Sungai Juana atau dikenal dengan Silugonggo di Kabupaten Pati mengalami kekeringan sejak dua bulan belakangan ini. BPBD Kabupaten Pati pun mencatat ada 400 hektare sawah yang ditanami padi mengalami puso atau gagal panen.
"Sudah ada 400 hektare yang dinyatakan puso," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya, kepada wartawan ditemui di Kantor Bupati Pati, Jumat (18/9/2026).
Budi mengatakan kondisi keringnya Sungai Juana dua bulan belakangan ini dampaknya dirasakan oleh masyarakat. Terutama para petani yang tinggal di pinggir sungai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Budi, pemerintah mulai menggelontorkan air dari Waduk Kedung Ombo di Kabupaten Grobogan. Namun, air tersebar belum sampai ke Pati.
"Karena Sungai Silugonggo tidak mampu mencukupi kebutuhan air keperluan pertanian, maka sejak 15 September 2026 Kedung Ombo dibuka untuk aliran Sungai Silugonggo," jelas dia.
Lebih lanjut, Budi berujar luasan kekeringan di Pati mencapai 1.700 hektare lahan persawahan. Di antara jumlah tersebut, terdapat 400 hektare sawah petani yang dinyatakan puso atau gagal panen. Nilai kerugian masih dihitung oleh BPBD Pati.
"Sudah ada 400 hektare yang dinyatakan puso. Itu tersebar di wilayah Kecamatan Jaken dan Wedarijaksa. Sebaran kekeringan ini sudah mulai terasa dan dampaknya luas sekali," ungkap dia.
Menurutnya petani yang gagal panen terutama adalah tanaman padi. Rata-rata usia tanaman mereka sekitar 2-3 bulan.
"Padahal tinggal beberapa bulan panen," jelasnya.
Penampakan Sungai Juana dan sawah di Pati yang mengalami kekeringan, Jumat (18/9/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng |
Kondisi ini membuat sebagian petani merasa khawatir. Mereka bahkan rela membeli air tangki untuk mengaliri sawah agar tanaman padi tetap hidup.
Petani Desa Bungasrejo Kecamatan Jakenan, Suntono, mengatakan beberapa hari ini dia memilih membeli air tangki untuk mengaliri sawahanya. Ia rela merogoh kocek Rp 150 sampai Rp 200 ribu per tangki.
"Sawahnya kekeringan, bawa truk tangki ke sini, antisipasi biar padinya bisa panen, kalau nggak ada air bisa mati. Tahun sebelumnya air masih ada, kalau ini sudah tidak ada air sama sekali," jelasnya ditemui wartawan di sawahnya.
Dia mengaku sehari bisa mendapatkan satu sampai dua tangki. Jumlah tersebut digunakan untuk mengaliri empat petak sawahnya yang berada di pinggir Sungai Juana.
"Rp 150 sampai Rp 200 ribu per tangki," ungkap dia.
Senada diungkapkan oleh, petani lainnya, Sunarwi. Dia mengaku sehari ini mendatangkan dua tangki yang dibeli untuk mengaliri sawahnya. Ia khawatir jika tidak segera dialiri, maka tanaman padi miliknya akan mati.
"Kalau kurang air ini nggak panen saya, kalau beli tangki Rp 170, ini tadi beli 2 tangki ini. Karena mau panen, kalau nggak begini kita rugi, tanaman rusak," jelasnya.
Oleh karena itu, ia berharap agar ada perhatian dari pemerintah daerah. "Harapannya agar ada perhatian oleh pemerintah, setiap tahun ada kekeringan seperti ini, tapi ini yang paling parah," ujarnya.

