Aksi mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) ditemui oleh perwakilan DPRD Jawa Tengah (Jateng). Namun, mahasiswa menyebut apa yang dikatakan perwakilan DPRD Jateng hanyalah lip service atau janji manis saja.
Pantauan detikJateng, perwakilan DPRD Jateng yang menemui massa mahasiswa yakni Abdullah Aminuddin, anggota komisi B fraksi PKB sekitar pukul 17.50 WIB. Ia duduk di tengah mahasiswa dan memperkenalkan diri sebagai wakil rakyat.
"Jadi saya anggota DPRD, wakil semua yang ada di sini," kata Abdullah di halaman Pemprov Jateng, Senin (24/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kesempatan itu, mahasiswa menyoroti program-program pemerintah yang dinilai terlalu banyak menyedot anggaran pemerintah, salah satunya Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Ia menilai program itu berpotensi membebani pemerintah.
"Perjanjiannya itu Rp 1,2 miliar padahal realisasinya hanya Rp 700 juta. Bagaimana sebagai DPRD menanggapi terkait dengan hal itu yang justru banyak mencekik dana desa hari ini?," tanya Ketua BEM Undip, Maajid.
Abdullah menjawab bahwa saat ini program itu masih berproses. KDPM disebut menjadi bentuk ikhtiar pemerintah dalam membangun perekonomian di Indonesia dan setiap kebijakan pemerintah harus dijalankan sesuai aturan.
"Semua harus dilakukan dengan normatif. Tidak ada yang tidak normatif. Kalau tidak normatif berarti ilegal," ucapnya.
Mengingat Abdullah berada di komisi yang membidangi sektor pertanian, mahasiswa pun menyinggung persoalan dua petani Jepara, Trisminah dan Rofii, yang disebut mengalami kriminalisasi dalam konflik dengan perusahaan swasta. Abdullah mengaku belum mengetahui persoalan tersebut secara detail.
"Saya belum dengar (kasus itu). Saya ini kan opo anane (apa adanya). Kalau memang nggak tahu ya akan saya bilang, daripada saya jawab salah. Tenang aja, kasih tahu aja, tidak semua harus tahu," kata Abdullah.
Dialog itu sempat tegang saat mahasiswa protes terhadap Abdullah yang tak mengetahui persoalan di tengah masyarakat. Menurutnya, DPRD sebagai wakil rakyat harus berpihak kepada rakyat.
"Namanya perwakilan rakyat, maka dicari informasinya. Dibela rakyatnya. Ini kita aja mahasiswa yang ngasih tahu perwakilan DPR lah ya. Dua petani itu berkonflik dengan PT Swasta," jelas Maajid kepada Abdullah.
Maajid lantas menjelaskan duduk perkara hang dialami Trisminah dan Rofii. Namun di tengah penjelasan yang belum selesai, Abdullah tampak memotong pembicaraan dengan berkata 'cukup'.
"Wah, masa memotong pembicaraan, gimana ini? Dengarkan dulu ya, Pak. Berdasarkan asas keperpihakan, pertama cari tahu dulu informasinya apa biar tahu. Kedua, kalau salah maka dibela agar hukumannya seringan mungkin," desaknya.
Dialog kemudian memanas ketika mahasiswa mempertanyakan komitmen DPRD Jateng terhadap tuntutan mereka. Mahasiswa meminta Abdullah ikut membacakan pernyataan sikap yang mereka bawa dalam aksi.
"Ini kami membawakan beberapa tuntutan. Kami akan membacakan pernyataan sikap. Sebagai wakil rakyat, seharusnya mengayomi rakyat. Beranikah Bapak bersama-sama dengan kami membacakan pernyataan sikap?," tanya Maajid
Awalnya Abdullah menjawab dirinya berani ikut membawa pernyataan sikap. Namun saat mahasiswa meminta Abdullah membacakan seluruh tuntutan bersama-sama di hadapan massa, Abdullah mengatakan dirinya akan membersamai mahasiswa dalam pembacaan tersebut.
"Yang baca jenengan, saya menyaksikan. Gini-gini, silakan dibaca, dibuat petisinya, nanti akan saya terima," ucapnya.
"Jadi begini. Justru saya duduk ning kene ngglesot ambek awakmu kabeh iki (saya duduk di sini bersama kalian) dalam rangkanya mendengar, bagian dari fungsi yang harus saya lakukan," ucapnya.
Pernyataan tersebut kemudian memicu respons keras dari mahasiswa. Mereka menilai Abdullah sebelumnya telah menyatakan bersedia membacakan tuntutan, tetapi kemudian berubah sikap.
"Bapak ini kelihatan inkonsisten. Tadi sudah menyepakati mau membacakan, saksi di sini banyak. Terus kalau Bapak bilang mau menyampaikan ke atas, apa yang bisa kita percaya? Dari sini saja Bapak sudah bohong," desak Maajid.
Mahasiswa kemudian menyebut sikap Abdullah sebagai lip service dan meminta Abdullah untuk kembali ke Kantor DPRD Jateng, karena tak puas dengan jawaban Abdullah.
"Silakan Bapak kembali saja, kami tidak mau mendengar kepala daerah yang hanya lip servics. Sekali lagi Bapak hanya lip service, Bapak tidak memberikan solusi apapun, silakan Bapak kembali," pinta mahasiswa.
Seruan 'lip service' tersebut kemudian beberapa kali diteriakkan mahasiswa kepada Abdullah yang langsung kembali ke dalam gedung Pemprov Jateng. Mahasiswa pun akhirnya baru membubarkan diri sekitar pukul 18.20 WIB.
