Seorang penyintas Perang Dunia (PD) II Inge Dumpel (84) berbagi kisahnya selama menjadi bocah yang menyebabkannya trauma hingga terbawa sampai sekarang. Kondisi perang saat itu membuatnya terbiasa berpindah-pindah tempat tinggal agar selamat.
Hal itu diceritakan Inge saat berkunjung ke Ereveld Kalibanteng di Kecamatan Semarang Barat pada Rabu (2/9). Dia datang bersama warga lokal yang hendak belajar sejarah bertajuk Untold Stories of World War II: History Has No Voice, But Stories Remain.
Inge yang saat itu berbalut baju border putih dan jarik batik tampak tak melewatkan satupun pemaparan yang disampaikan oleh Direktur Yayasan Makam Kehormatan Belanda (Oorlogsgravenstichting/OGS), Eveline de Vink.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diketahui, Ereveld Kalibanteng merupakan makam ribuan korban perang mulai dari anak kecil hingga wanita. Kebanyakan merupakan korban pendudukan Jepang di Indonesia saat PD II.
Sosok Inge merupakan bagian dari sejarah PD II. Dia lahir pada 1941 di Surabaya, sekitar setahun sebelum Jepang mengokupasi Indonesia. Dia kemudian tinggal di Eropa setelah sempat pindah-pindah kota di Indonesia.
"Perasaan sedih, sedih sebab kalau saya berdiri di sana (Ereveld Kalibanteng), saya tahu bahwa sampai hari ini selalu masih ada perang. Jadi Perang Dunia II berakhir, tetapi masih berjalan (terjadi perang) terus di negara lain sampai sekarang," ungkap Inge lirih ditemui di lokasi.
Nenek yang saat ini tinggal di Eropa selama 60 tahun itu tidak pernah tinggal di Kamp Interniran. Ibunya yang masih memiliki darah Indonesia memilih untuk hidup di luar kamp.
"Saya tidak masuk kamp konsentrasi seperti orang Belanda. Sebab mama orang Indo," ungkapnya.
Namun, kejamnya perang tak mengenal tempat dan siapa. Ibunya dan wanita-wanita lain berpikir bahwa hidup di luar kamp lebih aman, nyatanya tidak.
"Ternyata di luar kamp memang juga bahaya. Sebab, semua laki-laki bisa masuk keluar. Tidak ada laki-laki untuk membela itu perempuan dengan anak-anak," ucapnya.
Tidak ada sosok ayah semasa Inge balita. Inge kecil pun tidak merasakan suasana aman.
Perasaan tidak aman masih begitu dia rasakan hingga kini. Untuk duduk, Inge terkadang butuh tembok sebagai 'tamengnya'.
"Kalau duduk, saya terkadang butuh ada tembok. Duduk seperti ini (di ruangan terbuka) sangat susah dulu. Jadi untuk anak generasi saya perasaan tidak aman selalu ada," katanya.
Berpindah-pindah Tempat Tinggal
Semasa kecilnya, Inge dan keluarganya selalu berpindah tempat tinggal lantaran tidak bermukim di kamp konsentrasi. Dia menyebut dirinya berpindah hingga 19 kali.
"Dan generasi saya juga seringkali susah untuk tinggal di satu tempat. Selalu ada perasaan mau pergi lagi. I want to move (saya ingin pindah)," ucapnya.
"Saya berpindah-pindah sampai 19 kali dari Surabaya, Malang, Lawang," lanjutnya.
Tinggal di kamp tidaklah gratis, satu keluarga ditarif 80 Gulden. Sementara kaum wanita dilarang untuk menarik uang.
Menurut Inge, prajurit Jepang bakal menyeleksi siapa yang bisa tinggal di kamp. Silsilah bakal dilacak.
"Sebagai orang Indo, Jepang selalu pikir mereka lihat tidak your race (ras), tetapi warna kulit. Wanita sudah tidak ada uang, harus bayar 80 Gulden untuk satu kartu keluarga istilahnya," bebernya.
Dengan begitu, para wanita tinggal satu rumah hingga empat keluarga. Mereka saling membantu untuk mendapatkan uang demi menyambung hidup.
"Jadi banyak wanita yang tinggal satu rumah. Itu lebih aman," kisahnya.
"Ada empat wanita dewasa dan anaknya dan semua ongkos bisa dibagi. Yang satu bikin kue, yang satu jahit baju atau apa supaya ada sedikit uang untuk hidup," lanjutnya.
Inge dan keluarganya harus berpindah-pindah rumah dengan menjual apa saja. Baju hingga sprei pun didagangkan.
"Jadi hanya ada koper-koper dimasukkan saja. Ya sprei, barangkali sebab sprei waktu itu dianggap sebagai kalau tidak ada makanan itu ditukar di luar dengan makanan," terangnya.
Ingatan dan trauma itu begitu mengerak baik di ingatan maupun batin Inge.
"Perasaan sampai sekarang apakah rasa harus pindah, trauma, itu masih ada. Dan mungkin bagi Ibu sendiri bagaimana cara untuk anak penting rasa aman. Tetapi kalau selalu pindah rumah dalam keadaan begitu tahu bahwa mama selalu takut, tante selalu takut," tuturnya.
"Kenapa takut? Ada Jepang, kenapa Jepang? You are like (seperti) perasaan itu pindah berarti jangan sampai terbiasa di sini, tahu-tahu besok atau lusa harus pindah lagi," sambungnya.
Bahkan kebiasaan pindah menjadi 'sistem' bagi Inge. Selama 60 tahun di Eropa, dia sudah berpindah rumah selama 22 kali.
"Waktu saya pindah ke Eropa, saya tinggal di sana sudah sudah 60 tahun, tapi saya pindah rumah 22 kali. Itu adalah sistem saya," katanya.
"Dan generasi saya, tidak semua, tetapi ada juga yang 'you cannot draw a touch to the ground' (tidak bisa menetap di satu tempat). Mau, tetapi tidak bisa. Karena trauma membekas," imbuhnya.
Pertama Kali Bertemu Ayah Dikira Meneer
Inge baru bertemu ayahnya pada 1946, usai Indonesia merdeka. Dia mengira ayahnya adalah serdadu Jepang. Sebab, pria dewasa yang ditemuinya selama balita merupakan orang Indonesia atau Jepang.
"Waktu itu saya umur lima tahun, tahun 1946 baru ketemu Papa. Tetapi untuk saya, Papa orang Jepang. Saya hanya kenal orang laki-laki dewasa yaitu orang Jepang atau orang Indonesia," kisah Inge.
Wanita yang juga pernah menjadi jurnalis itu mengatakan saat itu ibunya bilang bahwa pria itu merupakan ayahnya. Lantas, Inge menyapa papanya.
"Jadi Mama bilang 'ini Papamu'. Saya dan kakak bilang 'Meneer' (tuan). Mama (kembali) bilang 'ini Papamu'. Jadi kita bilang 'Papa Meneer'," ceritanya.
Inge mengatakan, seluruh suami dipisahkan dari istri selama perang. Mereka tak paham kemana perginya.
Inge hanya paham bahwa ayahnya kerja. Seiring waktu, dia mengetahui para lelaki dewasa dikirim ke berbagai penjuru negeri.
"Papa, kalau famili kakaknya dan adiknya Papa dibawa ke Burma. Mereka meninggal di sana. Papa dibawa ke Singapura, ada Pulau Damar di sebelah barat," sebutnya.
