Pemerintah Kabupaten Pati menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan dari semula siaga darurat. Kondisi ini setelah, terdapat 40 desa di 10 kecamatan dan seribuan hektare lahan sawah mengalami kekeringan selama dua bulan belakangan ini.
"Status siaga darurat kekeringan menjadi tanggap darurat kekeringan karena sudah memenuhi syarat," jelas Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, saat ditemui di kompleks kantor Bupati Pati, Kamis (17/9/2026).
Chandra menjelaskan penetapan status tanggap darurat kekeringan ini sesuai dengan peraturan Bupati Pati nomor 36 tahun 2013. Dijelaskan apabila ada 1.200 lahan dan minimal 3 desa kekeringan maka pemerintah bisa menetapkan status tanggap darurat kekeringan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini terpantau 1.700 hektare lahan kekeringan. Ada 40 desa terdampak," jelasnya.
Chandra mengatakan penetapan status tanggap darurat bencana kekeringan dimulai pada Jumat (18/9) besok sampai teratasi. Dengan ditetapkan status ini, pemerintah menggunakan anggaran bantuan tak terduga senilai Rp 250 juta untuk penanganan bencana tahunan tersebut.
"Mulai besok, berlangsung sampai kekeringan selesai. Kita menggunakan bantuan tak terduga (BTT) anggaran Rp 250 juta," jelasnya.
Kesempatan yang sama, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pati, Budi Martinus mengatakan sebaran wilayah yang kekeringan ada di 10 kecamatan dengan 40 desa. Puluhan desa itu membutuhkan bantuan air bersih.
"Kekeringan paling parah berwarna hitam di Kecamatan Jakenan, kemudian juga ke arah merah Kecamatan Jaken dan Winong," jelas Budi ditemui di kantor Bupati Pati.
Dia menyebut bencana kekeringan ini berpotensi mengkibatkan kebakaran lahan. BPBD mencatat ada 45 kali kejadian kebakaran lahan di 38 desa.
"Sedangkan wilayah sudah terdampak kekeringan menjadi kebakaran lahan sudah 45 kali di wilayah 38 desa. Kurun waktu akhir Juli sampai dengan September 2026," jelas dia.
"Terakhir ada kebakaran di wilayah Jaken. Sebagian besar tanaman tebu, dan rumpun bambu yang terbakar," dia melanjutkan.
Lebih lanjut, BPBD menerjunkan 4 sampai 12 tangki setiap hari ke wilayah yang kekeringan.
"Untuk saat ini ada 4 tangki disiagakan. Kemudian dari 4 tangki 8 sampai 12 tangki per hari secara bergilir. Selain dari BPBD juga dari PMI, donasi dari masyarakat juga banyak," tutur dia.
