Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menghadiri acara silaturahmi bersama keluarga besar Garda Satya NKRI di Edutorium UMS. Dalam pertemuan yang penuh keakraban tersebut, Sigit menyebut kehadirannya bukan sekadar kunjungan kerja biasa, melainkan sebuah ajang reuni keluarga.
Diketahui Garda Satya NKRI merupakan wadah bagi para mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI) yang telah menyatakan ikrar setia kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Tentunya saya sangat bahagia bisa hadir di acara hari ini. Di mana untuk saya, ini adalah acara reuni keluarga," ujar Jenderal Sigit dalam sambutannya, Minggu (30/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dirinya mengenang kembali perjalanan panjang proses kembalinya para anggota JI ke pangkuan Ibu Pertiwi. Sigit menyebut bahwa kedatangannya sebagai reuni dan temu kangen.
"Dua tahun lalu, kalau tidak salah, dilaksanakan ikrar untuk para pejuang Jemaah Islamiyah kembali berbaiat ke NKRI. Dan hari ini kita melaksanakan temu kangen, reuni, untuk merayakan kegiatan yang telah kita laksanakan tersebut," tuturnya.
Dirinya juga bangga melihat hobi baru dari para mantan pejuang JI yang kini disalurkan untuk kepentingan sosial dan membantu masyarakat yang tertimpa musibah.
"Saya mendengar ada hobi baru dari teman-teman; hobinya menjadi relawan untuk menyalurkan energi yang berlebih. Ini hal yang sangat positif," ucapnya.
Bahkan, Sigit secara khusus memuji militansi anggota Garda Satya NKRI yang dianggap setara dengan pasukan khusus kepolisian dalam hal dedikasi di lapangan. Ia berseloroh bahwa ke depannya, peran mereka dalam penanggulangan bencana mungkin akan sangat dominan.
"Jangan sampai nanti saya malah mengirim tugas untuk menghadapi bencana lebih banyak ke teman-teman Garda Satya daripada anggota Brimob, karena sama-sama militan. Kolaborasi di lapangan ini sangat baik karena negara kita ini nomor dua yang paling banyak terjadi bencana di dunia," imbuhnya yang disambut tepuk tangan hadirin.
Dalam sambutannya, Kapolri menekankan bahwa perubahan besar ini tidak lepas dari pola pendekatan baru yang diterapkan oleh Densus 88 Antiteror Polri Menurutnya, alih-alih menggunakan pendekatan hukum yang destruktif atau hard approach, Polri kini lebih mengedepankan pendekatan kemanusiaan.
"Densus kali ini menggunakan pola pendekatan yang tidak biasa. Yang tadinya memukul, sekarang malah dirangkul. Yang tadinya dianggap musuh, sekarang dianggap sebagai kawan atau sahabat," jelas Sigit.
Ia mengibaratkan pendekatan ini dengan falsafah Jawa, di mana merangkul dan menghargai jauh lebih efektif untuk melunakkan hati daripada kekerasan.
"Kalau 'dipentung' (dipukul) malah semakin berani, tapi kalau 'dipangku' (dirangkul), maka akan melunak," tegasnya.
Selain mendukung peran sebagai relawan, Sigit juga menawarkan dukungan bagi anggota Garda Satya NKRI yang ingin mandiri secara ekonomi. Polri menyatakan siap memfasilitasi koordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga untuk pengembangan kompetensi kewirausahaan.
"Tadi kita sempat berdiskusi bahwa beliau-beliau memiliki keinginan kuat untuk kemudian bisa mengaktualisasikan apa yang beliau miliki di bidang-bidang yang saat ini sudah ditekuni, baik di kewirausahaan, di ekonomi, di bidang dakwah, bahkan keterpanggilan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan kemanusiaan seperti bencana ataupun hal-hal lain," terangnya.
Sigit menegaskan bahwa semua pihak kini adalah keluarga besar yang terikat dalam semangat persaudaraan. Ia mengajak seluruh anggota Garda Satya NKRI untuk memegang teguh semboyan "Sak Duluran Sak Lawase".
"Kita ini semua adalah keluarga besar, kita sudah menjadi saudara. Manakala negara memanggil untuk penugasan, kita harus siap. Mari kita jaga seluruh ikatan yang ada, kita guyub rukun dan terus menjaga persatuan," pungkasnya.
