Terpopuler Sepekan

Banjir Bangkai Ikan Saat Sungai Juana Pati Mengering

Tim detikJateng - detikJateng
Minggu, 06 Sep 2026 11:35 WIB
Warga masih berburu ikan di Sungai Juana yang mengering, Kamis (3/8/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng
Solo -

Kawasan Bendung Karet Sungai Juana Pati, mengalami kekeringan dan menyisakan hamparan ikan sapu-sapu yang menumpuk di dasar kolam. Hal ini memicu kekhawatiran sekaligus berkah untuk warga.

Diketahui fungsi utama Bendung Karet Sungai Juana di Pati untuk mengatur distribusi air irigasi untuk ribuan hektare lahan persawahan. Bendung Karet ini sebagai penyekat antara air asin dan tawar di Sungai Juana.

detikJateng pertama kali melihat keringnya Bendung Karet ini pada Selasa (1/9). Nampak jutaan ikan sapu-sapu terdampar di tengah sungai yang mengering. Banyak ikan juga mati di sekitar lokasi.

Warga Juwana sendiri kaget dengan keringnya Bendung Karet. Warga menyebut ini pertama kalinya sungai mengering.

"Terus dulu waktu pembangunan saya ke sini banyak air, terus ternyata sekarang habis. Ini karena pengaruh musim kemarau panjang, biasanya nggak seperti ini, ini ada embung Karet untuk menyekat air asin dan tawar, tapi ini kemarin ekstrem jadi airnya susut," ungkap warga bernama Anton saat di lokasi.

Warga Berburu Ikan Sapu-sapu

Usai Sungai Juana mengering, warga pun memanfaatkannya untuk memburu ikan sapu-sapu yang terdampar di lokasi.

Salah satunya Saipul, yang mencoba mencari peruntungan. Ia bersama warga setempat memunguti ribuan ekor ikan sapu-sapu yang terdampar.

"Ini ambil ikan sapu-sapu, nanti mau dikirim ke pabrik, buat pelet atau tepung ikan," kata Saipul ditemui di lokasi, Rabu (2/9/2026).

Warga mengais ikan sapu-sapu di tengah Bendung Karet Sungai Juana yang asat, Rabu (2/9/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Saipul datang bersama 10 orang lain datang ke Bendung Karet. Mereka membawa kendaraan pikap dan boks yang digunakan mengangkut ikan sapu-sapu.

"Kita bagi rata semua. Ini ada 10 orang warga sini semua (warga Desa Bungasrejo)," jelasnya.

Dia mengatakan ikan sapu-sapu dijual dengan harga Rp 2.500 per kilogram. Saipul kali ini mendapatkan 1 ton yang akan dikirim ke pabrik. Rencananya ia bersama warga lain akan mengumpulkan ikan tersebut untuk dijual.

"Harganya Rp 2.500 per kilogram. Dapat 1 ton. Dari sini kita kirim ke TPI Juwana," jelas dia.

Muncul Masalah Bau

Banyaknya ikan terdampar juga memunculkan masalah. Terutama masalah bau akibat kematian massal ikan di sungai tersebut.

Ikan sapu-sapu yang mati massal mulai membusuk di bawah sengatan matahari dan menimbulkan bau bangkai yang menyengat di sepanjang alur sungai.

Kondisi seperti ini dikeluhkan oleh salah satu warga Desa Tondomulyo Kecamatan Jakenan, Ari. Sebagai petani, ia juga khawatir kekeringan berlanjut hingga sawahnya akan gagal panen.

"Terus ya bau menyengat kalau dekat menganggu setelah banyak ikan pada mati. Kalau ke permukiman warga nggak sampai," ungkap Ari saat ditemui di lokasi, Rabu (2/8/2026).

"Ini sudah seminggu kering, tapi surut itu sudah 1 bulan. Karena airnya habis untuk pengairan sawah petani," sambungnya.

Ari mengatakan petani di sekitar bendung pun khawatir akan gagal panen jika air tidak mengalir. "Ini petani sudah menanam khawatir akan gagal panen," ujarnya.

Warga mengais ikan sapu-sapu di tengah Bendung Karet Sungai Juana yang asat, Rabu (2/9/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Pakar Khawatirkan Ekosistem Sungai

Banyaknya ikan sapu-sapu yang terdampar saat Sungai Juana mengering mengungkap betapa invasifnya ikan sapu-sapu. Dewan Sumber Daya Air Jawa Tengah, Hendi Hendro, mengaku khawatir dengan fenomena ini.

Hendi yang juga Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Muria Rata ini mengatakan, ikan sapu-sapu merupakan ikan invasif. Ikan ini merupakan organisme pemakan ikan lain.

Kemampuan ikan invasif ini bertahan hidup di kondisi ekstrem dinilai menjadi bahaya. Menurutnya, perlu ada gerakan pemusnahan ikan sapu-sapu.

"Ikan sapu-sapu merupakan ikan invasif, organisme pemakan ikan lain, predator, cepat berkembang biak, tahan hidup di kondisi ekstrem, jika tidak dimusnahkan berbahaya," terang dia.

Hendi yang merupakan pensiunan dosen Universitas Muria Kudus ini mengaku khawatir ikan sapu-sapu ini jika dibiarkan akan mengancam dan merusak Bendung Karet Sungai Juana.

"Dampaknya buat bendungan karet, dapat merusak bangunan fondasi, membuat lubang atau ngerong untuk sarang di tepi tanggul menyebabkan tanah jugruk bisa menyebabkan longsor, di samping karena predator dan invasif ikan sapu-sapu dapat merusak ekosistem perairan," ungkap dia.

Oleh karena itu, Hendi berharap agar ikan sapu-sapu tersebut segera dibersihkan.

"Mumpung airnya kering perlu adanya gerakan pembasmi ikan sapu-sapu," pungkasnya.

Dinas Perikanan Pati Bakal Pantau

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pati, Hadi Santosa, mengatakan keberadaan ikan sapu-sapu di Sungai Juana memang menjadi sorotan para nelayan. Sebab populasi ikan invasif ini mengalami peningkatan sejak awal tahun 2026.

"Sebenarnya sejak awal tahun 2026 ini populasi ikan sapu-sapu meningkat tajam di Sungai Juana, dan ini mengganggu populasi ikan yang lain. Sehingga para nelayan mengeluh karena terlalu banyak ikan sapu-sapu yang sifatnya invasif memakan ikan lain," kata Hadi saat ditemui wartawan di kantornya, Jumat (4/9/2026).

Terkait dengan potensi bahaya ikan sapu-sapu terhadap ekosistem, Hadi mengatakan ikan itu akan mati sendiri setelah sungai mengering.

"Kalau sudah mati ya sudah, kalau kering nanti mati sendiri," ujar dia.

Hadi menambahkan, pihaknya akan memantau perkembangan populasi ikan sapu-sapu ini di Sungai Juana.

"Ikan ini alami, mudah adaptasi dengan lingkungan apapun, sehingga bisa hidup di Sungai Juana. Ke depan akan kita pantau, kalau ikan sapu-sapu sudah mati semoga ke depan tidak ada lagi ikan sapu-sapu," kata dia.



Simak Video "Video Pramono: Ikan Sapu-sapu Dominasi Perairan Jakarta, Populasi Sudah 60%"

(afn/afn)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork