Massa mahasiswa dari Solo Raya melakukan aksi di simpang tiga Tugu Kartasura, Sukoharjo. Setelah menyampaikan aspirasinya massa membubarkan diri dengan damai.
Dari pantauan detikJateng, mahasiswa tiba di Tugu Kartasura sekira pukul 16.53 WIB. Selanjutnya mahasiswa langsung memblokade akses sisi timur dan membuat lingkaran besar. Adanya aksi tersebut membuat akses dari barat menuju selatan terpaksa harus ditutup dan memutar.
Perwakilan kampus menyuarakan aspirasi mereka satu per satu di lokasi aksi. Mereka juga membawa sejumlah spanduk yang dibentangkan dengan tulisan "MENOLAK LUPA, MERAWAT INGAT", "MERDEKA APANYA? LANTANG BERSUARA KOK KENA PIDANA".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aksi yang berlangsung selama 1 jam itu berlangsung damai dan ditutup dengan doa sebelum membubarkan diri.
Koordinator Aliansi BEM Solo Raya, Dimas Muhammad Fajar, mengatakan bahwa aksi ini merupakan refleksi dari momentum kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia. Menurutnya, hingga saat ini negara belum mencapai cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya bagi rakyat.
"Hari ini kami menyatakan sikap melihat ketidakadilan yang berjalan pada pemerintahan saat ini. Pemerintahan saat ini sangat luar biasa bobroknya. Di Jawa Tengah saja sudah ada lima kabupaten yang terkena OTT (Operasi Tangkap Tangan)," ujar Dimas di sela-sela aksi di Tugu Kartasura, Senin (24/8/2026).
Dimas mengatakan ada beberapa poin utama yang menjadi tuntutan massa mahasiswa. Mereka mendesak pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai langkah konkret pemberantasan korupsi. Selain itu, mereka menyoroti implementasi Proyek Strategis Nasional (PSN).
"Kami menuntut evaluasi program PSN, khususnya MBG dan Kopdes yang dirasa masih jauh dari masyarakat. Jika perlu, dihentikan karena kesejahteraan masyarakat hari ini masih kurang," tegas mahasiswa asal Universitas Slamet Riyadi (Unisri) itu.
Baca juga: Mahasiswa Unsoed Demo di Gedung Rektorat |
Selain masalah hukum dan infrastruktur, BEM Solo Raya juga mendesak pemerintah untuk memprioritaskan sektor pendidikan dan kesehatan, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
"Pendidikan harus jadi poin pertama sesuai amanat UUD 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kami mendesak infrastruktur pendidikan dan kesehatan diratakan sampai ke daerah 3T," lanjutnya.
Dimas juga menyinggung soal kenaikan harga BBM. Ia menyoroti kenaikan harga BBM yang berdampak langsung pada melambungnya harga bahan pokok.
"Masyarakat saat ini sangat tertindas. Masalah BBM naik, Pertalite masih sangat dibutuhkan tapi sulit, menyebabkan harga bahan pokok naik. Kami ingin Indonesia benar-benar merdeka, bukan hanya upacara atau seremonial, tapi benar-benar dirasakan masyarakatnya," jelas Dimas.
Menurutnya, aksi ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai kampus di wilayah Solo Raya, di antaranya UNS, UMS, Unisri, Univet, Polinus, ISI, hingga UTP. Aliansi BEM Solo Raya mengancam akan terus melakukan aksi dan mendesak pemerintah jika tuntutan serta keresahan masyarakat ini tidak segera ditindaklanjuti.
"Kalau memang hari ini belum bisa tercapai, kami akan terus mendesak apa yang menjadi tuntutan dan keresahan masyarakat bersama," pungkasnya.
