Bentrokan melibatkan massa dari dua perguruan silat yang terjadi di Desa Mranggen, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, jadi viral. Polisi menyebut keributan itu dipicu oleh insiden perusakan yang dialami warga salah satu perguruan silat.
"Iya, PN (Pagar Nusa) sama PSHT," kata Kapolres Sukoharjo, AKBP Anggaito Hadi Prabowo, saat dihubungi detikJateng, Senin (7/9/2026).
Insiden ini jadi viral di media sosial, salah satunya diunggah akun Instagram @infocegatansolo.fb. Dalam rekaman video, terdengar suara letusan kembang api. Juga ada kembang api yang meletus di tanah. Dalam potongan video yang lain, sejumlah pria tampak berlarian dengan membawa tongkat panjang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggaito mengungkapkan, bentrokan terjadi dini hari tadi sekitar pukul 00.30 WIB.
Ia menjelaskan, awalnya pada Sabtu (5/9) malam sampai Minggu (6/9) pagi, ada pengesahan dari PN di Kecamatan Bendosari yang diikuti massa cukup banyak.
Karena massa yang datang berjumlah banyak, kepolisian mengatur arus lalu lintas dan mengawal kepulangan massa ke tujuan mereka masing-masing.
Namun di saat bersamaan, terjadi dugaan peristiwa perusakan yang menimpa rumah warga Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto, oleh orang tak dikenal. Diketahui, rumah yang dirusak merupakan milik warga PSHT.
"Pada Minggu tanggal 6 September 2026 sekira pukul 04.26 WIB, bertempat di Dukuh Jengglong, Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto, telah terjadi dugaan tindak pidana perusakan dan penyerangan rumah milik MIFS (warga PSHT)," ucap Anggaito.
Pemilik rumah kemudian melaporkan dugaan perusakan rumah tersebut ke Polres Sukoharjo pada sore harinya. Kemudian pada malam harinya, sekira pukul 22.30 WIB, sejumlah warga PSHT mendatangi Mapolsek Polokarto untuk menanyakan soal laporan itu.
Dihubungi terpisah, Kapolsek Polokarto, AKP Sri Haryanto mengatakan saat itu ada sekitar 500 massa dari PSHT yang meminta keterangan dari kepolisian. Pihaknya menerima massa di Polsek Polokarto bersama sejumlah pejabat dari Polres Sukoharjo.
"Tadi malam PSHT keluar dengan analisa massa sebanyak 500-an orang, dan mereka meminta keterangan dari kepolisian. Langkah yang kita lakukan, kita terima di Polsek, dan juga hadir penjabat Polres yang memberikan keterangan. Langkah pemeriksaan tidak bisa serta merta, tapi tahap demi tahap sudah kita lakukan, di antaranya pemanggilan saksi, setelah itu olah TKP," kata Sri Haryanto.
Setelah itu, massa PSHT meninggalkan Polsek Polokarto. Pada Senin pukul 00.30 WIB, massa dari PSHT kemudian melintasi Desa Mranggen.
"Di Mranggen karena massa banyak, terjadi kontak lempar batu. Kita sudah lakukan langkah itu (pengawalan). Di Mranggen sudah kita tempatkan kekuatan, tapi karena massanya banyak. Kejadian keributan itu spontan saja," jelasnya.
Dijelaskan, hingga siang ini belum ada korban yang melaporkan atas kejadian tersebut. Pihak kepolisian juga melakukan langkah mitigasi dengan berbagai pihak untuk menjembatani kedua belah pihak yang bertikai.
"Sementara belum ada laporan (korban) dari masing-masing pihak, kita juga masih menunggu. Infonya ada (rumah yang rusak), tapi ini belum ada laporan resmi. Kita menunggu informasi dari Intel yang melakukan pendataan," pungkasnya.
(apu/dil)
