikan dalam kegiatan Posyandu. Sampel tersebut kemudian dibawa ke Dinas Kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.

Luksono mengatakan, penanganan melibatkan sejumlah pihak, mulai dari kepolisian, pemerintah kecamatan dan desa, Dinas Kesehatan hingga pihak RSUD Kalisari.

Sementara itu, Kapolsek Batang, AKP Ghozali, di lokasi yang sama mengatakan, polisi langsung mendatangi lokasi setelah menerima laporan kejadian tersebut.

"Yang jelas yang pertama kita mendatangi TKP. Kemudian menolong korban. Pertama menolong korban dibawa ke rumah sakit, kemudian mengamankan barang bukti, terus diidentifikasi," ujar Ghozali.

Polisi juga melakukan pengecekan terhadap makanan yang diduga dikonsumsi para korban. Dari keterangan korban, salah satu makanan disebut memiliki rasa kecut.

Ghozali menambahkan, makanan tersebut sebelumnya memang disiapkan pada Senin (21/9) pagi. Namun, karena adanya warga yang meninggal dunia, pembagian PMT baru dilakukan pada sore hari.

Berdasarkan pendataan sementara kepolisian, terdapat sekitar 34 warga yang mengalami keluhan dan mendapatkan penanganan. Rentang usia korban juga cukup beragam, mulai dari balita hingga lansia.

"Usia yang paling muda 18 bulan, yang paling tua 68 tahun," kata Ghozali.

Adapun PMT tersebut merupakan program rutin desa yang bersumber dari Dana Desa. Makanan disiapkan dan dikelola oleh kader kesehatan desa untuk kemudian dibagikan kepada peserta Posyandu.

Salah satu warga yang anaknya ikut mengalami gejala adalah Eva Martini. Perempuan 37 tahun itu merupakan kader kesehatan sekaligus ibu dari korban.

Anaknya, Arsya, yang berusia tujuh tahun, mengalami sakit perut, lemas, demam, muntah, dan diare, pada Senin (21/9) malam, usai menyantap PMT.

Eva mengatakan, anaknya mengonsumsi bubur kacang hijau dalam kegiatan tersebut sekitar pukul 14.00 WIB. Namun, gejala tidak langsung muncul setelah makanan dikonsumsi.

"Baru malamnya. Sakit, muntah-muntah, mencret," ungkap Eva.

Awalnya, Eva mengira kondisi yang dialami anaknya merupakan sakit biasa. Ia belum mengetahui adanya dugaan keracunan yang juga dialami warga lainnya.

Setelah mendapat informasi mengenai kondisi sejumlah warga, Arsya kemudian dibawa untuk mendapatkan penanganan medis. Saat diwawancarai, Arsya masih menjalani perawatan.

Hingga kini, penyebab pasti munculnya gejala yang dialami puluhan warga tersebut masih dalam penyelidikan. Sampel makanan PMT telah diamankan dan dibawa oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Batang untuk diperiksa di laboratorium.

Hingga kini, penyebab pasti warga mengalami gejala yang diduga keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan.



(apl/afn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads