Bendung Karet Sungai Juana yang terletak di Desa Bungasrejo Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati mengalami kekeringan hingga menyebabkan ribuan ikan terdampar dan mati. Bau bangkai ikan jenis sapu-sapu ini pun mulai mengancam warga yang ada di sekitar lokasi.
Surutnya air Bendung Karet Sungai Juana sudah berlangsung selama sebulan terakhir hingga benar-benar mengering dalam sepekan ini akibat terkuras untuk pengairan sawah. Mengeringnya sungai ini menyisakan ancaman baru yang menyengat hidung warga sekitar.
Fenomena surutnya air sungai berujung pada kematian massal ekosistem air. Terutama populasi ikan sapu-sapu yang tak mampu bertahan. Ikan sapu-sapu yang mati massal mulai membusuk di bawah sengatan matahari dan menimbulkan bau bangkai yang menyengat di sepanjang alur sungai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi seperti ini dikeluhkan oleh salah satu warga Desa Tondomulyo Kecamatan Jakenan, Ari. Ia sengaja pergi ke kawasan bendung karet karena penasaran kondisinya terus mengering selama musim kemarau ini.
"Ini sudah seminggu kering, tapi surut itu sudah 1 bulan. Karena airnya habis untuk pengairan sawah petani," jelas Ari ditemui di lokasi, Rabu (2/8/2026).
Penampakan Bendung Karet Sungai Juana di Bungasrejo Kecamatan Jakenan, Pati, yang asat hingga bikin banyak ikan terdampar, Selasa (1/9/2026) Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng |
Ari mengatakan petani di sekitar bendung pun khawatir akan gagal panen jika air tidak mengalir. "Ini petani sudah menanam khawatir akan gagal panen," ujarnya.
Tidak hanya ancaman gagal panen, Ari juga khawatir dengan bau bangkai dari ikan yang mati. Menurutnya ada ribuan ikan jenis sapu-sapu yang terdampar akhirnya mati. Bau menyengat hingga ribuan lalat mulai membuat resah warga saat datang ke Bendung Karet Sungai Juana.
"Terus ya bau menyengat kalau dekat menganggu setelah banyak ikan pada mati. Kalau ke permukiman warga nggak sampai," ungkap dia.
Banyaknya ikan ini dimanfaatkan warga sekitar untuk mencari tambahan pendapatan. Saipul bersama 10 warga Desa Bungasrejo mengambil ikan sapu-sapu yang terdampar lalu dijual.
Ia datang membawa pikap dan bok kotak untuk mengambil ikan. Setelah itu ikan itu disetorkan ke pabrik. Kata dia harga jualnya Rp 2.500 per kilogram.
"Harganya Rp 2.500 per kilogram, dapat 1 ton. Dari sini kita kirim ke TPI Juwana," kata Saipul ditemui di lokasi.
Rencananya Saipul bersama warga lainnya akan mengambil ikan di dasar Bendung Karet yang mengering. "Rencana mau diambil untuk disetorkan ke pabrik," ungkapnya.

