Geger 'Ritual Satanic' di Pekalongan, MUI Singgung Penistaan Agama

Geger 'Ritual Satanic' di Pekalongan, MUI Singgung Penistaan Agama

Ardian Dwi Kurnia - detikJateng
Senin, 14 Sep 2026 16:00 WIB
Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan,
Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan. (Foto: Dok. IG infobatang)
Semarang -

Karnaval untuk memeriahkan sunatan massal dan Maulid Nabi di Simbang Kulon, Pekalongan, menuai sorotan karena disebut ada unsur satanik. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah (Jateng) menilai penampilan semacam itu tidak pantas. MUI juga menyinggung soal dugaan penistaan agama.

"Kalau sampai ada kecaman itu berarti memang itu tidak pantas dilakukan," Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jateng, Ahmad Darodji saat dihubungi awak media, Senin (14/8/2026).

Darodji menyebut acara semacam itu tidak pantas ditampilkan di publik dalam nuansa Mauild Nabi Muhammad SAW. Ia juga menduga adanya unsur kesengajaan untuk mencoreng acara Maulid Nabi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Apalagi itu dikaitkan Maulid Nabi sehingga mungkin maksudnya baik, tapi jadinya jadi contoh yang tidak baik atau bahkan jangan-jangan ada di situ sengaja supaya agar orang itu memandang Maulid Nabi suatu yang tidak perlu dilakukan mungkin begitu," ujar Darodji.

ADVERTISEMENT

Darodji juga menyinggung adanya kemungkinan unsur penistaan agama dalam persoalan tersebut. Kendati demikian, ia berharap agar kejadian ini tidak sampai ke arah dugaan itu.

"Kalau sampai ada penistaan agama, itu tindak pidana itu. Mudah-mudahan tidak terjadi. Tetapi bisa jadi orang yang kemudian mengarah ke sana, 'ini penistaan', ini Nabi kok dicontohkannya begini. Itu bisa terjadi, mudah-mudahan tidak terjadi," kata Darodji.

Darodji juga menyebut penampilan semacam itu dapat menimbulkan perpecahan. Menurut dia, acara Maulid Nabi harus memberikan kesan yang baik bagi masyarakat.

"Jadi itu kan bisa orang mungkin timbul perpecahan, jangan-jangan maksudnya justru mau merendahkan Nabi dengan contoh yang disampaikan itu. Padahal kita kalau peringatan Nabi itu justru disampaikan beliau contoh yang terbaik. Jadi jangan justru terbalik, kesan orang jadi jelek, itu salah," ucap Darodji.

Menurut Darodji, perayaan Maulid Nabi dengan penampilan ala satanis tidak pernah diajarkan. Ia mencontohkan, semestinya Maulid Nabi diperingati dengan hal-hal yang baik seperti ceramah dan membaca selawat.

"Tidak pernah ya diajarkan kepada kita mengenai kelahiran seorang siapapun apalagi Nabi. Nabi contoh yang terbaik, diperingati dengan cara yang tidak wajar dan tidak pantas itu tidak benar gitu," urai Darodji.

"Umat di Indonesia ini memperingati Rasulullah itu dengan ceramah, dengan membaca selawat beliau, dan dijelaskan perilaku Rasulullah itu begini dan contohnya menjadi contoh kehidupan kita semuanya. Harusnya itu yang dilakukan," tuturnya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis. Cholil menyebut kegiatan itu bertentangan dengan semangat Maulid Nabi.

"Ini jelas berlawanan dengan semangat memperingati atau merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW," kata Cholil seperti dilansir dari laman resmi MUI, Senin (14/9).

Cholil mengatakan, memperingati Maulid Nabi seharusnya dengan cara mengikuti sunnah Rasulullah. Seperti halnya membaca selawat dan Al-Qur'an.

"Karnaval yang sifatnya mendidik tentu boleh, tetapi ketika itu menjadi animisme atau sesuatu yang menakutkan, tentu sangat bertentangan dengan haflah Maulid Nabi," tegasnya.

Dia menilai esensi spiritual Maulid Nabi hilang jika dirayakan dengan konsep karnaval satanik dan menyimpang. Menurutnya, karnaval tersebut mendistorsi peneladanan terhadap Rasulullah.

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah itu menjelaskan, penyembelihan hewan dengan cara tidak beradab itu menyimpang dan bertentangan dengan syariat Islam.

"Itu bukan ajaran Rasulullah," ujar Cholil.

Cholil meminta agar peringatan Maulid Nabi bisa terjaga kesuciannya. Dengan begitu, momen tersebut bisa membuat masyarakat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menguatkan persaudaraan.

"Jangan menyimpang," pesannya.

Sebagai informasi, karnaval bertajuk Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, itu digelar pada Kamis (10/9) malam. Pihak panitia dan peserta masing-masing meminta maaf karena bikin gaduh dan dikaitkan dengan ritual satanic.

Acara itu merupakan bagian dari khitanan massal ke-61 yang digelar PBNU Simbang Kulon. Pihak panitia mengaku tidak mengetahui detail penampilan para pesertanya.

"Kami dari panitia mohon maaf yang sebesar-besarnya atas khilaf atau kekurangan kami," kata perwakilan Panitia SKNC, Ziyad Azizi ditemui di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Senin (14/9).

Sementara itu, M Akhid dari Tim Simone atau Simbang Gang One juga menyampaikan permintaan maaf karena penampilan yang mereka bawakan di panggung. Tim Simone mengaku menyesal karena kurang memahami konteks maupun referensi yang digunakan dalam penampilan itu.

"Kami perwakilan dari Tim Simone minta maaf. Kami menyesal, kami kurang literasi. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas penampilan kami di depan panggung," ujar M Akhid.



(ams/dil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads